Minggu, 22 Juli 2018

Semester 2 In A Nutshell; Tentang Keluhan Panjang yang Hari Ini Kurayakan



Kalau ditanya kapan masa di mana aku lebih banyak mengeluh? Semester 2 di S2 adalah jawabnya.
Beban tugas review mingguan dan 8 kali presentasi untuk 6 mata kuliah yang harus disiapkan, ditambah 6 event kantor yang harus di-handle dan 3 di antaranya di luar kota, membuatku harus putar otak untuk benar-benar bisa bagi waktu. Ditambah masih disibukkan dengan apply beasiswa sana sini yang berujung nggak lolos karena kurang persiapan. Sialnya lagi, urusan hati--yang nggak penting--ambil bagian cukup besar untuk menguras energi, pikiran, dan perasaan, yah lagi-lagi harus menambah beban semester ini.

Entah berapa banyak keluhan yang aku lontarkan dan entah berapa banyak orang yang aku buat kesal karena harus mendengarkan keluhanku saat itu.

Aku banyak mengeluhkan jam tidur yang semakin nggak beraturan. Aku mengeluhkan tumpukan tugas yang baru kukerjakan H-beberapa jam di sela-sela pekerjaan. Aku mengeluhkan orang-orang yang membuat janji lalu seenaknya membatalkan. Buatku di semester ini, waktu adalah hal yang nggak sembarangan.

Mengeluh dan menyalahkan keadaan adalah hal yang lazim aku lakukan di semester ini. Parahnya itu kulakukan juga di sosial media, dengan berlindung pada fitur “close friends” Instagram. Oh men, kalau ingat itu aku jadi merasa hina.

Kalau kata Mark Manson di buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck, hal ini yang dinamakan tren menjadi korban; melepaskan tanggung jawab dengan menyalahkan orang lain. Padahal kalo dirunut ke belakang semua adalah pilihan yang aku buat sendiri. Aku sendiri yang memilih kuliah sambil tetap aktif kerja, aku juga yang pilih peminatan mata kuliah, yaaaah lagi-lagi aku juga yang memilih untuk buang-buang perasaan ke orang yang sudah jelas memang nggak jelas. Jadi, yang perlu aku lakukan adalah menerima konsekuensi atas pilihanku sendiri, kemudian belajar, instead of ngeluh dan nyari-nyari objek untuk disalahkan. 

How to deal with my stress?

via Pexels.com
Karena mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa, maka yang harus aku lakukan adalah jalani saja, toh masih banyak yang bisa aku syukuri. 

Kalau sebelumnya aku berpikir aku harus totalitas ke semua hal, ke kerjaan dan ke semua mata kuliah. Ngerjain tugas bisa 3 hari sebelum deadline kalo nggak ya uring-uringan. Tapi nyatanya aku memang bukan samson-wati dan aku bisa stress juga. Jadi, aku mulai fokus pada hal-hal yang membuatku bahagia. Daripada stress memikirkan matakuliah yang nggak kusuka, aku mulai fokus ke matakuliah mana yang aku suka, topik apa yang akan aku pilih untuk paper UAS, serta matakuliah mana yang paling menarik untuk bahan tesis. Sisanya ya aku nggak perlu ngoyo-ngoyo amat ngerjain tugasnya, itung-itung hemat energi. Termasuk lebih selektif menerima ajakan main dan undangan-undangan di waktu weekend, kalau bisa dipakai untuk istirahat mending istirahat. 

People I'm struggling with

abaikan my potato face :(
Pada akhirnya memang semester ini tidak seburuk kelihatannya, karena ada orang-orang luar biasa yang aku temui. 

Semester ini aku ambil peminatan Manajemen Komunikasi, peminatan yang paling banyak mahasiswanya. Karena orangnya paling banyak, jadi karakter, usia dan latar belakangnya juga beragam. Menyenangkan, aku bisa belajar memahami lebih banyak sifat dan karakter orang-orang di sini. Mereka yang banyak membantuku di kelas, sesederhana saat aku presentasi, mereka nggak nanya yang susah-susah (itu termasuk membantu hahaha), belum lagi kalau ada materi kuliah yang aku nggak paham, selalu ada orang-orang yang bisa menjelaskan (lebih jelas dari dosennya bahkan).

Special thanks to Ashar dan Dessy, anak MK yang dengan “ikhlas” melengkapi presensiku saat aku nggak bisa masuk karena kerjaan di luar kota.

Ruang Kerja, 00:23 WIB
Selain anak-anak MK, ada anak-anak peminatan sebelah yang mengisi hari-hariku semester ini. Mba Tika & Ian, manusia-manusia penghibur kesayangan, who are struggling with their each fucking love story, but always have a time to make me laugh and feel loved. Daru & Yy, calon-calon dosen idolaque, who are struggling with their study but always have a time to motivate and inspire me, dan surprisingly semester ini IP kita bertiga sama.

How lucky I am to have them as my circle

"Everything seems impossible until it's done"

via Pexels.com

Someone reminded me that "everything seems impossible until it's done". Dan hari ini aku percaya, yang perlu aku lakukan memang hanya menjalaninya sesulit apapun kelihatannya. Nyatanya bisa juga berjalan dengan baik dan nggak ada yang lebih melegakan dari itu.

Aku belajar banyak hal di semester ini, belajar manajemen waktu, manajemen energi, manajemen hati, dan belajar 'bodo amat' untuk hal yang sebenernya nggak penting-penting amat. Yah sampe sekarang juga masih belajar sih. Masih banyak banget pe-er yang harus aku cari tahu rumusnya dan siap nggak siap harus aku jalani.


Terima kasih semester 2 telah membuatku banyak belajar dan bersyukur.Selamat datang semester 3, aku bocahmu!


0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages