Minggu, 20 Agustus 2017

Pelajaran Berharga Saat Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Negeri Orang [Throwback 2013]



27 Oktober, 2012 adalah hari di mana paspor pertamaku jadi, senangnya luar biasa, aku merasa teramat gaul kala itu. Ingin rasanya aku jadi cover model tabloid Gaul. Yah walau fotonya kucel ditambah pipi tembem banget dan mata sayu, tapi nggak masalah yang penting punya deh. Selang sebulan aku mulai merencanakan liburan bersama kakak dan teman kakakku. Tiket promo Jogja-KL, KL-Palembang untuk Januari 2013 sudah ada di genggaman (500 RIBU PP). Saatnya membuat itinerary perjalanan.

Sebagai traveler pemula (sekarang juga masih pemula sih) atau lebih pantas disebut turis ala-ala, menyiapkan perjalanan dengan matang itu perlu banget. Mulai dari browsing tempat apa saja yang ingin dikunjungi, buat perkiraan budget, booking penginapan, mempelajari rute serta transportasi apa saja yang bisa digunakan hukumnya wajib ain. Bahkan udah persiapan matang pun kadang tetap saja nggak  terhindar dari kesalahan-kesalahan kecil. Lebih tepatnya bukan kesalahan sih tapi pembelajaran. Ini beberapa kesalahan pelajaran yang aku dapatkan di perjalanan cap paspor pertamaku di Malaysia.

Ketipu supir Taxi di Kuala Lumpur tengah malam, kejadian pertama saat tiba di tanah Malaysia

20 Januari 2013, Pkl.22:00 waktu Kuala Lumpur, kami naik bus dari bandara ke penginapan, perjalanan sekitar 1,5 jam. Sebelum naik bus kami sudah bilang ke supir untuk diturunkan di hotel Xx (aku lupa namanya, maaf ya). Saat supir bilang sudah sampai, kami dengan ngantuk-ngantuknya langsung turun gitu aja. Saat turun malah bingung sendiri karena hotelnya nggak keliatan, maklum itu memang hotel kecil. Karena bingung dan sudah tengah malam, kami memilih bertanya pada supir taxi, lebih tepatnya nggak ada pilihan lain. Supir-supir taxi menyambut kami dengan suka cita, ada yang menjawab masih jauh dan menawarkan mengantarkan kami, dengan tariff mahal tentunya. Setelah berkali-kali nawar, akhirnya ada taxi yang memberi harga 15 ringgit atau sekitar 50ribu rupiah.

Selama perjalanan sang supir mengalihkan perhatian kami dengan asik ngajak ngobrol. Tapi kami sadar kalau kami hanya diajak mengitari tempat yang sama, kemudian diturunkan di hotel Xx yang ternyata ada di belakang bangunan tinggi tempat kami turun sebelumnya. Sang supir taxi yang keturunan India menampakkan wajahnya yang sedang menahan tawa, sambil meminta bayaran 15 ringgit. Padahal kami harusnya tinggal nyebrang doang.
Lesson learned: Sebelum turun dari bus pastikan tanya sejelas-jelasnya ke supir busnya, jangan asal turun dan tanya ke supir taxi. Tapi kalau sekarang udah nggak susah sih karena ada GPS.

Jalan-jalan bukan sekedar gaya-gayaan, jadi nggak perlu dandan berlebihan yang penting nyaman!



Saat itu Blackberry Messenger sedang pada masa kejayaannya, bisa gonta-ganti DP BBM dengan foto yang epic nan syantieq jadi kebiasaan banyak orang, termasuk aku. Mulailah memilah-milah outfit lucu buat jalan hari pertama, pilihanku jatuh pada konsep monokrom yang anggun (suka-suka elu deh Har). Pakai rok (pinjem punya Mba Kiki), pakai pashmina motif Zebra lengkap dengan ciput ninja, kaos hitam ditambah ornamen kalung vintage, dan hand bag (lagi-lagi punya mba kiki). Bukan kayak mau traveling, aku malah lebih cocok untuk datang ke acara arisan. Kebayang nggak sih gerahnya kaya apa? Cantik nggak ribet iya.

Saat itu kami ke Batu Caves yang punya ratusan anak tangga, pakai rok yang agak sempit itu kebayang nggak sih ribetnya ngelangkah gimana? Mana tangan berat sebelah pakai tas begitu. Super nggak praktis, dan di hari pertama aku jadi ngerasa capek banget, karena ribet dan nggak nyaman.

Besoknya aku memilih pakai outfit yang biasa aja, pakai kaos, celana jeans, jilbab paris, sepatu crocs, dan tas ransel kecil. Aku benar-benar merasa jadi diri sendiri saat itu, aku nggak peduli hasil fotonya bagus atau nggak, yang penting nyaman dan menyenangkan.

NB: ini bukan berarti aku menentang pakaian syari’i atau pakai rok saat traveling ya, tapi ini soal niat dan kenyamanannya. Kalau niatmu jalan-jalan pakai rok dan jilbab syari’i semata-mata karena Allah dan kamu nyaman mengenakannya, ya itu jauh lebih bagus, asal niatnya jangan kayak aku dulu aja :(
Lesson learned: Traveling itu pemuas jiwa bukan pemuas feeds di sosial media, jadi dibawa enjoy aja. Pilih outfit yang paling membuatmu nyaman bukan sekedar buat gaya-gayaan di timeline. Kecuali kalau kamu selebgram ya, itu lain cerita.

Terpisah dari Mba Kiki dan Mba Nobi di KRL. Saat aku masuk pintu KRL tertutup, mereka panik, aku panik, koko-koko sebelahku ikutan panik. Lah?

Naik KRL pada jam pulang kerja tentu sedang padat-padatnya. Aku dituntut untuk gerak cepat dan siap berdesak-desakan. Saat itu di tengah keramaian dan keganasan orang yang berebut naik KRL, aku akhirnya bisa naik. Sayangnya saat aku balik badan ternyata pintuk KRL langsung tertutup padahal Mba Kiki dan Mba Nobi belum masuk. Sontak mereka kaget, aku pun ikutan kaget, tapi lebih kaget saat aku tengok ke sebelahku ternyata koko-koko ‘kwetiau’ sebelahku ikutan kaget-melihat-kekagetan-kami.

Karena terpisah dan aku nggak punya nomor di sana, sepanjang jalan aku langsung mempelajari rute KRL. Kami masih harus transit 2x. Turun di transit station yang pertama, aku memilih berdiri menunggu mereka. Untungnya nggak lama mereka keluar juga, dengan heboh tentunya.
Lesson learned: Jangan mengandalkan satu orang, setiap orang harus paham rute dan tahu tujuan, karena kamu nggak pernah tahu kapan akan terpisah dari rombongan. Jadi kamu juga nggak perlu panik kalau nyasar di negeri orang, kalau cuma kaget aja boleh sih hahaha. 

Nyasar, kemudian debat panjang, justru membawa kami ke tempat yang aku inginkan.

Bangunan Sultan Abdul Samad-Dataran Merdeka

Saat di pesawat aku melihat-lihat majalah Air Asia, mataku tertuju pada gambar bangunan kerajaan di salah satu halamannya. Di sana tertulis terletak di Kuala Lumpur. Sontak aku memberitahu Mba Kiki, aku ingin ke sana. Tapi dia bilang dia nggak tau itu di mana, nggak ada di itinerary, hmm baiklah. 2013 nyari info di internet nggak segampang sekarang, jadi aku memilih mengurungkan niat.

Hari ke-3 perjalanan kami di KL, kami ingin shalat di Masjid Jamek tapi kami malah salah turun di 1 station sebelumnya, dan kami menyadarinya setelah keluar dari station. Alhasil kami harus jalan kaki agak jauh menuju masjid Jamek. Dengan ke-sotoy-anku, kami bukannya mendekati masjid justru semakin jauh. Sempat berdebat juga kala itu, sampai kami menyadari bahwa kami sampai di depan bangunan ini, bangunan yang ada di gambar yang kulihat di pesawat. Aku senang luar biasa, siapa sangka tempat yang aku ingin banget tapi nggak ada di itinerary justru jadi destinasi kami.
Lesson learned: Terkadang kita memang perlu nyasar untuk mendapat pengalaman yang lebih berkesan, asal abis itu tahu jalan pulang.

Dimarahin kakek-kakek keturunan Tionghoa penjual pisau saat mencari penginapan di Malaka

Saat itu kami  mencari penginapan bernama guest house xx (aku lupa namanya) di Malaka. Review di Agoda bagus makanya kami ingin menginap di sana. Namun di Agoda informasi lokasinya hanya dijelaskan berada di dekat sungai. Lah ternyata saat kami tiba di Malaka ya memang guest house-guest house di sana letaknya ya di sepanjang tepian sungai semua. Karena bingung tempatnya yang mana, kami bertiga berpencar dan bertanya pada warga sekitar. Aku memilih bertanya pada kakek-kakek berwajah oriental di gang kecil yang tengah duduk sambil berjualan.

Well, walaupun ini 5 tahun lalu tapi aku nggak akan lupa detil percakapannya.
I : Excuse me, do you know xx Guest house?
SK (Sang Kakek) : what do you want to do? (tanya SK dengan wajah jutek)
I : I want to stay overthere (jawabku ragu)
SK : CAN YOU SEE THIS ONE??? (sambil menunjuk pisau jualannya)
I : …………. okay, thank you (buru-buru melipir)

Rupanya sang kakek adalah penjual pisau yang kayaknya sepi pengunjung, mungkin dia sempat khuznudzon kalau aku menghampirinya untuk beli pisau, tapi setelah tahu aku tanya alamat sang kakek jadi makin bĂȘte.
Lesson learned: memang sih malu bertanya sesat di jalan, tapi ada hal yang tak boleh dilupakan yakni bertanyalah pada orang tepat atau sekiranya siap menjawab. Jangan asal tanya!

Guest house hasil asal pilih justru jadi awal pertemuan aku dan Kevin, sahabat--tempat sampah--sekaligus partner jalan-jalan--sampai sekarang

Busan, 2015

Akhirnya kami nggak jadi menginap di guest house yang kami incar sebelumnya, untungnya belum booking. Karena menyerah kami memilih menginap di guest house yang lain. Tapi siapa sangka, guest house tersebut membawaku bertemu Kevin untuk pertama kalinya. Walau di sana kami nggak banyak bertegur sapa, saat kembali ke Indonesia ternyata kami tergabung di organisasi yang sama, BEM KM UGM. Dari sana kami kemudian bergabung ke Komunitas Muda Menginspirasi, yang akhirnya membawaku jadi ketua dan dia wakilnya. Kevin sampai sekarang jadi sahabat sekaligus tempat sampahku curhat galau-galauan, partner jalan-jalan dan partner bikin event-event seru di luar negeri. Ahh, memang ya selalu ada kejadian tak terlupakan dari sebuah perjalanan.


Jadi kapan kamu mulai jalan-jalan dan mengisi cap paspor pertamamu? Nggak perlu yang mahal kok, kamu bisa arrange liburan murah tapi tetap berfaedah.

1 komentar:

  1. Ngakak bagian semua orang panik termasuk koko haha. Eh aku malah suka travelling pake gamis lho haha. Padahal in daily life aku jarang banget pake gamis. Alasannya 1, aku bisa sholat tanpa bawa mukena, bisa sholat dan tayamum di bus, dan lebih praktis. Mungkin krn badanku montok, jadi kalau pakai jeans suka gerah banget dan keputihan banyak *ups. Tapi yang terpenting, kita pilih yang paling nyaman. Kalau pakai gamis pun aku pake yang lebar bawahnya kurleb 2 sd 3 meter haha

    BalasHapus

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages