Rabu, 23 November 2016

Rasanya jadi guide 71 mahasiswa di Bangkok-Pattaya



Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya….."tukang pijet dimana ya?”


Aku bukan travel blogger, juga bukan traveller (yaiyalah ke Salatiga aja nyasar sampe Ungaran). Alasan kenapa aku suka jadi travel guide adalah karena aku suka bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, apalagi kalo orangnya ganteng, pake kaca mata, agak sipit, kaya raya, terus ngajak nikah. cocok! Sesederhana aku suka lihat anak-anak muda berinteraksi di KRL, becandaan gak penting, tertawa bersama seperti sudah kenal lama. So much fun. Aku lebih suka melabeli diri sendiri sebagai “your personal travel guide” ketimbang “traveller” apalagi “editor travel” (iykwim)

Pengalaman ter-epic adalah saat jadi guide untuk kunjungan 71 mahasiswa  dari Universitas swasta ke Bangkok-Pattaya. Aku bersama sahabatku Kevin, cowok yang memang berpengalaman soal jalan-jalan (kisahku kenal dia juga gak kalah epic, akan aku ceritakan di blog berikutnya).  Selama 7 hari banyak kejadian gila, “Gila” di sini bukan majas hiperbola tapi literally aku hampir gilaaaaaa. Aku coba rangkum dalam beberapa poin.

1. Dari pesawat keberangkatan udah ada 1 orang ketinggalan, pas dia kasih alasan bukannya kasian malah pingin nangis di pojokan.



Rute kami saat itu Solo-Kuala Lumpur-Bangkok, ada 1 kali transit di KL. Dalam jumlah 71 orang (tambah 2 guide jadi 73 orang), nggak memungkinkan untuk penerbangan KL-Bangkok dalam 1 pesawat, maka kita bagi jadi 3 flight. 20 orang flight pertama (bersama aku), satu jam kemudian 20 orang flight ke-2, dan satu jam berikutnya 33 orang flight ke-3 bersama Kevin.

Rombonganku aman, hampir ketinggalan sih tapi masih aman. Rombongan ke-3 bersama Kevin jelas aman. Rombongan ke-2, yang lain sih aman, tapiii….

Kevin ketemu sesorang di depan toilet dekat boarding room, sebut saja si X
Kevin : X kok nggak masuk?
Si X : Iya kak, lagi nunggu temenku BAB nih
Kevin : oke, buruan yaa kan bentar lagi take off
Si X : siap kak

Kemudian sang teman yang BAB (sebut saja Y) sampai Bangkok dengan aman, sementara si X, sang sahabat setia yang menunggu di depan pintu toilet malah ketinggalan. Ternyata larinya si X tidak secepat temannya (si Y), alhasil sang teman (si Y) sampai tujuan, (si X) masih lari-larian.

Kuis : Berapa kecepatan lari X jika dikurangi lama waktu Y membuang hajat dibagi jarak tempuh dari toilet ke boarding room? (Essay, bobot soal 25)

Untungnya dia cukup inisiatif buat beli tiket baru penerbangan berikutnya, dan saat ditelpon dia bilang “kak, aku ketinggalan pesawat jangan tanya alasannya kenapa, yang penting aku udah beli tiket baru”.

Oke aku nggak tanya.

2. Sempat takut karena mayoritas peserta tour adalah orang-orang Timur, tapi justru mereka lah yang membuatku banyak bersyukur.

Wat Arun (Dokumentasi pribadi, 2016) 

Pertama lihat peserta-pesertanya takutnya luar biasa, tapi setelah kenal mereka sungguh istimewa. Alih-alih complain dengan fasilitas tour, mereka justru cerita pengalaman mereka hidup di wilayah Indonesia Timur. “Murah ya kakak di sini 6 juta sudah pesawat dan hidup, saya di Papua 6 juta baru tiket pulang saja dari Jogja”.
Jauh dari kesan manja, mereka yang terbiasa beraktivitas berat tak jarang menawarkan bantuan “Kakak sini saya bantu bagikan, biar saya seperti magang sekalian yah” kata salah satu peserta yang selalu menawarkan bantuan saat membagikan kotak makan.  Bukan itu saja, tak jarang mereka membatu kami mengkoordinir temannya sambil bilang “kasian ini kakak ini tolong didengarkan”

Hal yang paling berkesan dari pengalaman tour ini adalah aku akhirnya paham bahwa nggak semua orang-orang Timur seperti apa yang diberitakan. Mereka bisa jadi sangat baik dan menyenangkan, hanya terkadang kita aja yang terlalu takut dan melebih-lebihkan.

How I miss them

3. ……tapi itu tidak berlaku di Pattaya, kali ini mereka membuatku benar-benar gila

Pattaya Walking Street (Dokumentasi pribadi, 2014)


Buatmu yang suka nonton drama Thailand pasti nggak asing dengan Pattaya Walking Street. Jalan sepanjang 1,5 km ini kamu akan menemukan bar dengan penari-penari striptis, harga minuman yang dijajakan pun jauh lebih murah dari kebanyakan (katanya). Nggak heran kalo Pattaya Walking Street jadi idaman wisatawan. Nah, mereka yang merupakan anak-anak muda dengan keingintahuan tingkat dewa ditambah memang nggak dilarang untuk minum-minuman beralkohol tentu saja dengan semangat 45 berbondong-bondong ke sana.

Aku? Boro-boro ikut, malah nyari Thai Massage karena badan pegel semua (itulah kenapa aku nggak bisa disebut sebagai traveller).

Jam 1 pagi sebagian peserta balik ke hotel, aman. Jam 2 pagi sisanya juga balik hotel, aman. Nah bagian yang nggak aman adalah ada anak yang inisiatif nyusulin temennya yang nggak balik-balik (sungguh mulia kamu nak). Jam 4 pagi sang teman yang disusulin akhirnya balik juga, nah yang nyusul? Jangan tanya dimana, dia malah nyangkut di sana. Dari mereka aku sadar bahwa konsep 'teman dan tunggu-tungguan' memang harus direvisi sejak dini.

“Kakak, lain kali kalau kita tour lagi 7 hari saja di Pattaya, biar puas”

“Iya kakak, 7 hari-7 harinya di Pattaya walking street saja, nggak usah kemana-mana”

“hahahhaa iyaa, semalem belum puas ya?” aku mencoba menanggapi, padahal dalam hati “ape lu kate, sehari aje aku begini, 7 hari bisa tipes kali AH”



4. Hari terakhir selalu jadi yang paling berkesan, pengalaman bersama mereka sungguh tak terlupakan.

Nongnooch Garden, Pattaya


Terlepas dari tragedi ketinggalan pesawat saat berangkat, tragedi mabuk di Pattaya, tragedi jatuhnya passport saat foto di Nong nooch Garden (akibat foto di atas), tragedi passport basah karena terkena sisa mabuk sampe tertahan di imigrasi KL (keep it by yourself), tapi mereka tetap menyisakan kesan mendalam. Kalo aku kembali ke Thailand pasti mereka yang akan muncul dalam ingatan.

Selalu teringat saat aku nungguin Kevin dan si-anak-yang-passportnya-basah di depan imigrasi KL jam 2 pagi dengan super ngantuknya, beberapa anak yang secara bergantian menemaniku.
“kakak ngantuk banget, tidur dulu aja, biar aku yang gantian nungguin”
“kak mau dibeliin makan apa?”
Anak lainnya datang membawakanku kopi.

Dari sana aku sadar bahwa ini bukan hanya pekerjaan tapi juga pembelajaran kehidupan. Dalam kondisi apapun, selalu ada orang-orang baik yang dikirimkan Tuhan. Yes, they are.

"Hai adek-adek semoga kita bisa ketemu lagi ya, hanya 1 pesan kakak please jangan tunggu-tungguan. hahahha see you when I see you ya (kalo kalian nggak kapok)"


Setiap perjalanan pasti meyisakan kesan mendalam dan kenangan yang begitu sayang untuk dilupakan.

Sekian

0 komentar:

Posting Komentar

Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages