Kamis, 11 Mei 2017

Tentang Malang, Kota yang Gampang Bikin Aku Sayang



Di kereta malam menuju Jogja aku merasa penat dan badan butuh istirahat tapi mata masih enggan untuk merapat. Aku memikirkan betapa lelahnya dua minggu ini. Belum hilang letihnya harus bulak balik Jogja-Surabaya mengurus e-passport, masih harus bulak balik urus visa ke Jakarta, lalu kembali ke Jogja, selang beberapa hari langsung ke Malang dan Surabaya untuk urusan pekerjaan. Dan hari ini menulis di bandara selagi menunggu pesawat ke Kuala Lumpur (tulisannya menyusul).

Aku, stasiun, bandara dan abang gojek seolah berteman baik bak sahabat karib. Tapi, bukan Harda namanya kalau mengeluh begitu saja, aku mulai memikirkan hal-hal yang membangkitkan semangat. Hal pertama yang terlintas adalah Kota Malang, yah kota ini begitu mudah membuatku terngiang kemudian sayang. Baru dua kali datang ke kota ini, dan keduanya hanya dihabiskan selama 2 hari. Bukan untuk liburan, keduanya adalah urusan kerjaan.

Semangat anak-anak mudanya membuat Malang begitu istimewa

miluv <3

Kali ini aku ingin stereotyping menilai anak-anak muda Malang. Semuanya menyenangkan dan penuh semangat, yah semuanya. Entah kenapa orang-orang Malang yang aku kenal begitu membuatku terkesan. Mulai dari Mas Pungky, Mas-Mas ulala yang selalu bahagia dan membahagiakan. Disfira, oennie-oennie idola yang selalu bisa menyenangkan banyak orang. Shinta dan Rina Hadi 2 prempuan keren yang selalu menginspirasi. Dan yang pasti semua anak2 Hipwee Community Malang, sengaja nggak aku sebut satu-satu karena semuanya mengesankan. 

Tahun lalu aku pernah bilang ke Fanbul, "capek sih, tapi liat mereka semangat gitu, capeknya langsung ilang". Kali ini aku pikir akan berbeda, ternyata jauh lebih terasa sayangnya. Uuuwwh #lebaynggaksih Dari pengamatan singkatku, anak-anak muda di Malang memang nggak se-ambis anak-anak muda di kota besar lain seperti Jakarta, Surabaya atau Jogja, tapi semangat, kemauan untuk belajar, serta loyalitas mereka tinggi. Aku yakin akan banyak orang-orang besar yang lahir dari kota ini, akan lebih banyak Iwan-Iwan Setyawan yang lain, dan semoga orang-orang di foto di atas akan jadi salah satunya.


Untuk pecinta segala makanan sepertiku, Malang bagaikan surga dunia


Bakso, pecel, kripik-kripik buah, menjes, ayam nelongso, apel dan masih banyak lagi. Berlama-lama di Malang kayanya bobotku bisa meningkat tajam deh,. Sebagai orang Jawa kelahiran Sumatera, aku menyayangkan makanan-makanan di Jogja yang terlampau manis, tapi lebih manis kamu sih, yang membuat tingkat tolerasi kepedasanku menurun drastis. Sedang di Malang, aku merasa makanannya lebih variatif, dan bisa dibilang lebih berani, pedasnya serasa di Sumatera. Apalagi baksonya, kalau soal ini nggak perlu dibahas juga udah jelas. 11-12 enaknya sama bakso Sony Lampung deh.  

Namanya juga udah sayang, liat jalanan di Malang aja aku udah senang

Seperti kota wisata pada umumnya, Malang juga macet di akhir pekan. Tapi ya tetap nggak sepadet Malioboro saat long-weekend atau Jakarta di hari kerja, macetnya masih batas wajar. Berhubung aku tipe orang yang mencintai apa adanya, jadi macetnya Malang nggak akan aku permasalahkan hahaha (apaan dah). Sekilas terlihat seperti jalanan Bandung yang saat malam, yang bisa disusuri dengan berjalan kaki, tata kotanya juga mirip-mirip. Suhunya juga sejuk seperti di Bandung, kalau kamu suka dengan Kota Bandung mungkin kamu juga akan suka dengan kota ini. 


Begitu banyak tempat menarik untuk dikunjungi, bahkan sesederhana kampung yang diubah jadi warna warni

ini toilet lho

bukan pesan sponsor

Berhubung aku belum pernah 'bener-bener' wisata ke Malang jadi aku belum bisa menjelaskan tentang tempat-tempat wisatanya. Tapi ada satu tempat yang aku soroti, namanya Kampung Warna Warni Jodipan. Kampung ini sebenernya perkampungan biasa, yang nggak jauh dari rel kereta dan terletak di pinggiran sungai. Kalau di Jogja semacam area perkampungan kali Code deh. Tapi yang membuat ini jadi spesial karena kampung ini dicat warna-warni. Perpaduan warnanya dan tambahan ornamen lucu yang juga warna warni membuat kampung ini jadi tujuan wisata yang menarik. Ngadain event di sini juga nggak kalah asik, yah walau kalau siang panas terik. 




Banyak hal yang menarik dari kota ini, yang kayanya butuh berparagraf-paragraf lagi untuk ditulis, tapi biar nggak bosen jadi sampe sini aja deh. Semoga aku bisa datang lagi ke kota Malang, bisa beneran liburan jalan-jalan bukan lagi urusan kerjaan. 

Kalau aku bisa memilih di kota mana aku ingin menghabiskan masa tua, maka Malang adalah jawabannya.







6 komentar:

  1. Aku belum pernah ke Malang Tir. Tiap baca tulisan travel ke sana aku baper haha. Smeoga habis lebaran bisa main ke malang deh!

    BalasHapus
  2. Ayo ke Malang Er, sekali ke sana pasti pingin lagi deh. Ngangenin kaya Jogja

    BalasHapus
  3. kita mulai dari pertanyaan paling receh dimuka bumi ini: "lebih sayang malang apa pacar hayooo?" oke skip

    btw aku belom pernah ke malang mba, dan postinganmu ku bookmark buat referensi kampung jodipan hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah lebih sayang sih kalo punya pacar di Malang #halah

      ayo ke Malang mba, dijamin langsung sayang deh hihii

      Hapus
  4. Daaaaaaamn kamu bikin aku mupeng dan pengen segera ke sana!

    BalasHapus
    Balasan
    1. kudu diagendakan deh ke Malang Han, bikin kangen banget soalnya

      Hapus

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages