Sabtu, 24 Juni 2017

Berburu Tas Ransel Unik Harga Bersahabat di Yogyakarta



Walaupun bukan Dora, aku dan tas ransel memang nggak bisa dipisahkan. Selain karena aku males pake tas yang berat sebelah, tas slempang atau sling bag dan ragam tas cewek lainnya nggak cukup punya space untuk menampung barang bawaanku. Gimana nggak, setiap hari aku kerja sambil bawa laptop, dan terbiasa bawa tumbler minum kemana-mana, jadi tentu bakal repot kalau harus pakai tas selain ransel.

Bukan hanya untuk sehari- hari, tas ransel selalu jadi pendamping setiaku saat jalan-jalan, biar ala ala backpacker gitu. Dulu aku memilih beli tas ransel yang bermerek Exp*r* yang dikenal awet,. Tapi sekarang, mengingat usiaku yang #ehem udah nggak muda lagi, aku merasa nggak cocok kalau harus pakai model tas yang lebih cocok untuk anak sekolahan, walaupun memang harus diakui tas merk itu awet banget. Sekarang aku prefer beli beberapa tas yang harganya miring, buat ganti-ganti dan tentu modelnya nggak terlalu pasaran. At least di jalan aku nggak perlu kembaran tas sama anak-anak sekolahan.

Chacktuchak Weekend Market Bangkok selalu jadi pilihan buat beli tas ransel saat liburan karena modelnya unik dan udah pasti murah  ongkos ke sananya yang mahal. Berhubung nggak mungkin tiap tahun ke sana jadi aku coba cari alternatif lain dari beberapa online shop. Dengan kekuatan hengpong jadul Instagram, sampailah aku pada akun @tasfandy, model tas ranselnya lucu-lucu menurutku dan kabar gembiranya ternyata offline store nya ada di Jogja. Daebakk!

Salah satu model yang memikat hatiku adalah tas Bossfa yang satu ini, menurutku ini keliatan elegan. Cocok untuk usiaku yang #ehem udah nggak muda-muda amat, ini bisa banget buat aku pakai ke kampus ataupun ke tempat kerja. Dan betapa takjubnya aku setelah tau kalau harganya kisaran 100.000. Murah bangeeeeet!





Sempet mikir, ah pasti kalau harganya murah kualitasnya rendah, dan ternyata aku salah. Pas lihat langsung tasnya ternyata bahannya bagus. Memang sih nggak akan seawet merk-merk yang sudah dikenal tapi dengan harga segitu menurutku worth lah. Apalagi aku butuh tas ransel buat ganti-ganti jadi nggak cukup satu kan, dan beli Tas Fandy  lebih dari satu pun aku nggak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Menemukan Tas Fandy bagai menemukan air di Padang Savanna #halah, gimana nggak karena aku semacam melihat  tas-tas di Chacktuchak yang harganya bersahabat tapi produksi Indonesia, hasil asli orang Jogja.




Buatmu yang lagi liburan ke Jogja, atau mahasiswa perantau di Jogja yang lagi cari-cari tas murah tapi nggak murahan, coba deh mampir ke Tas Fandy. Alamatnya di Jln. Mataram No.92 Yogyakarta, tepatnya di seberang deretan kios sepatu, nggak jauh dari Malioboro kok. Nah, buatmu yang nggak di Jogja tenang aja, karena Tas Fandy juga menyediakan pemesanan secara online lho. Bisa lewat Instagram @tasfandy di sana ada link LINE@ nya untuk memesan, atau bisa juga pesan melalui website www.tasfandy.co.id





Kalau kamu nggak tertarik sama tas ransel nggak perlu khawatir, karena masih banyak model lain kok yang tentu nggak kalah kece dan pastinya murah. Kuy, mampir!



Before you decide to buy something, please remember this one! #SupportLocalShop

via http://www.bumptobeyond.com

Explore Nami Island : Menikmati Keindahan Alam Sambil Nostalgia Drama “Winter Sonata”




Bagi penikmat Korean drama, berkunjung ke Korea Selatan merupakan panggilan jiwa. Gimana nggak, selain menampilkan sosok oppa-oppa yang rupawan dan oennie-oennie yang berkaki jenjang, Kdrama selalu menunjukan tempat-tempat menawan yang mengundang wisatawan untuk datang. Selain Seoul dan Busan, wilayah yang akrab di telinga penikmat kdrama adalah Nami Island atau Naminara Republic. Tempat ini menjadi populer semenjak jadi lokasi syuting mega hits drama Winter Sonata, jangan tanya ini drama tahun kapan karena udah jaman baheula aing lupa tahunnya.



Saking larisnya drama ini, sampe dibuatkan Patung Winter Sonata dan bahkan ada spot ‘tempat pertemuan pertama Winter Sonata’ dan ‘tempat ciuman pertama drama Winter Sonata’. Edun! Aku nggak akan bahas banyak tentang drama Winter Sonata, karena aku juga lupa jalan ceritanya. Melainkan aku mau cerita pengalamanku halan-halan di Nami Island, mulai dari trasnportasi apa yang digunakan, biayanya, sampe di sana ngapain aja. Kuy disimak!

Beberapa blog yang aku kunjungi menyebutkan cara gampang ke Nami Island adalah dengan naik Bus tapi hanya ada di jam-jam tertentu dan lumayan pricy, atau bisa all in package (tiket bus pp + tiket masuk) tapi harus reservasi. Cara lain yang katanya mayan ribet adalah naik subway, harus 3 kali transfer train dan 1 kali naik taxi, tapi ini lebih murah. Awalnya aku dan Bunda, memilih naik bus dari Myeongdong sesuai petunjuk dari salah satu web, tapi setelah setengah jam lebih menunggu, busnya nggak kunjung datang. Herannya beberapa warga lokal pun bingung saat ditanya dan beberapa dari mereka menyarankan kami untuk naik subway aja.

Kamipun memutuskan untuk mampir Sevel beli banana milk. Loh? Ya namanya juga nunggu lama tanpa kepastian, jadi butuh asupan. Setelah cukup energi kamipun naik subway dari Myeongdong Station menuju Gapyeong Station, biayanya 2.350 won, tapi kalau pakai kartu T-Money jadi 2.250 won.

Menuju Nami Island by Train dari Myeongdong Station

  • Dari Myeongdong, pilih LINE 4 ke arah Chungmuro Station menuju Dongdaemun History & Culture Park Station
  • Dari Dongdaemun History Station, ganti LINE 2 ke arah Sindang Station menuju Wangsimni Station
  • Dari Wangsimni station, ganti Jungang LINE, pokoknya nanti ada 2 LINE kuning dan hijau, pilih yang warna hijau ya! Pilih yang kearah Cheong-nyangni dan berhenti di Mangu Station
  • Dari Mangu Station ganti Gyeongchun LINE (warna hijau tosca), nanti akan ada penanda arah menuju Gapyeong Station. Perjalanan di train ini sekitar 40 menit, jadi kamu bisa shantaaay kok nggak keburu-buru kayak di train sebelum-sebelumnya.
  • Sampai di Gapyeong station, naik Taxi ke arah pelabuhan Nami Island, biayanya kisaran 3000-4000 won. Waktu itu biaya kami dari station ke Nami 3800 won karena taxi harus muter, tapi pulangnya hanya 3000 won, dan itu untuk ber-2. Nah lebih murah lagi kalau kamu ke sana ber-4 deh.



sampe dapet petunjuk arah ini ya


Setelah tiba di pelabuhan hati mas mas saatnya membeli tiket masuk Nami Island, harganya 8.000 won per orang. Saat beli tiket jangan lupa ambil peta ya, ada yang bahasa Indonesia juga lho. Kalo udah, kamu bisa menuju Nami Island naik kapan feri. Ada yang bilang sebelum masuk kapal, paspor akan dicek di bagian imigrasi, nyatanya kami nggak dicek tuh. Tapi ya buat jaga-jaga tetep bawa paspor ya kalau ke sana. Btw, Kamu jangan membayangkan naik kapal feri dari Merak-Bakahauni yang sampe 2 jam dan mual sepanjang jalan. Naik kapal menuju Nami Island hanya 15 menit, baru naik tau-tau sampe deh, berdiri pun nggak kerasa capek.

penampakan kapal feri menuju Nami

Kalau ditotal, waktu yang dibutuhkan dari Seoul menuju Nami Island naik subway + taxi + kapal kurang lebih 2 jam, jadi biar nggak rugi berangkatlah lebih pagi ya.

Welcome to Nami Island



Nami Island akan lebih indah kalau dikunjungi di saat winter atau spring, nah waktu aku ke sana saat peralihan ke musim panas, jadi ya… lumayan aja. Soal keindangan alam, menurutku Indonesia tetap juaranya, tapi harus diakui, Korea Selatan memang Negara yang sadar wisata, jadi tempat ini benar-benar dikelola dengan baik dan sangat tertata. Di berbagai rest area dan photo stop bahkan disediakan free wi-fi. Nggak heran walaupun bukan saat weekend, tapi tempat ini tetap ramai pengunjung. 

Maple tree


ekspresi seolah ingin berkata "CIAAA"

bukan hutan pinus Mangunan
oops
Selain area pohon maple dan pohon pinus, di Nami Island terdapat hamparan bunga tulip, sayangnya aku datang saat bunga tulipnya lagi nggak berbunga. So, kalau kamu ke sana, saranku datanglah di musim semi. 

Makan Halal di Restaurant Asia Nami Island

Setelah lelah berkeliling Nami Island, saatnya isi perut. Kabar gembiranya, di Nami Island ada restoran Asia yang halal, lho. Sungguh nikmat mana yang kamu dustakan saat bisa makan makanan halal di Korea Selatan. Berada di area sentral, restoran Asia ini ramai didatangi orang-orang muslim, bahkan nggak jarang dari mereka yang mengenakan hijab. Jadi makin yakin, kan?

Harga menu yang ditawarkan berkisar 9.000-25.000 won.  Saat itu aku memesan nasi gurita asam pedas seharga 10.000 won. Menunya lengkap beserta soup, acar, kimchi, dan air mineral lho, jadi termasuknya nggak terlalu mahal.



Kalau ditanya rasanya, hmm sejujurnya aku nggak suka hahaha. Aku nggak suka segala jenis makanan Korea, kecuali Samyang. Tapi berhubung sayang kalau nggak dimakan jadi ya aku tetap makan walau hanya si gurita dan nasinya. Ibuku pesan ayam teriyaki, dan menurutku rasanya jauh lebih manusiawi sih. Aku nggak bilang makanan di sana nggak enak, tapi lidahku aja yang terlalu lidah Jawa a.k.a #TimAyamGeprek, jadinya nggak bisa dikasih makanan mahal yang agak aneh. 

Tapi kalau kamu muslim, makan di restoran ini hukumnya wajib ain deh, karena nggak ada pilihan lain.

Setelah puas jalan-jalan dan perut sudah kenyang, saatnya menghitung total budget

Kalau kami tetap kekeuh ingin naik bus karena ribet naik subway menurutku nggak apa-apa sih, tapi alangkah baiknya kalau kamu reservasi dulu minimal H-1 sebelum ke Nami Island. Biayanya (termasuk tiket bus pp + tiket masuk) adalah 25.000 won per orang. Karena kalau kamu nggak pesan atau beli tiket bus go show belum tentu ada, kayak aku kemarin. Nah kalau kamu tertarik naik subway, berikut rincian biayanya (all in)

Tiket Seoul - Gapyeong station : 2.350 won
Taxi Gapyeong - Pelabuhan Nami : 3.800 won/ 2 orang =  1.900 won
Tiket masuk Nami Island : 8.000 won
Taxi Pelabuhan Nami - Gapyeong station : 3.000 won/ 2 orang = 1.500 won
Tiket Gapyeong station - Seoul : 2.350 won 

Total biaya transportasi : 18. 450 won 
Makan halal : 10.000 won 

Nah gimana lebih hemat kan? Atau malah kamu berpikir 'ahh harga nggak beda jauh'? Kalau iya berarti kita sepemikiran hahaha, nggak deng. 

Intinya kalau ke Korea Selatan jangan hanya ngubek-ngubek kota Seoul ya, mampirlah ke Nami Island karena ada banyak hal menarik yang bisa kamu temukan.







Jumat, 09 Juni 2017

Pengajuan Visa Korea-mu Nggak Akan Ditolak, Kalau Kamu Memperhatikan Beberapa Hal Ini!



Annyeong Hashimnikka~

Tiga minggu lalu aku baru saja pulang dari Seoul Korea, tapi sebelum aku cerita tentang traveling ena-ena di sana, aku akan bahas soal drama mengurus visa yang aku alami. Karena cinta harus diperjuangkan jadi ketemu oppa-oppa tampan pun butuh perjuangan #halah. Sebenarnya mengurus visa Korea nggak sesusah itu sih, hanya nggak bisa dianggap gampang juga, intinya kudu well prepare, karena Kedutaan Korea cukup ketat. Bukan, bukan bajunya yang ketat tapi celananya aturannya, berkasnya kurang sedikit aja pasti akan ditolak dan disuruh balik lagi setelah dilengkapi, bahkan udah lengkap tapi nggak sesuai pun bisa jadi kamu ditolak.

Sebenarnya kalau nggak tinggal di Jakarta aku sih prefer untuk ngurus visa di travel agent, karena jatohnya akan lebih mahal kalau aku harus bulak balik Jogja-Jakarta dan biar bisa save energy juga. Selain itu travel punya jalur pengajuan visa khusus, jadi kemungkinan ditolak akan lebih kecil. Tapi sayangnya saat itu aku terlalu mepet jadi travel agent di Jogja nggak ada yang bisa. So, mau nggak mau aku harus urus sendiri ke Jakarta, untungnya kantor tempatku bekerja ada cabang di Jakarta jadi nggak perlu ambil cuti, bisa urus visa sambil ‘nyicip’ kerasnya kerja di ibukota, ciaa.

Kedutaan Korea Selatan

Saat itu aku datang ke Embassy of The Republic of Korea (Jalan Jendral Gatot Subroto Kav.57 Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan) pkl.08:10 dan aku dapat antrean 001, yah urutan pertama. Pengurusan visa dibuka pkl. 08:30. Berkas yang harus disiapkan antara lain;
  • Foto ukuran 3,5 x 4,5 (background putih) 2 lembar
  • Form Aplikasi (download di sini )
  • Paspor asli dan fotocopi
  • Kartu Keluarga asli dan fotocopi
  • Surat Keterangan Kerja
  • SIUP tempat bekerja
  • Rekening Koran
  • KTP asli dan fotocopy
  • SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak)
  • Tiket pesawat dan tanda booking penginapan (jika ada)
  • Biaya pembuatan Rp.544.000,-

Dari berkas di atas, aku melewatkan SPT karena memang belum punya. Sedangkan rekening koran yang aku lampirkan adalah rekening koran orang tua karena saat itu aku baru pindah rekening. Aku cukup percaya diri nggak akan ada masalah, karena sebelumnya aku pernah ke Korea saat masih mahasiswa di awal tahun 2015 dan saat itu aku menyantumkan rekening koran orang tua, jadi aku pikir sekarang sama aja. Tapi ternyata, kelulusan mengubah segalanya. Sebagai orang yang sudah bukan mahasiswa, di usia produktif, dan punya pekerjaan, seharusnya aku sudah menikah memiliki SPT sendiri dan wajib melampirkan rekening koran pribadi berapapun nominal yang tertera.  Jadilah berkasku langsung ditolak oleh petugas Kedutaan.

Buku tabunganku ada di Jogja, dan aku belum punya SPT karena bahkan aku belum mengurus NPWP. Petugas bilang kalau memang belum memiliki SPT, kantor tempatku bekerja harus membuatkan Surat Pernyataan disertai alasan kenapa aku belum punya SPT. Mengingat kemacetan Jakarta yang rodo’ hewani, aku nggak mungkin bulak balik kantor untuk sekedar minta surat, karena pengurusan Visa tutup pkl. 11:30 terlebih itu hari Jumat.

Setelah  merepotkan teman di Jogja untuk ke bank, aku baru tau kalau nyetak rekening koran nggak boleh diwakilkan dan bisa dilakukan dengan cukup menyertakan kartu ATM, nggak harus buku tabungan. Kayanya aku mainnya kurang jauh jadi nggak tau soal beginian. Akupun mengurus rekening koran di bank yang berada di gedung Krakatau steel, nggak jauh dari Kedutaan.

Terkait SPT, setelah browsing format surat di google, aku membuat surat pernyataan kemudian mengirimkan ke kantorku via email untuk dikoreksi,  ditandatangani lengkap dengan cap resmi kantor oleh atasan, di-scan dan dikirim ulang ke emailku. FYI, saat aku mencari format di google dengan keyword “surat pernyataan SPT”, yang keluar di page pertama semuanya tentang mengurus visa Korea, which is SPT adalah masalah paling common saat pengajuan visa Korea. 


contoh surat pernyataan belum memiliki SPT


Aku menyantumkan contoh surat pernyataan belum memiliki SPT, khusus buat kamu yang kepepet aja ya, kalau nggak kepepet mending segera urus SPT, bukan hanya demi visa Korea dan ketemu oppa, tapi demi menjadi warga Negara yang baik #TiraforRI1.

PS: Info yang nggak kalah penting buat kamu yang mengalami kejadian kayak aku, tempat fotokopi di sekitar Kedutaan ada di gedung Surveyor (tepat di sebelah kanan Kedutaan), tapi di sana nggak bisa untuk ngeprint. Ada warnet yang bisa untuk ngeprint,  di belakang gedung Krakatau Steel (agak masuk gang) namanya warnet Pak Dody, tanya aja ke satpam pasti pada tau deh.

Setelah urusan surat beres, aku kembali ke Kedutaan pkl. 11:15, yang mana 15 menit lagi antrean ditutup, telat sedikit aku bisa jadi nggak berangkat ke Korea tuh. Berkasku pun diterima dan visaku bisa diambil setelah 6 hari kerja, nggak termasuk hari pengajuan. Padahal setahuku proses pembuatan visa Korea itu selama 5 hari kerja dan terhitung saat hari pengajuan. Tapi ternyata kebijakan penambahan hari memang baru diresmikan sejak tanggal 21 Maret 2017.  Agak was-was juga karena artinya visaku baru jadi tanggl 9 Mei, padahal tanggal 11 Mei aku berangkat ke Kuala Lumpur via Jogja.

Dari drama yang aku alami selama mengurus visa Korea, beberapa hal ini mungkin bisa jadi pembelajaran buat kamu yang akan ke Korea dan pasti mengurus visa (baik via travel agent atau mengurus sendiri);
  1. Pastikan jangan terlalu mepet, paling nggak sebulan atau 3 minggu sebelum berangkat
  2. Pastikan surat keterangan kerja, SIUP dan SPT lengkap, karena pihak Kedutaan Korea sangat concern pada isu TKI Ilegal, so usia produktif tanpa pekerjaan yang jelas pasti akan dipersulit
  3. Datang ke Kedutaan lebih awal, jadi kalau ada berkas yang kurang masih bisa diurus hari itu juga, biar nggak perlu bolak-balik hari berikutnya
  4. Nggak ada minimum saldo rekening, berapapun jumlahnya tetap harus menyertakan rekening koran pribadi. Dengan catatan cash flow nya jelas, dan kamu bisa juga melampirkan slip gaji bulanan kalau ada.
  5. Pernah ke Korea sebelumnya belum tentu jadi jaminan berkasmu akan langsung diterima-terima aja, selama belum lengkap pasti akan tetap ditolak dan diminta untuk melengkapi.

PS: Poin di atas berlaku untuk orang-orang di usia produktif yang sudah lulus sekolah/kuliah ya. Kalau kamu masih mahasiswa/ pelajar jangan lupa sertakan KTM atau kartu pelajar,  untuk rekening Koran dan SPT silakan lampirkan milik orang tua.

Buatmu yang ingin ke Korea, berencana pergi ke Korea, bercita-cita menikahi orang Korea, atau yang mencintai Ajusshi dan Oppa apa adanya, semoga tulisan ini bisa mencerahkan ya :) 

Btw, setelah visa Korea, enaknya nulis tentang apa ya? How to get Nami Island atau full cerita perjalanan di Korea atau tips berburu skin care di Korea, any idea?



Baca Juga : Tips Berburu Skincare di Korea

Sabtu, 03 Juni 2017

Traveling Hemat Ke Tokyo-Jepang, Karena Jalan-Jalan Nggak Melulu Harus Punya Banyak Uang (Part 2)

Day 3 (Asakusa, Odaiba, dan Ameyeko Market)

Hari ini harusnya rencana kami ke Gunung Fuji di Kawaguchiko, tapi berdasarkan ramalan cuaca wilayah Kawaguchiko hari itu dan besoknya hujan. Karena nggak memungkinkan untuk ke sana saat hujan jadilah kami batal ke sana dan mengubah itinerary. Untungnya di ramalan cuaca wilayah Tokyo hari ini. Btw, untuk hari ini karena harus beberapa kali transfer train dan jarak destinasinya jauh jadi sebaiknya beli one day pass multiple, so aku nggak akan menjabarkan detail harga tiket.

Asakusa : Dari Ikebukuro naik kereta JR Yamanote Line (yang warna hijau) pilih yang ke arah Otsuka, setelah 8 station turun di Ueno station untuk transfer ke Asakuka. Setelah tiba di Ueno station, ikuti tanda Ginza line (huruf G dengan lingkaran orange), harap sabar karena jalannya lumayan jauh. Naik Tokyo Metro Ginza Line menuju Asakusa (G19), setelah 3 station kamu akan tiba di Asakusa station, pilih Exit 1 dan jalan sekitar 5 menit ke kanan untuk menuju ke Sensoji Temple. Gimana ribet kan? hahahha banget! Lebih ribet lagi kalau beli tiket satu-satu nggak pakai one day pass multiple line

Sensoji Temple di hari Minggu
Nakamise Shopping Street, Asakusa

Odaiba : Setelah foto-foto di Sensoji Temple dan explore Asakusa, saatnya melihat pemandangan laut di Odaiba. Dari Asakusa menuju Odaiba naik kereta Tokyo Metro Ginza Line menuju Shimbashi Station. Dari Shimbashi Station ke Odaiba Station naik kereta via Yurikamome Line. Sepanjang perjalanan kamu akan melihat pemandangan lautan yang cantik dan tata bangunan yang epic.

Kalau kamu hanya ingin ke Odaiba Statue of Liberty lebih dekat kalau turun di Daiba station, tapi kalau mau jalan dari Odaiba juga nggak terlalu jauh sih. Kamu bisa menyusuri jalanan Odaiba yang nggak se-crowded Tokyo bisa mampir makan di Yoshinoya atau belanja skincare di Matsumoto KiYoshi, lanjut melewati tepi laut Odaiba, lebih asik sih. 


sepanjang jalan dari Odaiba Station menuju Statue of Liberty 
Statue of Liberty, Daiba

Ameyeko Market-Ueno : Setelah puas foto-foto dan beli souvenir, saatnya belanja oleh-oleh camilan. Dari Daiba station naik kereta Yurikamome Line ke Shimbashi station, kemudian ikuti Ginza Line dan ada banyak pilihan kereta ke Ueno station. Setelah tiba di Ueno station keluar melalui Shinobazu Exit. Nanti akan langsung terlihat keramaian di seberang jalan. 



Ameyoko Market, Ueno
Ameyoko market terkenal sebagai pasar murah di Tokyo semacam Malioboro atau Chacktuchak deh, tapi sayangnya dari pengalamanku kemarin, di sini nggak ada souvenir khas Jepang, lebih banyak makanan. Jadi saranku kalau mau beli souvenir khas belilah di Asakusa, tapi untuk oleh-oleh makanan kemasan belilah di Ameyoko Market. Berbagai jenis makanan kemasan rasa matcha, rumput lain, coklat lengkap di sini, harganyapun lebih murah dibanding di tempat lain.

Day 4 (Ueno Park & Zoo, Tokyo Disneyland, Shinjuku and bye-bye Tokyo)


Salah satu alasan kenapa kami menginap di Sakura Hotel adalah selain dekat dengan Ikebukuro station juga dekat dengan pemberhentian bus menuju Haneda Airport. Jadi hari ini kami check out dari pagi dan menitipkan koper di baggage room hotel, dan kembali malam hari karena flight ke Seoul jam 2 pagi.

Ueno : Sebenarnya kami nggak berencana ke sini, tapi berhubung ke Kawaguchiko hujan (lagi) jadilah hari ini kami ke Ueno. Banyak tempat menarik di Ueno terutama saat musim semi dan dari sana akses ke banyak tempat wisata lebih mudah, jadi kalau kamu punya budget lebih bisa deh cari penginapan di daerah ini. Dari Ikebukuro station naik kereta JR Yamanote Line (warna hijau) pilih yang ke arah Otsuka menuju Ueno station, harga tiketnya 160 yen. Setelah sampai, keluar melalui Central Exit untuk menuju Ueno Park. Area ini bagus banget kalau musim semi, sayangnya saat itu sedang peralihan ke musim panas, jadinya b aja deh. 

Ueno Park & Zoo
Tokyo Disneyland : Setelah puas keliling-keliling Ueno Park dan Ueno Zoo, kami memutuskan untuk ke Tokyo Disneyland. Berhubung judulnya traveling hemat jadi tenang aja, kami nggak masuk kok cuma penasaran pingin liat, toh area sekitar Disneyland cukup luas untuk foto-foto atau sekedar belanja souvenir a la Disney. Lagipula saat itu udah siang, jadi rugi dong kalau masuk tapi cuma sebentar. Untukmu yang tertarik masuk Disneyland, tiket masuknya 7.400 yen atau sekitar 800ribu rupiah. Menuju Disneyland dari Ueno station pilih kereta apapun yang ke arah Tokyo station, lalu transfer kereta menuju Maihama station, harga tiketnya 270 yen.  


Shinjuku : Setelah foto-foto dan mampir ke Disney store, kami menuju Shinjuku. Dari info beberapa teman, katanya di Shinjuku station banyak dijajakan baju dan tas lucu dengan harga murah. Walaupun nggak tertarik belanja, tapi kami tetap ke sana untuk menjawab rasa penasaran. Dari Tokyo Disneyland kami naik kereta ke arah Tokyo station, kemudian transfer kereta JR Yamanote line ke Shinjuku station, harga tiketnya 270 yen. Dan saat tiba di sana, masih di dalam station, akan berjajar baju dan tas harganya berkisar 1000-10.000 yen

Nggak teralalu lama di Shinjuku, kami memutuskan untuk kembali ke Ikebukuro, seperti biasa naik kereta JR Yamanote Line (warna hijau), dengan harga 160 yen. Setelah makan malam, dan istirahat sejenak, kami menuju ke Haneda Airport dan bersiap ke Seoul. Tempat halte busnya berada tepat di seberang west exit Ikebukuro station tepatnya di sebelah gedung McD. Harga tiket bus dari Ikebukuro ke Haneda airport adalah 1.230 yen dan perjalanan sekitar 1,5 jam.

bus stop Ikebukuro ke Haneda Airport

Tokyo adalah kota yang sangat modern, crowded, dan untuk transportasinya sangat kompleks, untungnya di setiap station selalu ada bagian informasi yang sangat helpful. Untukmu yang suka dengan suasana perkotaan, ramainya jalanan dan tata bangunan yang tinggi menjulang, datang ke Tokyo pasti akan terasa menyenangkan. Tapi kalau kamu ingin liburan yang menyatu dengan alam, cari keheningan, dan leyeh-leyeh dengan tenang mending jangan ke Tokyo deh serius hahaha. Karena selama 4 hari aku di sana aku jarang banget menemukan tempat duduk di stasiun untuk sekedar leyeh-leyeh, aku cuma bisa duduk di Mahaima station. Bahkan di halte bus Ikebukuro pun nggak ada tempat duduk.

Berdasarikan pengalaman, menurutku 4 hari 3 malam explore Tokyo itu cukup banget, bahkan harusnya bisa dipadetin jadi 3 hari aja, 1 harinya tetep ke gunung Fuji di Kawaguchiko (kalau nggak ujan) atau kalau punya waktu lebih lama mending sekalian ke Kyoto atau Osaka. Kalau ada tiket promo lagi deh baru merencanakan ke sana hahaha #timtiketpromo.

Sekarang saatnya bilang sayonara Tokyo, arigatou gozaimasu~



Jumat, 02 Juni 2017

Traveling Hemat Ke Tokyo-Jepang, Karena Jalan-Jalan Nggak Melulu Harus Punya Banyak Uang (Part 1)



Konichiwa~

Akhirnya semangat nulis blog lagi, setelah menunda berminggu-minggu karena terlalu sibuk nonton video biskuat. Sebagai newbie yang nulis blog cuma kalo lagi mood, aku seneng banget beberapa minggu terakhir banyak yang nge-dm bilang nungguin tulisanku di blog, sampe ada yang ngirim email. Nggak nyangka ternyata ada orang yang baca blogku selain aku sendiri, keluarga dan teman-teman terdekat yang itupun baca karena dipaksa. Insya Allah abis ini bakal sering-sering nulis deh, dan semoga isinya lebih bermanfaat dan nggak sekedar curhat-curhat.

Well, kalau sebelumnya aku sempet cerita soal menguruse-passport demi bebas visa ke Jepang. Kali ini aku akan menceritakan perjalananku ke Jepang. Awalnya, aku merencanakan ke Jepang bersama ibu dan adikku sejak tahun 2016, saat itu ada tiket promo Malaysia Airlines KL-Tokyo seharga Rp.500.000, tanpa ba bi bu langsung booking untuk tanggal 12 Mei 2017. Dengan asumsi saat itu adikku, Regina, udah selesai UN, tapi ternyata di awal Mei dia harus daftar ulang kuliah jadilah Regina batal berangkat. Untungnya baru dipesan tiket berangkat jadi nggak rugi amat.

NB : Tiket promo itu akan datang kapan saja dan lenyap dalam hitungan menit, jadi kalau dapat info promo jangan banyak pertimbangan, karena tiket pasti akan segera diserbu kaum-kaum haus piknik lain. Saat langsung booking tiket promo, plusnya kamu bisa mempersiapkan liburan jauh-jauh hari, minusnya kamu mungkin nggak jadi berangkat karena di tanggal yang kamu pesan ada hal yang nggak boleh kamu tinggalkan.

Aku pesan tiket Jogja-KL sejak bulan Maret 2017, 2 bulan sebelum berangkat, jadi masih dapat harga promo. Saat ingin memesan tiket pulang, ternyata Tokyo-KL terlalu mahal, jadi harus putar otak menentukan tanggal dan jalur pulang yang lebih murah. Saat itu tiket Tokyo-Seoul nggak terlalu mahal, dan Seoul-Jakarta pun lagi promo, jadilah kami memilih untuk sekalian ke Seoul. Kebetulan bunda memang belum pernah ke Korea, dan aku lagi gila-gilanya suka drama Korea.

Jadi kalau ada yang bilang “hedon banget sih liburannya udah ke Jepang masih ke Korea juga”. Etdaah ini bukan hedon, ini strategi penghematan, karena saat itu justru lebih mahal kalau ke Jepang doang. Nggak percaya? Berikut rincian harga tiket (dengan pembulatan biar enak ngitungnya);
Jogja-KL : Rp. 399.000 (by Air Asia)
KL-Tokyo : Rp. 500.000 (by Malaysia Airlines)
Tokyo-Seoul : Rp. 1.300.000 (by Peach Airlines)
Seoul-Jakarta : Rp. 1.900.000 (by Air Asia)
Jakarta-Jogja : Rp. 250.000 (naik kereta)
Total : Rp. 4.349.000

Setelah clear urusan tiket, saatnya membuat itinerary atau rencana perjalanan. Kami di Jepang selama 4 hari 3 malam, berikut detail itinerary dan rincian pengeluaran selama di Jepang;

Day 1 (Tiba di Narita Airport dan explore Ikebukuro)

Kami menginap di daerah Ikebukuro-Tokyo, dari Narita Airport menuju ke sana kami naik NEX (Narita Express) dengan harga 3.190 yen, ini bisa lebih murah kalau beli round trip ticket, tapi berhubung kami pulang dari bandara Haneda jadi beli yang one way ticket. Kalau naik ini pastikan nggak terlambat masuk keretanya ya, apabila di tiket tertera berangkat pkl.18:02 maka kereta akan tiba pkl. 17:58 dan akan langsung berangkat 18:02, karena kereta cepat.

Sakura Hotel jadi pilihan kami menginap, yang cukup dekat dari Ikebukuro Station, sekitar 200 meter dari Exit West dan 100 meter dari Echika Exit. Harga kamar (double bed) per malamnya 9300 yen, sekitar 1 jutaan rupiah untuk berdua. Jepang memang mahal untuk urusan penginapan, syedih. Kalau kamu datang sendiri atau sekalian datang rame-rame bareng teman muda mudi mending pesan dormitory untuk 8 orang per kamar, per malamnya 3300 yen untuk tiap orang. Kalau mau lebih hemat bisa coba pakai Airbnb deh, tapi aku kurang tau sih karena belum pernah coba.

Sakura Hotel, Ikebukuro
Di Sakura Hotel terdapat cafe dan lokasinya cukup strategis karena berada di sekitar restoran, seven eleven, tempat pijat, bahkan tempat karaoke, dan yang terpenting dekat Matsumoto KiYoshi (tempat berburu skin care Jepang). Ah iya, yang nggak kalah penting di hotel ini ada shared kitchen, jadi buat makhluk yang menghamba pada Indomie dan rendang kering saat traveling (kayak aku) lumayan membantu mengamankan kantong dan perut. 

NB: Makan di Jepang lumayan mahal, sekali makan bisa dapet 1 item skin care. Jadi saranku bawa makanan kering dan Indomie, terus beli nasi di Seven Eleven (120 yen), tapi Indomienya yang real meat ya biar 'agak' sehat lah ada daging-dagingnya dikit #malahjadipromoindomie. Wisata kuliner Jepang cukuplah di saat siang, pagi dan malam makan bermodal perbekalan.

Day 2 (Explore Akihabara, Shibuya, dan Harajuku)

Berada di Jepang membuatku akrab dengan aplikasi ramalan cuaca, biar persiapan dan nggak salah outfit. Hari ini ramalan cuaca mengatakan wilayah Tokyo akan hujan seharian, dan semua orang sudah persiapan bawa payung dan pakai jaket. Bermodalkan payung dari hotel hari ini kami city tour, karena hujan nggak boleh jadi halangan untuk explore negeri orang. Pilihan kami ke Akihabara, Shibuya dan Harajuku.

Akihabara : Dari Ikebukuro station naik kereta JR Yamanote Line (warna hijau) pilih yang ke arah Otsuka, setelah 10 station kami tiba di Akihabara, harga tiketnya 160 yen. Kalau kamu pecinta AKB 48 kamu wajib mampir ke sini karena ada AKB Cafe, Shop and Theater. Untuk ke sana, dari Akihabara Station pilih The Electric Town Exit, setelah keluar akan langsung terliat cafe AKB 48 di sebelah kanan. Berhubung aku nggak tertarik dengan AKB48 jadi cukuplah foto di depannya, masuk ke shop nya untuk lihat-lihat sebentar sekalian neduh karena hujan deras. Di kawasan Akihabara ini juga banyak terdapat store Gundam nih cocoklah buat cowok-cowok.

penampakan member~karaoke48
Shibuya : Setelah hujan nggak terlalu deras, kami menuju ke Shibuya. Dari Akihabara station naik kereta JR Yamanote Line (warna hijau) pilih yang ke arah Kanda, setelah 12 station kamu akan tiba di Shibuya, harga tiketnya 170 yen. Tempat ini adalah tempat yang wajib dikunjungi saat ke Tokyo, karena ada patung Hachiko, Shibuya Cross (lampu lalu lintas tersibuk di dunia) dan banyak terdapat mall dan cafe di sana. Saat keluar dari Shibuya station , pilih Hachiko Exit dan kamu akan langsung melihat patung Hachicko di sana, ada juga tembok yang Insagramable bergambar anjing dengan nuansa warna warni. Jalan sedikit kamu akan langsung menemukan kepadatan lalu lintas a la Shibuya Cross, setelah menyebrang akan langsung tiba di area belanja dan resto.

Shibuya saat hujan seharian :(
Harajuku : Setelah foto, makan, dan berkeliling Shibuya, saatnya ke tempat gaul anak-anak Jepang, Harajuku. Dari Shibuya station naik kereta JR Yamanote Line (warna hijau) pilih ke arah Harajuku, cuma 1 station kamu langsung sampai deh, harga tiketnya 140 yen. Di sini tempatnya surga belanja anak-anak muda Jepang. Kalau Shibuya punya Shibuya cross yang nggak pernah sepi, kalau di sini ada Takeshita street yang begitu ramai dengan pejalan kaki, bahkan hujan deraspun tetep rame banget. Kebayang kan gimana susahnya jalan saat payung sangkut-sangkutan?

Di sini aku belanja beberapa item skin care (titipan orang), sebenarnya di Ikebukuro juga ada, tapi biar greget jadi belinya di sini, sekalian berteduh juga sih. 


Back to Ikebukuro : Setelah belanja titipan skin care dan hari mulai gelap, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Dari Harajuku station naik kereta JR Yamanote Line (warna hijau) pilih yang ke arah Yoyogi, setelah 6 station sampai deh ke Ikebukuro, harga tiketnya 140 yen.

NB : Kalau destinasimu lebih banyak dari ini dan beberapa kali transfer, saranku beli one day pass multiple train seharga 1500 yen, ini bisa digunakan 24 jam. Tapi kalau hanya seperti itinerary di atas, mending beli tiket terpisah aja karena bisa lebih murah. 

Untuk hari berikutnya aku buat terpisah ya biar kalian nggak capek bacanya dan aku nggak capek nulisnya hahaha. Jadi tunggu aja tulisan selanjutnya :)



Baca Juga : Lika-Liku Mengurus E-Passport Demi Bebas Visa ke Jepang

Baca Juga : Traveling Hemat Ke Tokyo-Jepang, Karena Jalan-Jalan Nggak Melulu Harus Punya Banyak Uang (Part 2)
Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages