Kamis, 12 Januari 2017

Wanita Paruh Baya Penjelajah Dunia, yang Kupanggil Bunda

Netherlands, Oktober 2016


Wanita ini bernama Temuningsih. Ia adalah seorang guru, istri, dan ibu dari 3 gadis prempuan yang punya karakter beragam. Mba Kiki si sabar dan berbakti, Regina si galak yang super pintar, dan aku si nekat yang menyebalkan merupakan anak-anaknya yang selalu ia banggakan. Iya, ia adalah ibu sekaligus partner debat terbaikku

10 tahun yang lalu ia hanyalah guru Bahasa Inggris SMA biasa yang berjuang menyelesaikan thesis nya. Lulus kuliah S2 -yang didapat dari penghargaan guru berprestasi daerah- merupakan mimpi terbesarnya saat itu. Tak pernah terpikirkan ia akan melangkah sejauh ini, berkeliling dunia melampaui mimpi-mimpi yang pernah ia miliki.

Aku masih ingat kala pertama ia dengan senangnya bercerita kalau ada seorang murid binaanya di English Club yang mengajak jalan-jalan ke luar negeri. Rasanya ia tak percaya bisa ke luar negeri bersama 2 murid SMA saat usianya tak lagi muda. Herannya, ia yang biasanya hanya jalan kaki dari rumah ke warung langganan harus siap untuk berjalan berjam-jam di negeri orang.

Sepulang dari plesir pertamanya ia terus menerus cerita soal pengalamannya berjalan jauh menuju Petronas, tentang menghemat uang makan, tentang indahnya China Town (ia adalah pengagum budaya dan etnis Tionghoa) dan cerita-cerita yang butuh 7 hari untuk diselesaikan. Dari sanalah Bunda bertekat suatu saat akan menapakan kaki ke luar negeri lagi. Ia memanfaatkan facebooknya untuk berkenalan dengan penduduk lokal negara yang ingin dikunjungi. Bergabung di group backpacker dunia dan pemburu tiket murah, hingga memantau promo tiket Air Asia. Ia bahkan membeli buku-buku cara hemat ke luar negeri dari berbagai negara, bukan, bukan ia yang baca tapi Mba Kiki yang disuruh baca kemudian diceritakan padanya. Mba Kiki memang si sabar dan berbakti.

Sadar kalau jalan-jalan ke luar negeri butuh biaya, sementara gaji guru juga tak banyak dan tanggungan yang tak sedikit. Ia mengajak kami sekeluarga untuk buka usaha perjalanan wisata bernama “Kirana Tour and Travel”. Kirana adalah singkatan dari nama ketiga anaknya; Kiki-Tira-Regina. Karena ini bisnis keluarga, maka semua anggota terlibat di dalamnya.

Bapak yang paham soal administrasi, birokrasi dan perizinan, bagian mengurus segala legalitas usaha dan kerja sama dengan maskapai. Mba Kiki yang membuat design publikasi, menyusun alur kerja dan pembukuan secara detail. Regina dari usia 10 tahun sudah mengurus sistem ticketing dan segala pembayaran dengan internet banking.  Urusan “ngomong” dan berjejaring adalah hal yang bisa aku andalkan, aku membuat tour mahasiswa dan menjadi guide. Traveling bukan lagi mimpi Ibu semata tapi jadi mimpi setiap anggota keluarga kami.

Sekarang sudah hampir 20 Negara yang ia kunjungi, ia bahkan menjadi koordinator Backpacker Dunia regional Lampung, beberapa koran lokal juga sempat mengangkat kisahnya. Tapi ia tetaplah wanita yang sama, yang setiap pagi memasak untuk suami dan anak-anaknya. Wanita yang sabar mendengar rengekan anak manjanya yang merantau ke Jogja, sabar melihat kecuekan Regina yang bahkan lebih suka ketemu gadget daripada manusia, sabar mengurus dan memandikan mbah putri (ibunya yang berusia 91 tahun).

Usianya mungkin tak lagi muda tapi semangatnya bisa jadi melebihi anak-anak muda zaman sekarang. Ia selalu percaya bahwa tak ada mimpi yang tak bisa diupayakan. Mimpi besarnya adalah bisa ke Inggris, negara yang dari dulu diidamkannya, tapi tetap saja impian terbesarnya adalah melihat ketiga anaknya lulus S2.

Ahh sedang diupayakan.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sehat terus ya Bun :")





4 komentar:

  1. Tira, aku terharu baca tulisanmu ini. Sekaligus semangat inget mimpiku. Jadi malu, aku yang muda dan belum banyak tanggungan ini suka kebanyakan mengeluh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah makasih Erny udah baca tulisanku :') sama nih aku juga masih banyak ngeluh, ini buat reminder diri sendiri juga.
      Semangat buat kita ya sebagai calon ibu

      Hapus

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages