Selasa, 20 Desember 2016

Dikit-dikit Dikaitin Sama Cina. Kenapa Orang-Orang Semakin Rasis?

Akhir tahun Indonesia terasa begitu hingar bingar, terutama di sosial media. Semuanya terasa begitu sensitif, mulai dari politik, agama, uang, sampe style Presiden juga jadi bahan perdebatan. Segala sesuatu dikomentarin mulai dari yang wajar sampe yang nggak masuk akal.

Hal yang positifnya, mungkin ini sebagai langkah awal membentuk generasi muda yang lebih kritis dan “melek” politik. Tapi negatifnya, semua berita yang ada seolah tak disaring lagi dan diserap begitu saja. Padahal nggak semua pemberitaan saat ini netral lho, ada yang menyudutkan, ada yang melebih-lebihkan, yang provokasi juga banyak. Coba baca artikel Tirto.id di sini deh biar pada disadarkan

Aku nggak akan mengomentari soal Ahok, Al-Maidah, 212, ataupun boikot sari roti. Selain karena bahasan ini terlalu sensitif, aku juga nggak terlalu paham takutnya malah salah ngomong dan terkesan ‘sok tau”. Hal yang pasti aku paham, aku tau dan aku heran adalah kenapa sari roti tawar sandwich coklat yang harganya Rp 4.500 itu begitu kecil? Sebagai pecinta makanan aku merasa kurang kenyang.

Well, balik lagi ke topik, awalnya aku nggak mau komentar dan cenderung menghindari sosial media, tapi kini rasanya mulai jengah juga. Bukan, bukan mau menyalahkan, atau memihak mana yang benar mana yang salah. Aku hanya merasa sensitifitas orang sudah mulai berlebihan, terutama kalo berkaitan sama Cina, kesannya salah semua.

Bahasan yang paling hangat adalah soal peluncuran uang baru Indonesia. Sebagian menyambut gembira, sebagian biasa aja, dan sebagian berkata “mirip uang Cina ya?”

“Are you kidding me?" 

Kalo ditanya bilangnya karena tampilan dan warnanya. Terus mulai menduga-duga "jangan-jangan ini.... jangan-jangan itu....."

Udah pernah lihat uang Bath? Ringgit? Euro? Kalo belum ya mbok dicari di google, jangan cuma lihat Yuan lantas membandingkan. Kalo nggak coba mampir ke money changer terus tanya;
“Uang Bath ada?”
Ada
“Uang Ringgit ada?”
Ada
“Uang Euro ada?”
Ada
“Uang Yuan ada?”
Ada
“Kalo nomer HP ada juga dong?”

Kalo masih males juga, aku bandingkan di sini deh, diliat jangan pura-pura nggak liat.

Uang rupiah baru via www.hipwee.com

lebih mirip uang Euro sih 

Emang semua uang bentukannya begitu, warna warni juga, kenapa nggak ada yang complain uang NKRI mirip uang Euro? Nggak ada complain mirip uang Bath?

Kalau kalian mau benci Ahok ya monggo silahkan, tapi bukan berarti stereotype dan mendeskreditkan semua hal yang berkaitan dengan China. Kalo memang mau Indonesia bebas China yaudah stop dong pake mejikom Yongma, mulai balik pakai panci buat nanak nasi. Nggak usah lah nawar mati-matian buat beli Xiomi dengan harga murah, pake modem Huawei jangan pada bangga.

Bikin status marah-marah anti-China tapi posting via Xiaomi, serah lu dah! yang penting semua salah China, kalian semua sucih China penuh dosah!

2 komentar:

  1. hahahaha,
    sekarang kata orang apa apa kudu pro pribumi, padahal pribumi yang mana dulu nih?
    juragan kain deket rumah saya orang india, guru ppkn saya keturunan belanda, habib junjunan umat emang bukan orang arab?

    bahkan agama-agama yang legal di negara ini hasil impor semua.

    tep yang salah cina?
    kalo gitu mending cincau ganti nama deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokoknya kalo lu jomblo salah China, lu gendut salah China, lu pengangguran salah China~
      Kalo lu cantik ya berkat agama~
      Sedih yaa :(

      Btw ati-ati kalo komen hati-hati mi ntar dikira antek-antek

      Hapus

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages