Rabu, 26 Desember 2018

Hibernasi, Caraku Berdamai dengan Diri Sendiri



Saat orang-orang memilih liburan ke tempat-tempat seru, akhir tahun ini aku memilih ambil cuti dengan alasan “hibernasi”. Aku memilih hibernasi karena aku merasa tubuhku butuh istirahat, butuh rehat dari hal-hal yang membuat kepalaku tegang dan hubunganku dengan diri sendiri renggang.
Cerita bermula dari sini…..

2018 in a nutshell

Tahun 2018 bisa dibilang tahun yang paling chaos dalam sejarah perjalanan hidupku. Mengawali tahun dengan asam lambung, 6 bulan pertama di tahun 2018 aku cukup struggling karena sering banget perut nyeri tengah malem. Selain itu, tahun ini jadi masa patah hati panjang buatku, sialnya pas lagi sedih-sedihnya karena galau, asam lambung kumat hampir tiap hari, jadi sakitnya dobel dari sakit hati sampe ke ulu hati.

2018 kerasa cepat banget, semua serba 'waz-wez-waz-wez', tahu-tahu ada ini, eh tahu-tahu ada itu, baru mikir itu udah ada anu, semuanya jadi kerasa berantakan (kalimat ini juga strukturnya berantakan). Ke luar kota yang dulu asik, kini jadi hal yang ingin kuhindari dan ingin rasanya bilang “aku boleh di Jogja aja nggak sih?”.

Aku jadi banyak ngeluh, menyalahkan keadaan, dan seringnya menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan diri sendirinya bukan dalam bentuk positif untuk introspeksi melainkan jadi blaming and hating myself dan bikin mental breakdown.

Merasa nggak cocok dengan kerjaan, merasa diri ini nggak ada kemampuan, merasa stress sendirian sampe merasa Tuhan nggak sayang. Beberapa bulan terakhir aku jadi lebih emosional, gampang terpancing hal-hal nggak penting, dan pelan-pelan aku mulai menjauh dari society. Ada beberapa orang yang sensitif berpikir kalau aku marah, benci dan menjauhinya, padahal aku membuat jarak hampir ke semua orang. Jadi kalau ada yang berpikir aku ada masalah sama si A si B si Z itu salah besar. It’s totally not personal issue between me and someone else, but me and myself.

Di titik itu aku paham bahwa aku sedang menghadapi yang namanya “Quarter Life Crisis”. Buat yang gak tau, jadi quarter life crisis itu sindrom yang dialami orang-orang usia around 25 tahun, yang ditandai dengan kehilangan motivasi, merasa gagal, galau berlebihan, dan menarik diri dari pergaulan. Btw, bulan Oktober kemarin aku 25 tahun, so quarter life crisis is real.

Seolah bisa membaca pikiranku yang saat itu lagi kacau-kacaunya, tiba-tiba seorang teman ngirimin video ngaji filsafat (ngirim jam 3 pagi pula) yang judulnya ‘Sendiri’ dan dia bilang “sesekali menjauhlah dari keramaian, biar bisa merenung”  

Singkat cerita, sejak itulah aku berniat rehat sejenak dari segala aktivitas untuk merenung, tentunya setelah semua tanggung jawab di tahun ini selesai.

When an extrovert decided to hibernate

Sebagai seorang ESFP, berdiam diri sendirian tuh sejujurnya membingungkan. Hari pertama aku malah lemes seharian, yah orang extrovert kan recharge energinya kalau ketemu orang di tengah keramaian. Kira-kira begini aktifitasku; tidur- bangun siang- ketiduran- nonton YouTube- ketiduran-buka instagram- ketiduran. What a life!

Tetiba aku kangen Hartono Mall, Ruang Kerja, Hipwee, serta karaoke dan gibah bersama sobat dan kerabat. Antiklimaks dong kalau hari pertama aja aku menyerah, jadi kapan merenungnya?!!

Seolah Tuhan tidak mengehendaki aku untuk menyerah dari hibernasi, akupun sakit mata, --gede banget berbintil-- jadilah aku benar-benar sendirian karena malu kalo ketemu orang.

Aku mulai merenung dan berpikir untuk mencintai diriku. Sejujurnya mencintai diri sendiri itu konsep yang menurutku abstrak, aku merasa gak cukup puas hanya dengar kalimat motivasi "love yourself first", yo piye carane lek? Aku butuh cara yang konkret dan aplikatif.  Setelah baca-baca artikel dan nonton YouTube @gitasav akhirnya aku paham, hal sederhana untuk mencintai diri sendiri adalah dengan mengenali diri. Konkretnya kenali kelebihan dan kekuranganmu. Hal yang jadi kelebihan dikembangkan, yang jadi kekurangan diperbaiki, kalau nggak bisa perbaiki disyukuri apapun kekurangan itu.  

Baiklah.

Hal pertama yang aku lakukan adalah ke apotek beli obat mata, yakali mata berbintil didemin gitu aja wkwk. Terus ke dokter kulit karena aku mulai ngerasa nggak pede sama bruntusan di mukaku yang nggak sembuh-sembuh. Menutup tahun dengan saying bye-bye to all of my Korean skincare yang ternyata membuat kulitku bermasalah parah. Demi #2019LebihGlowing dan #2019MenujuNanaMirdad.

Aku kembali (berniat) memulai hidup sehat. Belanja sayur-sayuran buat persediaan selama hibernasi, karena kata dokter kulitku bermasalah karena faktor makanan sembarangan dan mataku katanya ada gumpalan lemak jadi harus perbanyak sayur dan buah. Baiklah demi  #2019LebihSehat dan tetap #2019MenujuNanaMirdad. 

Walaupun namanya hibernasi tapi aku mencoba tetap produktif. Aku menghabiskan hari dengan nyuci baju, masak, nyuci piring, dan beresan kamar yang tadinya kayak kapal pecah diterjang tsunami. Aku stop posting instagram story untuk sementara waktu, entahlah apa pengaruhnya tapi menurutku aku butuh detoks dari hal-hal yang sebenarnya kurang penting. Sederhana memang, tapi entah kenapa beberapa hari ini aku jadi banyak bersyukur dan beban perlahan berkurang.

Dan… akhirnya memutuskan untuk nulis blog lagi setelah sekian lama. Bagiku menulis adalah cara terbaik untuk memikirkan diriku, merenungkan hidupku, dan mengekspresikan apa-apa yang ada di kepalaku, yang mungkin aku gak bisa ceritakan ke orang-orang secara langsung. Senang bisa kembali menulis. 

Masih ada beberapa hari untuk hibernasi, sebelum tahun baru datang lengkap dengan cerita-cerita baru. Aku berdoa semoga hari-hari ini bisa jadi awal yang baik untuk berdamai dengan diri sendiri. Atas apa-apa yang dipersiapkan Tuhan untukku tahun depan semoga aku bisa lebih bersyukur.

Sebagai penutup, terima kasih untuk semua orang yang menemaniku di tahun 2018 ini, semua orang-orang baik yang membuatku lebih kuat, orang-orang yang mungkin kurang baik yang membuatku banyak belajar, dan orang-orang yang hanya lewat seklibat di hidupku tahun ini terima kasih banyak


Selasa, 21 Agustus 2018

Prambanan Jazz 2018; Kesan dan Cerita Keseruan di Dalamnya


Kalau kamu cukup mengenalku, kamu pasti tahu kalau aku suka banget nyanyi, karaokean, dan nonton konser. Wait, sebelum beranggapan kalau suaraku bagus dan aku jago main musik, mari kita luruskan. Pertama, walaupun aku suka nyanyi tapi percayalah suaraku sungguh tydac bagus. Kedua, aku suka banget karaoke karena di sana aku bisa dapat nilai 99 plus bonus tepuk tangan walaupun nadaku berantakan. Ketiga, aku suka nonton konser musik karena aku bisa nyanyi teriak-teriak tanpa ada yang bilang "berisik, Tir!!!" atau "nadanya nggak pas, Tir!!!" Yes, everybody doesn't give a f*ck how bad your voice is, as long as you can sing along.

Sampai sini kamu tahu dong gimana kira-kira suaraku? Gapapa, I love myself :))

Sudah cukup pembukaanya, mari kita masuk ke inti tulisan yang tida ber-inti ini. Jadi, dua hari kemarin aku nonton acara musik yang lumayan hits di Jogja, Prambanan Jazz 2018. Dari pengalamanku, ada beberapa poin yang aku amati dan aku coba bagikan melalui tulisan ini.

NB: Aku akan ulas printilan-printilan acaranya, yang memang beberapa tida esensial. Jadi jangan berekspektasi kalau aku akan sharing tentang kualitas musik setiap performer-nya, tentu tida dong~

Hal-hal umum yang perlu kamu tahu tentang Prambanan Jazz 2018



Pertama, acara ini diadakan di Candi Prambanan, iya dong masa di Malioboro (sampe sini udah merasa waktumu terbuang sia-sia baca ini?) Kedua, walaupun acara ini bertajuk "Jazz" tapi  line-up nya nggak semua penyanyi Jazz, justru yang bener-bener musisi jazz bisa dihitung jari. Ketiga, acaranya berlangsung 3 hari, yang masing-masing dibagi ke dalam 2 panggung; Hanoman stage dan Rorojonggrang stage. Keempat, harga tiketnya bisa dibilang nggak 'anak kosan friendly'. Kamu harus merogoh kocek Rp. 700.000 untuk bisa nonton Prambanan Jazz kelas festival selama 3 hari, itu belum termasuk spesial show. Kalau kamu beli daily pass kamu harus mengeluarkan uang Rp.300.000 untuk kelas festival (tidak termasuk spesial show) dan Rp.400.000 kelas festival (termasuk spesial show). Walaupun nggak murah, tapi worth it lah buat kamu penikmat musik dan pengen nonton konser dengan pemandangan kemegahan candi yang luar biasa bagus, you can feel that great atmosphere.

Line-up yang nggak sebanyak tahun lalu, mungkin jadi faktor Prambanan Jazz 2018 nggak lagi bermasalah dengan waktu yang molor. Justru on time banget, salut!

Kamu pasti masih ingat soal postingan Instagram Afgan tahun 2017 soal acara Prambanan Jazz yang super molor dan lampu panggungnya terpaksa dimatikan karena Sarah Brightman harus tampil? Peristiwa ini nggak akan kamu temukan di Prambanan Jazz 2018 (yaiyalah, kan emang tahun ini nggak ada Afgan dan Sarah Brightman, duh). Belajar dari tahun lalu, tahun ini acaranya on time banget dan susunan acaranya rapi. Saking on time nya sampe-sampe aku kelewatan 2 lagu Rendy Pandugo dan 4 lagu Abdul & The Coffee Theory gara-gara aku dateng telat #pengenangis. 

Line-up Prambanan Jazz 2018 ini lebih sedikit dari tahun 2017 yang sampe 50 penampil. Tahun ini bisa dibilang memang nggak terlalu banyak, jadi pengaturan waktunya menurutku tepat, ngaretpun nggak lebih dari 10 menit. Salut deh buat panitianya.

Musisi-musisi 'senior' banyak ambil bagian di sini. Event musik memang seharusnya bukan cuma milik anak muda, kan?


Nggak melulu tentang Hivi! Yura Yunita, Rendy Pandugo, atau Arsy-Jodie yang digandrungi anak muda, banyak juga deretan musisi senior yang tampil di event ini. Mulai dari Iwa K, Letto, Gigi, Dewa 19, Kahitna, Kla Project, Java Jive hingga Boy Zone ada di sini. Seolah menunjukan bahwa generasi X dan Baby Boomers juga butuh hiburan kan? yah itung-itung nostalgia. Nyatanya yang datang memang nggak hanya anak muda. Seru sih ini bisa jadi pilihan tontonan keluarga, bapak ibu nonton Kla Project dan Java Jive anaknya nonton Hivi! dan Arsy-Brisia Jodie, yagaseeeh. 
Btw, hari pertama aku ketemu dosenku yang nonton bareng anak dan istrinya, so kewl.
Dosen junjunganque~

Panggung Hanoman di sore hari lumayan menantang matahari, jadi pakai kaca mata hitam adalah sebuah keharusan. Biar nggak 'blereng gess'!

Rendy Pandugo on stage

Rendy Pandugo dan Abdul & The Coffee Theory adalah 2 musisi yang membuatku super excited nonton Prambanan Jazz 2018. Sayangnya, keduanya tampil saat matahari lagi pada peforma panas terbaiknya. Rendy di hari pertama pkl.15:30 dan Abdul di hari kedua pkl. 15:15. Huh,  aku sesedih itu karena mereka tampil di awal saat masih panas, terlebih Rendy Pandugo tampil di Hanoman stage yang natap matahari langsung. Salahnya, hari pertama aku nggak bawa kaca mata hitam, jadi 'blereng gess' liat Rendy Pandugo. Well, kalau musisi idolamu juga tampil di awal, mending kamu bawa kaca mata hitam dan jangan dateng mepet-mepet biar nggak kehilangan momen. 

Kamu harus modal! Harga makanan di Pasar Kangen Prambanan Jazz lumayan mahal. God blessed me, I got meals for free at Media Lounge

Photo by Ayeng Ayeyeng
Selain kamu harus modal beli tiket nonton dan tiket masuk area Candi Prambanan, kamu juga harus cukup modal untuk beli makan dan minuman. Ada stan Pasar Kangen yang akan menyelamatkanmu dari lapar dan haus, tapi harganya bener-bener bikin kamu kangen dengan pundi-pundi rupiah di dompetmu (aku nulis ini sambil mengenang uang sepuluh-rebu yang kubelikan sebotol air mineral merek Prima). Tapi balik lagi mari kita pikirkan biaya yang harus penjual keluarkan buat buka stan di sana, pasti nggak murah kan? Makanya sejak awal pastikan kamu datang dengan modal yang cukup.

Berhubung aku datang dengan id pers, jadi aku -yang-tydac-cukup-modal-ini- terselematkan dari kemisqueenan, yah walaupun sempet beli minum air putih sepuluh-rebu (tep nggak ikhlas).

Finally, acara ini memang jauh dari kata sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah dan cinta Rizky Febian, tapi it was fun and worthy enough

Masih banyak celah yang bisa dievaluasi dari Prambanan Jazz tahun ini, tapi so far acaranya rapi dan mengesankan. Senang bisa nonton Prambanan Jazz 2018, terlebih aku memang sudah lama nggak nonton acara musik, jadi yah merasa terhibur banget. Konsep acara musik sambil menunjukan kemegahan tempat wisata ini layak untuk diapresiasi. Salut!

Semoga setelah ini aku bisa dapet kesempatan untuk nonton acara musik seru lainnya (terlebih yang ada Rendy Pandugo). 

hahaha AMEEEEN.


find me on Instagram @tirahardaning

My buddies <3
@skuathipwee - day 1
Sobat move on que - day 2






Minggu, 22 Juli 2018

Semester 2 In A Nutshell; Tentang Keluhan Panjang yang Hari Ini Kurayakan



Kalau ditanya kapan masa di mana aku lebih banyak mengeluh? Semester 2 di S2 adalah jawabnya.
Beban tugas review mingguan dan 8 kali presentasi untuk 6 mata kuliah yang harus disiapkan, ditambah 6 event kantor yang harus di-handle dan 3 di antaranya di luar kota, membuatku harus putar otak untuk benar-benar bisa bagi waktu. Ditambah masih disibukkan dengan apply beasiswa sana sini yang berujung nggak lolos karena kurang persiapan. Sialnya lagi, urusan hati--yang nggak penting--ambil bagian cukup besar untuk menguras energi, pikiran, dan perasaan, yah lagi-lagi harus menambah beban semester ini.

Entah berapa banyak keluhan yang aku lontarkan dan entah berapa banyak orang yang aku buat kesal karena harus mendengarkan keluhanku saat itu.

Aku banyak mengeluhkan jam tidur yang semakin nggak beraturan. Aku mengeluhkan tumpukan tugas yang baru kukerjakan H-beberapa jam di sela-sela pekerjaan. Aku mengeluhkan orang-orang yang membuat janji lalu seenaknya membatalkan. Buatku di semester ini, waktu adalah hal yang nggak sembarangan.

Mengeluh dan menyalahkan keadaan adalah hal yang lazim aku lakukan di semester ini. Parahnya itu kulakukan juga di sosial media, dengan berlindung pada fitur “close friends” Instagram. Oh men, kalau ingat itu aku jadi merasa hina.

Kalau kata Mark Manson di buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck, hal ini yang dinamakan tren menjadi korban; melepaskan tanggung jawab dengan menyalahkan orang lain. Padahal kalo dirunut ke belakang semua adalah pilihan yang aku buat sendiri. Aku sendiri yang memilih kuliah sambil tetap aktif kerja, aku juga yang pilih peminatan mata kuliah, yaaaah lagi-lagi aku juga yang memilih untuk buang-buang perasaan ke orang yang sudah jelas memang nggak jelas. Jadi, yang perlu aku lakukan adalah menerima konsekuensi atas pilihanku sendiri, kemudian belajar, instead of ngeluh dan nyari-nyari objek untuk disalahkan. 

How to deal with my stress?

via Pexels.com
Karena mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa, maka yang harus aku lakukan adalah jalani saja, toh masih banyak yang bisa aku syukuri. 

Kalau sebelumnya aku berpikir aku harus totalitas ke semua hal, ke kerjaan dan ke semua mata kuliah. Ngerjain tugas bisa 3 hari sebelum deadline kalo nggak ya uring-uringan. Tapi nyatanya aku memang bukan samson-wati dan aku bisa stress juga. Jadi, aku mulai fokus pada hal-hal yang membuatku bahagia. Daripada stress memikirkan matakuliah yang nggak kusuka, aku mulai fokus ke matakuliah mana yang aku suka, topik apa yang akan aku pilih untuk paper UAS, serta matakuliah mana yang paling menarik untuk bahan tesis. Sisanya ya aku nggak perlu ngoyo-ngoyo amat ngerjain tugasnya, itung-itung hemat energi. Termasuk lebih selektif menerima ajakan main dan undangan-undangan di waktu weekend, kalau bisa dipakai untuk istirahat mending istirahat. 

People I'm struggling with

abaikan my potato face :(
Pada akhirnya memang semester ini tidak seburuk kelihatannya, karena ada orang-orang luar biasa yang aku temui. 

Semester ini aku ambil peminatan Manajemen Komunikasi, peminatan yang paling banyak mahasiswanya. Karena orangnya paling banyak, jadi karakter, usia dan latar belakangnya juga beragam. Menyenangkan, aku bisa belajar memahami lebih banyak sifat dan karakter orang-orang di sini. Mereka yang banyak membantuku di kelas, sesederhana saat aku presentasi, mereka nggak nanya yang susah-susah (itu termasuk membantu hahaha), belum lagi kalau ada materi kuliah yang aku nggak paham, selalu ada orang-orang yang bisa menjelaskan (lebih jelas dari dosennya bahkan).

Special thanks to Ashar dan Dessy, anak MK yang dengan “ikhlas” melengkapi presensiku saat aku nggak bisa masuk karena kerjaan di luar kota.

Ruang Kerja, 00:23 WIB
Selain anak-anak MK, ada anak-anak peminatan sebelah yang mengisi hari-hariku semester ini. Mba Tika & Ian, manusia-manusia penghibur kesayangan, who are struggling with their each fucking love story, but always have a time to make me laugh and feel loved. Daru & Yy, calon-calon dosen idolaque, who are struggling with their study but always have a time to motivate and inspire me, dan surprisingly semester ini IP kita bertiga sama.

How lucky I am to have them as my circle

"Everything seems impossible until it's done"

via Pexels.com

Someone reminded me that "everything seems impossible until it's done". Dan hari ini aku percaya, yang perlu aku lakukan memang hanya menjalaninya sesulit apapun kelihatannya. Nyatanya bisa juga berjalan dengan baik dan nggak ada yang lebih melegakan dari itu.

Aku belajar banyak hal di semester ini, belajar manajemen waktu, manajemen energi, manajemen hati, dan belajar 'bodo amat' untuk hal yang sebenernya nggak penting-penting amat. Yah sampe sekarang juga masih belajar sih. Masih banyak banget pe-er yang harus aku cari tahu rumusnya dan siap nggak siap harus aku jalani.


Terima kasih semester 2 telah membuatku banyak belajar dan bersyukur.Selamat datang semester 3, aku bocahmu!


Selasa, 15 Mei 2018

Kenalan sama Lacoco dan Cosvie, Produk Kecantikan Berbahan Alami yang Kaya Manfaat



Hai,

Minggu lalu, tepat di Hari Bumi, aku dan teman-teman dari Jogja Bloggirls dateng ke Launching Day Lacoco Cosmetics, lho! Jadi, Lacoco adalah produk yang diluncurkan oleh PT Natural Nusantara bekerjasama dengan PT AVO Innovation Technology dengan mengedepankan bahan-bahan alami a.k.a netcurel. 

Acara Launching Day Lacoco itu diadakan tanggal 22 April 2018 di East Parc Hotel. Sesuai dengan konsep produk Lacoco yang memang mengedepankan bahan natural, tema acara ini adalah “Bringing New Hope, Through Nature”.



Nggak tanggung-tanggung, Lacoco menggandeng Sarah Ayu dan dr. Boy Abidin, SpOG (dr. Oz) sebagai bintang tamu yang menambah daya tarik acara ini. Sarah Ayu sharing tentang pentingnya kesehatan kulit dan penggunaan skincare. Sementara dr. Boy Abidin membahas soal pentingnya menjaga kebersihan daerah kewanitaan. 

Sebagai perempuan yang kadang suka cuek sama kesehatan kulit dan daerah kewanitaan, dateng ke acara ini jadi kayak tamparan gitu. Sarah Ayu dengan kulit glowingnya mengajak para perempuan yang datang untuk nggak cuma tampil cantik lewat make-up tapi juga diiringi dengan skincare yang tepat biar kulit bisa tetep sehat dan bisa bernafas walau pakai make-up berat. dr.Boy Abidin juga nggak kalah kece, beliau menjelaskan dengan detail penyakit daerah kewanitaan, cara mencegah hingga perawatan yang tepat. Macem investasi masa depan lah ya.

Sayangnya, karena acara rame banget yang dateng jadi nggak bisa foto bareng Sarah Ayu dan dr  Boy Abidin deh. Tapi bisa lihat dari jauh dan dengerin materi yang berfaedah aja udah lumayan seneng kok. Aku anaknya emang gampang seneng.

Di sana ada juga display produk-produk dari PT. AVO lho!


Dalam acara Launching Day, Lacoco Cosvie memperkenalkan delapan produk, diantaranya; CosVie Woman Hygiene Treatment Essence, Hydrating Divine Essence, Watermelon Glow Mask, Amazonian Charcoal Glow Mask,  Bust Fit Concentrate Serum, Ultimate Golden Swallow Facial Foam, Aloe Vera Soothing Mist, dan Intensive Treatment Eye Serum.



Nggak cuma mupeng liatin display produk-produk Lacoco dan Cosvie, aku dapat 2 produk yaitu Lacoco Amazonian Charcoal Glow Mask dan Hygiene Treatment Essence .

Pertama, aku mau bahas Charcoal Glow Mask yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama seperti si dia, dia siapa. Sesungguhnya awalnya aku dapat yang Watermelon Glow Mask, tapi berhubung Rahma empunya Jogjabloggirls berbaik hati, jadilah kami tukeran produk dan aku dapat Charcoal Glow Mask. Yeay! (baiq ini tydac penting). 

Sedikit gambaran, kulitku syuper oily dan pori-poriku lumayan besar bisa untuk menanam umbi-umbian, oke ini lebay, makanya aku butuh produk ekstra detoksifikasi kulit. Nah beruntungnya, Charcoal Mask Lacoco ini punya keunggulan membersihkan pori-pori yang tersumbat secara mendalam dan membebaskan kulit dari racun.

Saat masker ini dipakai ada sensasi dingin dari mint jadi kerasa nyaman gitu, terlebih ada scrubnya jadi saat dibilas bisa sambil digosok halus di wajah. Efeknya kalau sekali pakai memang nggak langsung buat glowing, tapi kerasa banget jadi seger dan sel-sel kulit mati terangkat. Syukurnya setelah 3 kali pemakaian aku ngerasa cocok-cocok aja dan sama sekali nggak bermasalah di kulitku. So, ini bakal jadi produk yang rutin aku pakai seminggu 2 kali deh. Can't wait to see the best result <3




Produk kedua yang aku dapat adalah Hygiene Treatment Essence, ini adalah produk investasi masa depan. Kenapa gitu? yash karena ini adalah produk untuk menjaga kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaan. Sebelumnya aku memang bukan perempuan yang terlalu interest sama produk-produk semacam ini, merasa belum perlu. Tapi setelah dengar penjelasan dr.Boy Abidin jadilah aku mulai aware dengan kesehatan area kewanitaan.

Nah produk ini punya Cos-Vie Hygiene Treatment Essence ini terformulasi khusus untuk menjaga kestabilan pH sehingga terhindar dari rasa gatal dan bau tak sedap area kewanitaan yang cukup iyuuh itu. Well, bedanya produk ini dari produk-produk kebanyakan adalah pemakaiannya nggak perlu dibilas, jadi memang dibiarkan menyerap di area kewanitaan. Baiq

Sebagai perempuan yang akan menikah sekalipun jodoh belum terlihat, produk ini penting banget karena selain bisa menjaga kesehatan area kewanitaan, ekstrak bunga sakura yang terkandung di dalamnya bisa juga mencerahkan area kewanitaan. Wagelaseeh

Overall, aku seneng bisa mengisi weekend produktif  dengan datang ke acara ini. Selain nambah ilmu, bisa seru-seruan dengan Jogjabloggirls, aku bisa juga dapat produk-produk yang kaya manfaat. Semoga bisa datang ke event-event semacam ini lagi :)



By the way, kalau kamu penasaran dengan produk-produk kaya manfaat lainnya dari Lacoco dan Cosvie, kamu bisa mampir ke www.lacoco.co.id












Minggu, 11 Februari 2018

Launching Inisago; Bisnis Kreatif di Jogja yang Akan Mengajakmu Menjadi Sociopreneur Muda


Haloo...

Lama juga ya kita nggak bersua di blog, sebenarnya banyak banget yang mau ditulis tapi berhubung ketunda agenda yang lain jadilah agak mandek nulis blognya. Semoga setelah ini jadi lebih rajin nulis ya.

Akhir-akhir ini aku lagi seneng banget dateng ke berbagai seminar atau pelatihan. Selain karena tuntutan kerjaan yang harus ngurusin event-event komunitas, bulan ini aku mulai masuk kuliah semester baru, jadi aku merasa perlu meng-upgrade diri biar otaknya nggak buntu. 

Kebetulan banget weekend ini Mbak Raisa, rekan kerja sekaligus sesama blogger, ngajakin untuk datang ke acara yang dipenuhi orang-orang kreatif yaitu Soft Opening Inisago. Awalnya aku mikir itu semacam co-working space atau toko elektronik apa gitu karena letaknya di Yap Square. Tapi ternyata aku salah dong walaupun perempuan aku juga bisa salah

Jadi, Inisago adalah tempat kreatif untuk pengembangan diri yang diperuntukan kepada para pelaku UKM, mompreneur, pelaku start-up dan pelajar dengan memberikan workshop dan training. Singkatnya tempat yang tepat buatmu yang mau belajar jadi entrepreneur dan juga sociopreneur. Kewl banget kan!

CEO Inisago
Acara Soft Opening Inisago kemarin dibuka dengan penjelasan tentang awal mula terbentuknya Inisago oleh koko Hans Hadi Surya, CEO Inisago yang ternyata masih muda banget, lho. 

Inisago hadir untuk menjawab kegelisahan anak muda terkait adanya gap antara kuliah dengan realitas di dunia kerja. Kamu yang masih fresh graduate pasti ngerasain banget kan kalau teori yang didapat di bangku kuliah ternyata sulit diaplikasikan ke kehidupan masyarakat? Nah, Inisago hadir sebagai jembatan untuk orang-orang yang lulus kuliah dengan segudang teori di kepala, biar pada prakteknya ilmu itu bisa diterapkan di kehidupan dan bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat. 

Nggak main-main, visi Inisago yaitu mencetak 1 juta sociopreneur yakni orang-orang yang memiliki visi membantu orang lain dengan keahlian yang mereka miliki, baik dengan mendirikan komunitas maupun mendirikan start up yang bergerak di bidang sosial. Koko Hans juga menambahkan kalau visi ini lahir dengan bahan bakar kasih dan mau berbagi; berbagi skill, pengalaman, dan berbagi semangat untuk melahirkan sociopreneur-sociopreneur di Indonesia.

Well, sebagai start-up, semangat Inisago ini perlu diacungin jempol dong ya.


Setelah mendengar penjelasan dari koko Hans, gantian Mbak Rosalina CMO Inisago, yang cerita soal Marketing Plan dari Inisago. Nantinya ada 3 jenis pelatihan yang akan diadakan oleh Inisago, yaitu; 
  • Workshop regular; pelatihan ini diperuntukan untuk seluruh elemen masyarakat, jadi usia berapapun dengan background apapun bisa banget buat ikutan ini.
  • Company product; sesuai namanya, pelatihan ini untuk perusahaan atau pelaku bisnis. Bentuknya bisa training untuk karyawan, outbound, atau leadership training.
  • School product; kalau ini jelas dong ya sasarannya adalah anak-anak sekolah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meminimalisir anak-anak sekolah yang salah jurusan saat kuliah. Yah namanya masa depan kan harus dipersiapkan sedini mungkin. Bentuk kegiatannya yaitu school camp dan roadshow school to school.
Terus yang ngisi pelatihannya siapa aja? Kompeten nggak di bidangnya?

Pertanyaan ini yang sempat juga ada di benakku waktu denger marketing plan dan visi misinya Inisago. Tapi keraguanku langsung terjawab, jadi yang akan ngisi trainingnya memang orang-orang yang expert di bidangnya. Jadi nggak perlu khawatir.

Sejauh ini Inisago udah punya 3 vendor kece yaitu Hope Training Center, Wkwk Project, dan Chic Picture.

HOPE Indonesia Training Center
Sesuai namanya Hope yaitu harapan, Hope Indonesia Training Center ini tujuannya untuk memberikan training ke segala elemen masyarakat, karena semua orang harus punya mimpi dan semua orang butuh training. Aku sudah banget sama tagline dari Hope yaitu "Training for everyone, start from now on".


Wkwk Project
Walaupun namanya Wkwk Project, tapi ini bukan sekadar projek haha-hihi lho ya. Jadi Wkwk Project ini juga nggak kalah keren, mereka biasa membuat berbagai jenis pelatihan untuk meningkatkan kreatifitas anak muda, misalnya craft, fotografi, atau membuat terrarium

Chic Picture
Berhubung namanya ada kata picture di belakangnya, jadi udah paham kan ini apaan? Yap, bener banget ini berkaitan dengan design dan fotografi. Chic Picture ini akan banyak ngasih pelatihan tentang fotografi, karena sekarang bisnis apapun kan butuh foto yang kece sebagai bahan promosi.

Selain 3 vendor itu, Inisago juga membuka kesempatan untuk pelaku bisnis apapun yang juga care terhadap anak-anak muda untuk ikutan ngasih pelatihan. Biar anak-anak muda mindsetnya bukan lagi employee-minded melainkan entrepreneur-minded atau sampai ke level sociopreneur-minded




Kalau mau ikut pelatihan dari Inisago gimana caranya?

Untukmu yang memang lagi cari tempat pengembangan diri, Inisago bisa jadi pilihan tepat. Kamu bisa daftar jadi membernya Inisago. Ada berbagai pilihan member yakni Silver, Gold, Platinum, dan Diamond. Tentunya dengan harga, poin, dan kelebihan yang berbeda-beda. Kalau kamu masih ragu buat langsung jadi member, kamu bisa deh ikutan workshop terdekatnya Inisago, itung-itung cek ombak kan yes. 

Workshop terdekatnya ada di tanggal 15, 16, dan 17 Februari 2018, yaitu Learn to Make Terrarium, Stencil Printing, dan Embroidery Workshop. Ikutan kuy!




Buatmu yang ingin tahu lebih lanjut soal Inisago, boleh banget buat mampir ke link di bawah ini ya!

Website : www.inisago.com
Instagram : @inisago.id
Facebook : inisago


Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages