Minggu, 15 Oktober 2017

Ngapain sih Lanjut Kuliah S2? #JejakarirHarda

Ngapain sih lanjut S2?
Ini adalah pertanyaan yang begitu banyak dilontarkan orang-orang di sekitarku. Bukan tanpa alasan, mereka yang bertanya sangat tahu bagaimana aku mencintai pekerjaanku saat ini (oke ini lebay). Mereka paham betul aku bukan orang yang betah berlama-lama membaca buku dan duduk diam mendengarkan pelajaran di dalam kelas. Aku lebih suka menghabiskan waktu membaca komik Grey&Jingga karya Sweta Kartika atau berselancar ke blog-blog orang yang kadang hasil fotonya lebih membuatku amaze ketimbang kata-kata di dalamnya.  Saat kuliah S1, aku lebih suka ikut organisasi, membuat event, dan sesekali (oke 4 kali) ikutan demo di titik 0 km Yogyakarta ketimbang duduk-diam-mencatat-ketiduran-di kelas.

Setelah membaca paragraf di atas mungkin kamu juga akan berpikir "Lah, kalau gitu ngapain lanjut kuliah lagi, sih?"

Semua bermula di sini

via Pexels

Saat mendapat selempang Tira Hardaning, S.P (yang aku pesan sendiri) selepas sidang pendadaran bulan September, 2015 silam, aku berpikir panjang "aku ini sebenarnya mau jadi apa, 
sih?". Bunga-bunga dan teh pelangsing yang kudapat sebagai hadiah kelulusanpun rasanya tak ada artinya saat aku mulai berpikir serius akan melangkah kemana. Kalau aku berdiskusi dengan orang tua, sudah pasti lanjut S2 adalah jawabannya. Tapi aku bukan orang yang se-manut-itu untuk langsung meng-iyakan saran orang tua. Aku tetap butuh jawabanku sendiri, agar aku dengan yakin berkata "oke, aku akan kuliah lagi" seyakin saat aku berkata "oke, aku siap dinikahi Dion Wiyoko".

Seminggu setelah pendadaran, aku mendapat pesan singkat yang mengatakan aku diterima magang di Hipwee, aku bahkan lupa kalau pernah mendaftar. Herannya, aku merasa benar-benar berjodoh dengan Hipwee, karena ternyata kantornya terletak hanya selang dua rumah dari kos-kosanku saat itu (iya, kantornya memang seperti kosan jadi siapa sangka kalau bangunan itu kantor media online). Terlebih di sana aku dipertemukan dengan teman lama, jadi bukan hal sulit bagiku untuk bisa berbaur dengan orang-orang di dalamnya. 

Waktu magang di Hipwee 2 bulan aku gunakan untuk menunggu waktu wisuda, agar hari-hariku tak begitu sia-sia. Selama magang aku belajar banyak hal baru tentang kepenulisan, komunitas dan sosial media. Ditambah aku senang mengamati mas-mas ganteng orang-orang yang sangat passionate dengan pekerjaannya.

Selesai magang, aku wisuda, aku pulang ke rumah dan ibuku mengajakku jalan-jalan ke Tana Toraja sebagai hadiah aku lulus kuliah tepat waktu. Aku menduga ini adalah bagian dari rencana pembujukan agar aku mau lanjut S2. Jadi, aku memberanikan diri untuk bilang "Tira kerja aja ya sambil bisnis travel, sambil mikirin alasan kenapa harus S2. Tira akan S2 kalau kalau udah benar-benar yakin, biar kalau Tira gagal Tira nggak akan menyalahkan siapa-siapa, karena keputusan ini Tira yang buat sendiri".  Yah kira-kira begitu intisari dialognya, tapi kata-katanya nggak sedramatis itu sih.

Singkat cerita, akupun diizinkan bekerja di Jogja, biar tetap mempersiapkan S2

via Pexels

Setahun aku bekerja aku merasa ada di zona yang sangat nyaman, kantor deket kosan, temen kerja seumuran, tiap weekend karaokean, ambil cuti jalan-jalan, bebas bangun kesiangan. Sampai akhirnya aku sadar bahwa nggak ada lagi hal dalam hidupku yang aku perjuangkan. Tepatnya aku mulai mengalami demotivasi. Semua orang pasti pernah merasakan ini. Hari demi hari aku lalui dengan penuh kemalasan, isi kepalaku rasanya sudah habis -aku mulai merasa bodoh bin ngah-ngoh, aku hanya menjalani pekerjaan atas dasar pengalaman, bukan atas dasar keilmuan.

Aku pikir ini karena pekerjaanku yang membosankan, atau bisa jadi Jogja yang tak lagi semenarik dulu, atau mungkin aku butuh pacar seperti Dion Wiyoko. Atau ini pasti salah Jokowi, aku jomblo salah Jokowi, kerjaanku nggak asyique pokoknya salah Jokowi! Aku mulai mencari objek-objek tak penting untuk disalahkan. Aku kemudian sadar ini bukan soal aku bekerja di mana dan presidennya siapa, yaiyalah, karena setiap orang yang bekerja pasti pernah mengalami demotivasi, di manapun tempatnya. Menyalahkan tempat bekerja atas kegalauan-kegalauanku rasanya egois sekali. Satu-satunya yang perlu introspeksi atas hidupku adalah aku sendiri.
yang aku butuhkan adalah menambah ilmu baru biar kepalaku nggak buntu.

Baiklah, kali ini aku memang butuh lanjut kuliah


Aku mulai menyadari bahwa, dalam hidup kita akan selalu dituntut untuk belajar, belajar dari orang sekitar, belajar dari pengalaman, belajar dari buku atau belajar dari para expert. Saat aku mulai berhenti belajar maka saat itulah aku berhenti punya motivasi untuk hidup. Aku butuh belajar hal baru yang bisa membuat rasa ingintahuku meningkat dan membuatku lebih semangat.

Aku butuh tahu apakah yang aku kerjakan benar atau salah, bukan hanya atas dasar "kira-kira" dari pengalaman tetapi juga dari keilmuan. Aku butuh punya alasan untuk bangun lebih pagi dan membuka laptop untuk mengerjakan tugas. Aku butuh alasan untuk tidur lebih malam dan membaca literatur. Aku butuh alasan untuk menolak setiap ajakan main-yang-kadang-tak-penting dan memilih untuk menyelesaikan pekerjaan. Aku butuh lebih produktif, agar aku merasa diriku cukup berguna paling tidak untuk diriku sendiri. 

Aku butuh terus belajar agar kelak saat aku menikah dan menjadi ibu, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari buah hatiku dengan jawaban yang cerdas. Belajar memang bisa dimana saja tak melulu harus dengan lanjut kuliah, tapi aku merasa dulu saat kuliah S1 aku tidak memanfaatkan waktu untuk belajar dengan optimal, jadi aku ingin membayarnya sekarang. 

Kegalauan berbulan-bulan itu aku akhiri dengan menelpon orang tua untuk bilang "Tira mau lanjut S2, kali ini bukan karena diminta Bapak-Ibu, tapi karena yakin ini yang Tira butuhkan"
(Lagi-lagi dialog aslinya nggak sedramatis ini ya).


Baca Juga : Rasanya Kerja di Media, yang Isinya Anak Muda Semua

4 komentar:

  1. Ah Tira, ku iri padamu 😊 Sampai saat ini aku belum menemukan alasan kenapa akhirnya ambil S2, selain : Aku yakin perjalanan ini pasti punya dampak positif buatku, yang mana, aku belum tau itu apa. Aku menjalaninya, just by feeling. Hahaha.

    BalasHapus
  2. Sukak bacanya kak Tir! wkwkwkwk
    Aku aja seakarang mau nyelesaiin S1 rasanya bingung sendiri mau ngapain selepas ini :(

    BalasHapus
  3. Tira, aku baru baca postinganmu yang ini dan entah kenapa aku juga aku menemukan banyak kesamaan hehe

    Aku pun juga begitu, ketika mau S2 aku sampai bilang ke orang tua bahwa bukan gelar semata yang aku cari tapi tentang pengalaman hidup yang akan jauh lebih bermanfaat.

    BalasHapus

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages