Kamis, 29 Desember 2016

Memaknai Hidup Lewat Frasa "Wang Sinawang"


"cen urip iku yo wang sinawang, opo sing didelok penak durung mesti sing ngelakoni penak" 

Kalimat bahasa Jawa yang pernah dilontarkan seorang teman di warung makan selalu terngiang dalam ingatan. "Hidup itu saling melihat,  apa yang terlihat enak belum tentu yang menjalaninya merasa enak". Aku tak tahu arti pastinya tapi aku mencoba memahami maknanya. 

Sempat berpikir, tahun ini begitu banyak yang dilalui, mulai dari fase bekerja pasca wisuda, memulai bisnis yang tak tahu arahnya, patah hati bertubi-tubi, hingga badan dan pikiran rasanya letih sekali. Merasa ditekan oleh beberapa pihak, merasa semesta seolah tak mengamini mimpi-mimpi yang dimiliki. Ahh, rasanya tahun ini berat sekali.

Saat beban terasa begitu menyiksa, hasrat membandingkan hidup dengan hidup orang lain seolah memuncak. Namun tiba-tiba seorang teman (yang dianggap begitu sukses) datang menghampiri dan berkata;

"ih kamu enak banget ya, lulus langsung dapet kerja, mana di media kan cita-citamu banget, di Jogja lagi, jalan-jalan ke luar ngeri mulu ahh pingin banget. Aku kerja di Jakarta udah macet, kerja banyak tekanan, apa-apa mahal, stress lah pokoknya"

Mendengarnya aku hanya bisa tersenyum sambil bergumam "ahh, wang sinawang"

Melihat teman seangkatan begitu pesat berkembang, dari yang naik jabatan hingga melangkah ke pelaminan. Sedang kamu, masih pada titik perjuangan. 


Lah memang mereka udah nggak berjuang?


Mereka yang sudah berlabuh di ibu kota seakan menjadi patokan sebuah kemakmuran. Mereka yang sudah melangkah ke pelaminan seakan menjadi patokan kebahagiaan. Meraka yang passionate bekerja sesuai bidang seakan menjadi simbol kesuksesan. Mereka yang telah lama berpacaran dan sedang hangatnya menyusun rencana pernikahan seakan jadi gambaran indahnya kehidupan.

Padahal mereka yang terlihat makmur, sukses, bahagia, dan indah hidupnya juga masih berjuang, hanya beda fase perjuangannya saja. Mereka memang tak lagi berjuang mencari jodoh, pun pekerjaan, tapi mereka yang 'terlihat makmur' di ibu kota masih harus berjuang menghadapi kemacetan Jakarta, masih harus berjuang mengatur keuangan karena biaya hidup yang tak murah. Mereka yang sudah menikah, masih harus berjuang menghadapi keganasan ibu mertua (misalnya), menghadapi omongan tetangga, berjuang menyatukan dua kepala, dan perjuangan lain yang kita tak tahu apa. 

"Jangan merasa berjuang sendirian, karena setiap orang juga sedang berjuang hanya beda fase dan porsinya saja!"

Ahh, menilai hidup orang memang begitu mudahnya, rumput tetangga selalu lebih hijau, kesannya. Bahkan indomie pun terasa lebih nikmat jika orang lain yang memasak.


"Yah dia mah enak, udah cantik, kaya, gampang dapet kerja apalagi dapet jodoh"
"Ingin rasanya aku seperti dia, tampan dan rupawan, kaya raya, anak pewaris tunggal perusahaan, baik hati, pintar, sempurna"

Itu orang apa tokoh utama di drama Korea? Banyak orang (termasuk aku) yang seolah lupa bahwa sosok sempurna hanya ada dalam drama. Kenyataanya, ada-ada saja masalah hidupnya.


Di balik kilau hidupnya yang menyilaukan banyak mata, mungkin ada air mata yang dipendam sendiri dan tak sudi untuk dibagi. 


Jadi ingat kalimat "tak selalu yang berkilau itu indah".  Selalu tertawa pun bukan berarti tak pernah menangis, yang selalu ceria pun bukan berarti tak punya beban dalam hidupnya.

Jangan coba banding-bandingkan! Setiap orang dengan hidup dan kekurangannya, jelas beda problematika hidupnya dengan orang lainnya. Ya kali bandingin hidup dengan Raisa, jelas berbeda! Bukan berarti hidupnya begitu mudah atau kamu begitu sengsara, tapi kadar masalah dan gaya hidup saja sudah berbeda. Mungkin dia tak harus pusing cari uang dimana, atau terlihat cantik bagaimana caranya, tapi dia punya beban jadwal manggung yang padat (misalnya) yang mungkin kita pun tak terbayang bagaimana beratnya.

"Kita tak pernah benar-benar tahu apa yang orang lain lalui dan perjuangkan, jadi tak seharusnya kita terburu-buru menyimpulkan"

Jadi disyukuri aja, jangan terlalu sibuk membandingkan, hidup kan "wang sinawang"


Rabu, 28 Desember 2016

[Life Hacks] 6 Cara Bertahan Hidup di Akhir Bulan


Hidup di akhir bulan dengan teman mie instan
Hidup di akhir bulan aku harus bertahan (Akhir Bulan-Kunto Aji)


Sesulit-sulitnya hidup di akhir bulan akan lebih sulit hidup di akhir zaman akhir bulan+akhir tahun. Kenapa akhir tahun? Karena ada sale akhir tahun, Harbolnas, diskon natal, banyak long weekend dan di Jogja ada Sekaten. Hal-hal tersebut sadar nggak sadar membuat kita merogoh kocek lebih dalam dengan kedok "gapapa, mumpung ada kesempatan". Kalo bisa beli sabun mandi pun di Harbolnas, hadeuh. Alhasil akhir bulan di akhir tahun benar-benar jadi momok mengerikan yang tentu menghadapinya butuh perjuangan.

Uang tinggal 150 ribu untuk 10 hari nggak boleh membuat kelaparan apalagi menghindari pergaulan, tapi juga jangan sampai membuatmu terlilit hutang. Sebenarnya masih ada uang tabungan, tapi jelas tabungan dan jatah bulanan itu lain urusan, jadi nggak boleh diotak-atik. Memang harus kejam soal saving demi masa depan. Selama beberapa hari aku seolah dipaksa memutar otak demi menghadapi akhir bulan dan ternyata cara-cara yang kutempuh cukup ampuh. 

1. Sebelum menghadapi peperangan, pastikan kamu punya persediaan.


Saat uang masih melimpah ruah, dan wajah masih sumringah, coba deh beli persediaan yang bisa bertahan sampai akhir bulan. Misalnya, isi air galon (penting banget nih), sabun cuci, sabun mandi, odol, stok cemilan, beras, dan beberapa makanan kering. Pastikan cukup sampai akhir bulan. Paling nggak pas akhir bulan masih bisa hidup dengan tenang walaupun penuh pengiritan. Kalo punya persediaan, PR-nya tinggal mengotak-atik cara makan.


2. Saat sarapan, cobalah berteman dengan angkingan atau pisang!

1 bungkus nasi angkringan = Rp.2000,-
2 gorengan = Rp.1000,-
Bisa kenyang dengan modal Rp.3000,- (nikmat Jogja mana yang kamu dustakan?). Kalo bosen dengan angkringan bisa ganti dengan pisang (pastikan nggak lebih dari 3.000) atau diselingi makan roti seharga 3.000-an. Ngirit boleh, tapi jangan sampai meninggalkan sarapan!

PS: Jika sakit hubungi dokter

3. Tingkatkan keterampilan dengan mengolah makanan sisa semalam


Sebagai sarjana pertanian (yang pas zaman kuliah sering demo kedaulatan pangan), aku paling pantang buang-buang makanan. Contohnya hari Sabtu kemarin, masih ada telur goreng dan nasi sisa semalam. Kalo dimakan gitu aja pasti bikin nggak nafsu makan. Dengan modal beberapa cabe rawit di kulkas, bawang bombai (nggak ada bawang merah dan putih, cuma ada 1/2 bawang bombai yang tersisa), bon cabe, garam dan kecap, jadilah nasi goreng. Bahkan nasi goreng hasil olah sisa semalampun bisa dimakan 5 orang, selain diri sendiri kamu bisa menyelematkan perut banyak orang.


4. Go-pay is a new hope


Pernah mengalami uang sisa di ATM Rp 50.125? Seperti punya uang tapi tak punya, karena tetep nggak bisa diambil. Untuk penarikan, minimal sisa uang di ATM Rp.20.000. Sedang 'si-30.000' juga nggak bisa diambil karena nominal terkecil penarikan di ATM kan 50.000 (ada yang 20.000 sih tapi udah jarang banget, nyarinya susah). Nah jangan putus asa! Go-pay adalah solusinya. Top up go-pay aja 'si-30.000', kelar urusan. Kalo mau makan bisa go-food, pastikan pesan makan di tempat go-food partner, karena dengan go-pay jadi free delivery order.
Go-pay seems like God-pay

5. Cari aktivitas menyenangkan yang bikin lupa kalo belum makan seharian


Punya hobi yang nggak perlu mengeluarkan biaya dan bisa bikin lupa makan seharian? boleh tuh dicoba. Bisa baca buku, nonton drama Korea, maraton nonton film, atau main game seharian. Contohnya hari Minggu kemarin, aku menyelesaikan drama Korea 15 episode dalam sehari. Dengan bermodal air mineral galon, stok camilan bulanan, dan go-food 1x pesan aku bertahan hidup seharian. Ngirit? jelas. Laper? nggak sama sekali. Sehat? nggak juga sih (besoknya pegel dan ngantuk hahaha).

PS: Jika sakit hubungi dokter

6. Kalo masih ada makanan kenapa harus jajan?


di kantor, setiap pegawainya dapat jatah makan siang, tapi nggak semua makan di kantor. Ada yang milih jajan, ada yang ketemu orang di luar saat jam makan siang, ada juga yang nggak doyan makan. Jadi setiap sore selalu ada aja sisa makanan, dan itu masih banyak. Salah satu penulis yang terampil dan berjiwa keibuan, Meliy, selalu mengolah makanan di sore hari. Jadinya bisa deh dimakan untuk malam. Lagipula sayang kan kalo kebuang, toh masih banyak dan masih enak. Lumayan bisa hemat makan malam. Meily memang panutan.

Dengan 6 cara di atas, uang 150 ribu pun bisa membuatku bertahan selama 10 hari, bahkan masih bisa nonton film di bioskop, nongkrong bareng teman-teman saat malam minggu dan jajan lekker saat break kerja. Sama sekali nggak ngutak-atik uang tabungan.

Perut kenyang, pergaulan jalan. Ngutang? pantang! Sehat? Wallahualam.

Selasa, 20 Desember 2016

Dikit-dikit Dikaitin Sama Cina. Kenapa Orang-Orang Semakin Rasis?

Akhir tahun Indonesia terasa begitu hingar bingar, terutama di sosial media. Semuanya terasa begitu sensitif, mulai dari politik, agama, uang, sampe style Presiden juga jadi bahan perdebatan. Segala sesuatu dikomentarin mulai dari yang wajar sampe yang nggak masuk akal.

Hal yang positifnya, mungkin ini sebagai langkah awal membentuk generasi muda yang lebih kritis dan “melek” politik. Tapi negatifnya, semua berita yang ada seolah tak disaring lagi dan diserap begitu saja. Padahal nggak semua pemberitaan saat ini netral lho, ada yang menyudutkan, ada yang melebih-lebihkan, yang provokasi juga banyak. Coba baca artikel Tirto.id di sini deh biar pada disadarkan

Aku nggak akan mengomentari soal Ahok, Al-Maidah, 212, ataupun boikot sari roti. Selain karena bahasan ini terlalu sensitif, aku juga nggak terlalu paham takutnya malah salah ngomong dan terkesan ‘sok tau”. Hal yang pasti aku paham, aku tau dan aku heran adalah kenapa sari roti tawar sandwich coklat yang harganya Rp 4.500 itu begitu kecil? Sebagai pecinta makanan aku merasa kurang kenyang.

Well, balik lagi ke topik, awalnya aku nggak mau komentar dan cenderung menghindari sosial media, tapi kini rasanya mulai jengah juga. Bukan, bukan mau menyalahkan, atau memihak mana yang benar mana yang salah. Aku hanya merasa sensitifitas orang sudah mulai berlebihan, terutama kalo berkaitan sama Cina, kesannya salah semua.

Bahasan yang paling hangat adalah soal peluncuran uang baru Indonesia. Sebagian menyambut gembira, sebagian biasa aja, dan sebagian berkata “mirip uang Cina ya?”

“Are you kidding me?" 

Kalo ditanya bilangnya karena tampilan dan warnanya. Terus mulai menduga-duga "jangan-jangan ini.... jangan-jangan itu....."

Udah pernah lihat uang Bath? Ringgit? Euro? Kalo belum ya mbok dicari di google, jangan cuma lihat Yuan lantas membandingkan. Kalo nggak coba mampir ke money changer terus tanya;
“Uang Bath ada?”
Ada
“Uang Ringgit ada?”
Ada
“Uang Euro ada?”
Ada
“Uang Yuan ada?”
Ada
“Kalo nomer HP ada juga dong?”

Kalo masih males juga, aku bandingkan di sini deh, diliat jangan pura-pura nggak liat.

Uang rupiah baru via www.hipwee.com

lebih mirip uang Euro sih 

Emang semua uang bentukannya begitu, warna warni juga, kenapa nggak ada yang complain uang NKRI mirip uang Euro? Nggak ada complain mirip uang Bath?

Kalau kalian mau benci Ahok ya monggo silahkan, tapi bukan berarti stereotype dan mendeskreditkan semua hal yang berkaitan dengan China. Kalo memang mau Indonesia bebas China yaudah stop dong pake mejikom Yongma, mulai balik pakai panci buat nanak nasi. Nggak usah lah nawar mati-matian buat beli Xiomi dengan harga murah, pake modem Huawei jangan pada bangga.

Bikin status marah-marah anti-China tapi posting via Xiaomi, serah lu dah! yang penting semua salah China, kalian semua sucih China penuh dosah!

Sabtu, 17 Desember 2016

Manggadaikan Produktivitas Demi Drama Korea? Ahh Aku Hampir Gila!

Beberapa pekan lalu entah mengapa rasanya begitu berat menjalani hidup, entah karena berat badan yang terus naik. Bisa jadi! Rasanya enggan untuk mengerjakan banyak hal. Merasa tidak pada peforma terbaik, merasa tidak di jalan yang baik, merasa pekerjaan begitu sulit, merasa lelaki tampan itu yang sipit. Galau antara harus melepaskan pekerjaan demi S2, galau pilih jurusan yang mana, atau sekedar galau karena mau makan apa. Entahlah segala hal yang biasa saja seoalah begitu rumit. Mungkin ini yang dinamakan demotivated.

Sebenarnya hal ini bukan pertama kali terjadi, dalam hidup pasti ada masanya kehilangan semangat. Biasanya selalu ada 3 cara yang aku lakukan untuk mengatasinya; traveling, makan es krim dan nonton film komedi. Selain harus hemat, aku belum bisa ambil cuti untuk traveling jadilah tersisa 2 pilihan; makan es krim atau nonton film komedi. Makan es krim rasanya terlalu sering, dan kali ini tidak cukup meningkatkan semangat justru berat badan yang terus meningkat. Jadilah pilihan jatuh ke “nonton film komedi”.

Andrall, Ojik dan Om Rez adalah 3 nama yang terlintas untuk dimintai film, selain karena mereka cukup ‘lucu’ aku merasa mereka punya banyak stok film. Tapi ternyata aku salah.

Ojik, list film yang dia berikan adalah Sex Tape dan The Other Woman, film yang bahkan adegan ranjang akan mucul di menit pertama. Aku gak tahu film dewasa itu lucunya dimana. Yah, sekarang aku paham, kenapa cowok-cowok selalu bilang cewek sexy di instagram “wih lucu banget”, ternyata itu lucu dari kacamata pria. Failed!

Andrall, si pria brewokan berwajah gahar itu memberikan aku rentetan film… kartun. Iya, kartun. Entahlah walaupun aku nggak suka film dewasa, bukan berarti film anak-anak juga, aku bahkan gak mau nonton kartun kalo bukan dengan adikku. Yah, harusnya aku mempertimbangkan stiker Winnie the Pooh di laptopnya sebelum minta rekomendasi film padanya. Failed!

Om Reza, si pria yang paling tua di kantor itu bukan memberikan film lucu, tapi…. Drama korea. Yah walaupun dia adalah yang paling bijak dan selalu bicara selayaknya orang dewasa, tapi dia begitu suka nonton drama korea. Nggak ada yang salah memang, tapi….

Sudah 8 bulan aku menghindari nonton drama, sekalipun saat semua orang membicarakan Descendent of The Sun pun aku tidak tergiur sama sekali. Karena aku tau sekali aku nonton drama aku nggak akan bisa berhenti. Selepas SMA, 4 Tahun aku berhenti nonton drama, tapi saat KKN aku kembali mencoba nonton dan kembali addicted. Selepas KKN aku mencoba berhenti lagi. Soal Drama Korea aku memang mudah goyah.

Aku teringat, saat semua orang main Let’s Get Rich, aku orang yang paling keras kepala untuk tidak sekalipun mencobanya. Aku bahkan memblokir orang-orang yang mengundangku main Let’s Get Rich di LINE. Saat sedang booming permainan Pokemon Go, aku jadi orang paling ngotot untuk tidak mencobanya. Sekalipun anak kantor pergi keluar bersama demi memainkannya, aku tetap tidak tergoda, yah hanya sesekali mencoba dari HP teman, itupun aku merasa tak ingin melepaskan hpnya dari genggamanku. Alasannya sederhana, aku terlalu mudah kecanduan dan ketergantungan pada hal-hal yang berpotensi membuatku suka (banget), makanya aku memilih menghindar. Jadi kalau aku menghindari sesorang, kemungkinan besar aku suka (banget).

Ahh, balik ke Drama Korea, Om Rez memberikan “Shopping King Louie”. Pemain cowoknya terlalu imut, nggak terkenal, ceweknya juga nggak terkenal (mungkin karena sudah lama nggak nonton drama jadi aku nggak kenal siapa-siapa), aku yakin aku tidak akan tergoda menontonnya. Episode pertama sukses membuatku ketiduran di tengah cerita, aku tidak akan kecanduan, pikirku. Besoknya, iseng liat episode ke-2 dan ternyata, lagi-lagi aku hampir gila. Dalam 3 hari aku menyelesaikan 16 episode, persis seperti pengangguran. Ottoke ottoke? Aku rasa aku mulai kecanduan.

Tidak cukup di sana, aku juga nonton The Legend of The Blue Sea yang sekarang masih tayang, aku bahkan rela menunggu Rabu-Kamis untuk download. Tidak puas menunggu Rabu-Kamis, aku juga nonton web drama 7 First Kisses, yang juga tayang seminggu sekali. Aku harus rela mengecek youtube untuk melihat apakah sudah ada episode terbarunya. Terparahnya lagi, aku nonton Drama Jealously Incarnate dan hampir tiap pagi aku datang dengan wajah gloomy dan mata bengkak karena menangis dan tertawa bersamaan saat menontonnya tiap malam. Ahhh, aku benar-benar mengila, ditambah lingkungan sekitar merekomendasikan Goblin dan Romantic Doctor Kim, rasanya aku tak mau dengar.

Sekarang, masalahku bukan lagi soal "demotivated" tapi berganti menjadi "Korean drama addicted". Aku sedang memikirkan cara agar kembali berhenti nonton drama Korea. Ada ide?

Jealously Incarnate via www.dramafever.com

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages