Rabu, 26 Desember 2018

Hibernasi, Caraku Berdamai dengan Diri Sendiri



Saat orang-orang memilih liburan ke tempat-tempat seru, akhir tahun ini aku memilih ambil cuti dengan alasan “hibernasi”. Kalau suka nonton Spongebob pasti familiar deh dengan istilah ini Hibernasi merupakan kondisi tidak aktif atau rehat yah intinya keadaan istirahat deh, biasanya dilakukan oleh hewan-hewan di musim dingin seperti beruang. Well aku bukan beruang, aku memilih hibernasi karena aku merasa tubuhku butuh istirahat, butuh rehat dari hal-hal yang membuat kepalaku tegang dan hubunganku dengan diri sendiri renggang.
Cerita bermula dari sini…..

2018 in a nutshell

Tahun 2018 bisa dibilang tahun yang paling chaos dalam sejarah perjalanan hidupku. Mengawali tahun dengan asam lambung, 6 bulan pertama di tahun 2018 aku cukup struggling karena sering banget perut nyeri tengah malem. Selain itu, tahun ini jadi masa patah hati panjang buatku, sialnya pas lagi sedih-sedihnya karena galau, asam lambung kumat hampir tiap hari, jadi sakitnya dobel dari sakit hati sampe ke ulu hati.

2018 kerasa cepat banget, semua serba 'waz-wez-waz-wez', tahu-tahu ada ini, eh tahu-tahu ada itu, baru mikir itu udah ada anu, semuanya jadi kerasa berantakan (kalimat ini juga strukturnya berantakan). Ke luar kota yang dulu asik, kini jadi hal yang ingin kuhindari dan ingin rasanya bilang “aku boleh di Jogja aja nggak sih?”.

Aku jadi banyak ngeluh, menyalahkan keadaan, dan seringnya menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendirinya bukan dalam bentuk positif untuk introspeksi melainkan jadi blaming and hating myself dan bikin mental breakdown.

Merasa nggak cocok dengan kerjaan, merasa diri ini nggak ada kemampuan, merasa stress sendirian sampe merasa Tuhan nggak sayang. Beberapa bulan terakhir aku jadi lebih emosional, gampang terpancing hal-hal nggak penting, dan pelan-pelan aku mulai menjauh dari society. Ada beberapa orang yang sensitif berpikir kalau aku marah, benci dan menjauhinya, padahal aku membuat jarak hampir ke semua orang. Jadi kalau ada yang berpikir aku ada masalah sama si A si B si Z itu salah besar. It’s totally not personal issue between me and someone else, but me and myself.

Di titik itu aku paham bahwa aku sedang menghadapi yang namanya “Quarter Life Crisis”. Buat yang gak tau, jadi quarter life crisis itu sindrom yang dialami orang-orang usia around 25 tahun, yang ditandai dengan kehilangan motivasi, merasa gagal, galau berlebihan, dan menarik diri dari pergaulan. Btw, bulan Oktober kemarin aku 25 tahun, so quarter life crisis is real.

Seolah bisa membaca pikiranku yang saat itu lagi kacau-kacaunya, tiba-tiba seorang teman ngirimin video ngaji filsafat (ngirim jam 3 pagi pula) yang judulnya ‘Sendiri’ dan dia bilang “sesekali menjauhlah dari keramaian, biar bisa merenung”  

Singkat cerita, sejak itulah aku berniat rehat sejenak dari segala aktivitas untuk merenung, tentunya setelah semua tanggung jawab di tahun ini selesai.

When an extrovert decided to hibernate

Sebagai seorang ESFP, berdiam diri sendirian tuh sejujurnya membingungkan. Hari pertama aku malah lemes seharian, yah orang extrovert kan recharge energinya kalau ketemu orang di tengah keramaian. Kira-kira begini aktifitasku; tidur- bangun siang- ketiduran- nonton YouTube- ketiduran-buka instagram- ketiduran. What a life!

Tetiba aku kangen Hartono Mall, Ruang Kerja, Hipwee, serta karaoke dan gibah bersama sobat dan kerabat. Antiklimaks dong kalau hari pertama aja aku menyerah, jadi kapan merenungnya?!!

Seolah Tuhan tidak mengehendaki aku untuk menyerah dari hibernasi, akupun sakit mata, --gede banget berbintil-- jadilah aku benar-benar sendirian karena malu kalo ketemu orang.

Aku mulai merenung dan berpikir untuk mencintai diriku. Sejujurnya mencintai diri sendiri itu konsep yang menurutku abstrak, aku merasa gak cukup puas hanya dengar kalimat motivasi "love yourself first", yo piye carane lek? Aku butuh cara yang konkret dan aplikatif.  Setelah baca-baca artikel dan nonton YouTube @gitasav akhirnya aku paham, hal sederhana untuk mencintai diri sendiri adalah dengan mengenali diri. Konkretnya kenali kelebihan dan kekuranganmu. Hal yang jadi kelebihan dikembangkan, yang jadi kekurangan diperbaiki, kalau nggak bisa perbaiki disyukuri apapun kekurangan itu.  

Baiklah.

Hal pertama yang aku lakukan adalah ke apotek beli obat mata, yakali mata berbintil didemin gitu aja wkwk. Terus ke dokter kulit karena aku mulai ngerasa nggak pede sama bruntusan di mukaku yang nggak sembuh-sembuh. Menutup tahun dengan saying bye-bye to all of my Korean skincare yang ternyata membuat kulitku bermasalah parah. Demi #2019LebihGlowing dan #2019MenujuNanaMirdad.

Aku kembali (berniat) memulai hidup sehat. Belanja sayur-sayuran buat persediaan selama hibernasi, karena kata dokter kulitku bermasalah karena faktor makanan sembarangan dan mataku katanya ada gumpalan lemak jadi harus perbanyak sayur dan buah. Baiklah demi  #2019LebihSehat dan tetap #2019MenujuNanaMirdad. 

Walaupun namanya hibernasi tapi aku mencoba tetap produktif. Aku menghabiskan hari dengan nyuci baju, masak, nyuci piring, dan beresan kamar yang tadinya kayak kapal pecah diterjang tsunami. Aku stop posting instagram story untuk sementara waktu, entahlah apa pengaruhnya tapi menurutku aku butuh detoks dari hal-hal yang sebenarnya kurang penting. Sederhana memang, tapi entah kenapa beberapa hari ini aku jadi banyak bersyukur dan beban perlahan berkurang.

Dan… akhirnya memutuskan untuk nulis blog lagi setelah sekian lama. Bagiku menulis adalah cara terbaik untuk memikirkan diriku, merenungkan hidupku, dan mengekspresikan apa-apa yang ada di kepalaku, yang mungkin aku gak bisa ceritakan ke orang-orang secara langsung. Senang bisa kembali menulis. 

Masih ada beberapa hari untuk hibernasi, sebelum tahun baru datang lengkap dengan cerita-cerita baru. Aku berdoa semoga hari-hari ini bisa jadi awal yang baik untuk berdamai dengan diri sendiri. Atas apa-apa yang dipersiapkan Tuhan untukku tahun depan semoga aku bisa lebih bersyukur.

Sebagai penutup, terima kasih untuk semua orang yang menemaniku di tahun 2018 ini, semua orang-orang baik yang membuatku lebih kuat, orang-orang yang mungkin kurang baik yang membuatku banyak belajar, dan orang-orang yang hanya lewat seklibat di hidupku tahun ini terima kasih banyak


0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages