Kamis, 24 November 2016

Melihat Fenomena yang Ada, 5 Cara Ini Bisa Bikin Kamu Terkenal dengan Mudahnya


Jaman dulu saat TV masih jadi primadona di kelurahan, sosok idola anak muda bisa dihitung pake jari. Tak jarang anak muda punya idola yang sama.
“Siapa artis pria idola kalian?”
Gadis-gadis dengan kompak akan menjawab “Rano Karnoooo”

Kalo sekarang? Jangankan ngitung pake jari, pake sempoa aja sulit sangking banyaknya. Begitu banyak seleb bertebaran, tingkat keterkenalan pun jadi makin sulit diukur. 
“Siapa artis pria idola kalian?”
Ukhti-ukhti dengan kompak menjawab “Fedi Nuriiiiil”
ABG labil akan teriak “Aliandoooo”
ABG labil lainnya nggak mau kalah teriak “Al-Ghazaliii”
ABG labil lainnya balas teriak “Gaga Muhammad”.

Wait, emang dia artis? 
Nggak perlu jadi artis sih buat terkenal, asal menerapkan 5 hal ini, kamu juga bisa kok dikenal banyak orang, kaya Gaga Muhammad misalnya.

1. Manfaatkan semua sosial media yang ada, Instagram sampe Ask fm semua layak dicoba



Pernah dengar quotes “works until you don’t need to introduce yourself”? Kalo sekarang udah berubah jadi “post with a lot of hash tag until you don’t need to introduce yourself!”

Sekarang orang terkenal bukan hanya dari film, majalah dan televisi, justru lebih banyak yang terkenal karena social media. Nggak heran kalo sekarang banyak seleb-tweet, seleb-gram, beauty-blogger, vlogger, youtuber, Mba Iber (catering kantor), dan ber-ber-ber lainnya. Kalau kita nggak kenal seseorang yang ‘katanya’ terkenal, bukan berarti kita ketinggalan jaman, cuma emang terlalu banyak aja.

“Tau nggak sih, Awkarin putus lho sama Gaga?”
“Eh serius? Si Rachel Venya sama Niko juga katanya putus”
“Kasian banget ya mereka, padahal Anya Geraldine baru aja jalan-jalan sama pacarnya ke Bali”
….. saat mendengar obrolan di atas, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Anya Geraldine itu siapanya Tamara Geraldine ya?” dari situ aku sadar bahwa aku udah mulai tua, saatnya aku menikah dengan pria kaya.

2. Apapun postingannya jangan lupa menambahkan kata “Goals” di belakangnya



Posting foto bareng pacar >> hashtag Relationship-Goals (kemudian bikin vlog nangis saat putus)
Posting foto bareng kakak >> hastag Sibling-Goals (padahal aslinya tiap ketemu jambak-jambakan karena rebutan gebetan)
Posting foto makanan >> hashtag Dinner-Goals (padahal pake lilin bukan biar fancy tapi buat ngusir lalet)
Posting foto badan dari kaca gym >> hashtag Body-Goals (padahal fotonya sambal tahan napas, sekali buang napas kelar tuh perut)

Dikit dikit goals, dikit dikit goals, entah ada apa dengan anak muda Indonesia saat ini, gimana Bangsa ini mau maju? #KritikusGoals #PeduliIndonesiaGoals #GenerasiAsikGoals  #IndonesiaCerdasGoals

3. Jadikan drama sebagai menu utama, tambahkan air mata sebagai penyedap rasa



Sebelum Awkarin mengeluarkan tembang fenomenal “kalian semua sucih aku penuh dosah”, dia dikenal karena video Confession nya saat putus dari Gaga, dengan drama dan air mata.  Entahlah, masyarakat Indonesia yang dulunya gak pernah tau dia siapa mendadak jadi terfokus padanya.  Selain Awkarin, baru-baru ini ada pula video yang viral karena air matanya, “Ibu-ibu berhanduk yang nangis sampe nggak bisa makan karena Pak Ahok jadi tersangka”.

Tuh kan, drama dan air mata itu bisa bikin kamu terkenal. Sekarang buruan deh siapin bawang bombai sama sapu tangan terus mulai ngomong apapun yang nggak penting, jangan lupa direkam dan disebarkan. Kalo belum terkenal, coba ulangi lagi! Mungkin kamu masih kurang lebay.

4.  Asal kamu polisi dan ikuti rumus di bawah ini, popularitas akan ada di depan mata

polisi ganteng + peci + 212 = minta dihalalin

Kamu polisi? Ganteng nggak? Kalo ganteng, coba deh muncul di kasus-kasus penting. Misalnya di bom Sarinah atau di sidang Jesika. Pasti deh kamu bakal terkenal.

Kamu polisi? Cantik nggak? Kalo cantik, muncul deh siaran di metro tv, jangan lupa senyum. Pasti deh kamu bakal terkenal

Kamu polisi? Nggak ganteng? Coba effort nya ditambah, jangan cuma foto selfi, coba dubbing video sambil joget India, atau mengamankan lalu lintas sambil joget. Kuncinya ‘joget’, pasti deh kamu bakal terkenal.

Kamu polisi? Nggak cantik? Coba deh ikuti poin no.3 (tambahkan drama + air mata), kasih kalimat yang unik kaya “di situ kadang saya merasa sedih” atau “saya tuh nggak bisa diginiin”. Pasti deh kamu bakal terkenal

Kamu bukan polisi terus nggak ganteng nggak cantik nggak kaya? kelar idup!

5. Lupakan poin 1-4, Kalo kamu punya karya, jadi terkenal atau nggak itu bukan hal yang utama.



Kalo kamu terkenal dengan modal poin 1-4 kamu memang bakal terkenal dengan instan. Tapi ya ibarat mie instan, masak 5 menit abis 5 detik, 1 jam kemudian udah laper lagi. Sama kalo kamu terkenal dengan cara instan, mudah dikenal, mudah menghilang, mudah dilupakan. Kalo kamu bener-bener mau dikenal like a legend ya harus punya karya. Punya karya emang nggak gampang, harus ada usahanya. Kalo mau gampang mah cari suami kaya! Itupun kalo dianya mau.

Well, tulisan ini adalah refleksi dari diri sendiri yang sebenarnya juga masih mencari suami karya apa ya yang bisa dihasilkan, kira-kira aku cocoknya jadi apa ya? Dan semua pertanyaan yang masih mengganjal. Semoga setelah ini aku menemukan cara untuk menghasilkan karya, kamu juga yaa! Kamu, iya kamu.

Sekian 

Rabu, 23 November 2016

Rasanya jadi guide 71 mahasiswa di Bangkok-Pattaya



Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya….."tukang pijet dimana ya?”


Aku bukan travel blogger, juga bukan traveller (yaiyalah ke Salatiga aja nyasar sampe Ungaran). Alasan kenapa aku suka jadi travel guide adalah karena aku suka bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, apalagi kalo orangnya ganteng, pake kaca mata, agak sipit, kaya raya, terus ngajak nikah. cocok! Sesederhana aku suka lihat anak-anak muda berinteraksi di KRL, becandaan gak penting, tertawa bersama seperti sudah kenal lama. So much fun. Aku lebih suka melabeli diri sendiri sebagai “your personal travel guide” ketimbang “traveller” apalagi “editor travel” (iykwim)

Pengalaman ter-epic adalah saat jadi guide untuk kunjungan 71 mahasiswa  dari Universitas swasta ke Bangkok-Pattaya. Aku bersama sahabatku Kevin, cowok yang memang berpengalaman soal jalan-jalan (kisahku kenal dia juga gak kalah epic, akan aku ceritakan di blog berikutnya).  Selama 7 hari banyak kejadian gila, “Gila” di sini bukan majas hiperbola tapi literally aku hampir gilaaaaaa. Aku coba rangkum dalam beberapa poin.

1. Dari pesawat keberangkatan udah ada 1 orang ketinggalan, pas dia kasih alasan bukannya kasian malah pingin nangis di pojokan.



Rute kami saat itu Solo-Kuala Lumpur-Bangkok, ada 1 kali transit di KL. Dalam jumlah 71 orang (tambah 2 guide jadi 73 orang), nggak memungkinkan untuk penerbangan KL-Bangkok dalam 1 pesawat, maka kita bagi jadi 3 flight. 20 orang flight pertama (bersama aku), satu jam kemudian 20 orang flight ke-2, dan satu jam berikutnya 33 orang flight ke-3 bersama Kevin.

Rombonganku aman, hampir ketinggalan sih tapi masih aman. Rombongan ke-3 bersama Kevin jelas aman. Rombongan ke-2, yang lain sih aman, tapiii….

Kevin ketemu sesorang di depan toilet dekat boarding room, sebut saja si X
Kevin : X kok nggak masuk?
Si X : Iya kak, lagi nunggu temenku BAB nih
Kevin : oke, buruan yaa kan bentar lagi take off
Si X : siap kak

Kemudian sang teman yang BAB (sebut saja Y) sampai Bangkok dengan aman, sementara si X, sang sahabat setia yang menunggu di depan pintu toilet malah ketinggalan. Ternyata larinya si X tidak secepat temannya (si Y), alhasil sang teman (si Y) sampai tujuan, (si X) masih lari-larian.

Kuis : Berapa kecepatan lari X jika dikurangi lama waktu Y membuang hajat dibagi jarak tempuh dari toilet ke boarding room? (Essay, bobot soal 25)

Untungnya dia cukup inisiatif buat beli tiket baru penerbangan berikutnya, dan saat ditelpon dia bilang “kak, aku ketinggalan pesawat jangan tanya alasannya kenapa, yang penting aku udah beli tiket baru”.

Oke aku nggak tanya.

2. Sempat takut karena mayoritas peserta tour adalah orang-orang Timur, tapi justru mereka lah yang membuatku banyak bersyukur.

Wat Arun (Dokumentasi pribadi, 2016) 

Pertama lihat peserta-pesertanya takutnya luar biasa, tapi setelah kenal mereka sungguh istimewa. Alih-alih complain dengan fasilitas tour, mereka justru cerita pengalaman mereka hidup di wilayah Indonesia Timur. “Murah ya kakak di sini 6 juta sudah pesawat dan hidup, saya di Papua 6 juta baru tiket pulang saja dari Jogja”.
Jauh dari kesan manja, mereka yang terbiasa beraktivitas berat tak jarang menawarkan bantuan “Kakak sini saya bantu bagikan, biar saya seperti magang sekalian yah” kata salah satu peserta yang selalu menawarkan bantuan saat membagikan kotak makan.  Bukan itu saja, tak jarang mereka membatu kami mengkoordinir temannya sambil bilang “kasian ini kakak ini tolong didengarkan”

Hal yang paling berkesan dari pengalaman tour ini adalah aku akhirnya paham bahwa nggak semua orang-orang Timur seperti apa yang diberitakan. Mereka bisa jadi sangat baik dan menyenangkan, hanya terkadang kita aja yang terlalu takut dan melebih-lebihkan.

How I miss them

3. ……tapi itu tidak berlaku di Pattaya, kali ini mereka membuatku benar-benar gila

Pattaya Walking Street (Dokumentasi pribadi, 2014)


Buatmu yang suka nonton drama Thailand pasti nggak asing dengan Pattaya Walking Street. Jalan sepanjang 1,5 km ini kamu akan menemukan bar dengan penari-penari striptis, harga minuman yang dijajakan pun jauh lebih murah dari kebanyakan (katanya). Nggak heran kalo Pattaya Walking Street jadi idaman wisatawan. Nah, mereka yang merupakan anak-anak muda dengan keingintahuan tingkat dewa ditambah memang nggak dilarang untuk minum-minuman beralkohol tentu saja dengan semangat 45 berbondong-bondong ke sana.

Aku? Boro-boro ikut, malah nyari Thai Massage karena badan pegel semua (itulah kenapa aku nggak bisa disebut sebagai traveller).

Jam 1 pagi sebagian peserta balik ke hotel, aman. Jam 2 pagi sisanya juga balik hotel, aman. Nah bagian yang nggak aman adalah ada anak yang inisiatif nyusulin temennya yang nggak balik-balik (sungguh mulia kamu nak). Jam 4 pagi sang teman yang disusulin akhirnya balik juga, nah yang nyusul? Jangan tanya dimana, dia malah nyangkut di sana. Dari mereka aku sadar bahwa konsep 'teman dan tunggu-tungguan' memang harus direvisi sejak dini.

“Kakak, lain kali kalau kita tour lagi 7 hari saja di Pattaya, biar puas”

“Iya kakak, 7 hari-7 harinya di Pattaya walking street saja, nggak usah kemana-mana”

“hahahhaa iyaa, semalem belum puas ya?” aku mencoba menanggapi, padahal dalam hati “ape lu kate, sehari aje aku begini, 7 hari bisa tipes kali AH”



4. Hari terakhir selalu jadi yang paling berkesan, pengalaman bersama mereka sungguh tak terlupakan.

Nongnooch Garden, Pattaya


Terlepas dari tragedi ketinggalan pesawat saat berangkat, tragedi mabuk di Pattaya, tragedi jatuhnya passport saat foto di Nong nooch Garden (akibat foto di atas), tragedi passport basah karena terkena sisa mabuk sampe tertahan di imigrasi KL (keep it by yourself), tapi mereka tetap menyisakan kesan mendalam. Kalo aku kembali ke Thailand pasti mereka yang akan muncul dalam ingatan.

Selalu teringat saat aku nungguin Kevin dan si-anak-yang-passportnya-basah di depan imigrasi KL jam 2 pagi dengan super ngantuknya, beberapa anak yang secara bergantian menemaniku.
“kakak ngantuk banget, tidur dulu aja, biar aku yang gantian nungguin”
“kak mau dibeliin makan apa?”
Anak lainnya datang membawakanku kopi.

Dari sana aku sadar bahwa ini bukan hanya pekerjaan tapi juga pembelajaran kehidupan. Dalam kondisi apapun, selalu ada orang-orang baik yang dikirimkan Tuhan. Yes, they are.

"Hai adek-adek semoga kita bisa ketemu lagi ya, hanya 1 pesan kakak please jangan tunggu-tungguan. hahahha see you when I see you ya (kalo kalian nggak kapok)"


Setiap perjalanan pasti meyisakan kesan mendalam dan kenangan yang begitu sayang untuk dilupakan.

Sekian

Senin, 21 November 2016

Rasanya Kerja di Media, yang Isinya Anak Muda Semua

Masa mahasiswa pastinya jadi masa yang paling istimewa, setelah lulus bangganya luar biasa, abis lulus baru deh kepikiran mau kerja apa. Cita-cita sih kuliah foya-foya, lulus dapet kerja, kerja kaya raya, tua banyak harta, mati masuk surga. Tapi apa daya, hidup nggak sesederhana rumah makan sederhana (yang ada rendangnya). Namanya juga lyfe, nggak gampang, harus ada usahanya, kalo mau gampang mah cari suami kaya! Itupun kalo dianya mau.

Terus kalo aku gimana? Untungnya Tuhan masih sayang padaku (walaupun kamu nggak sayang yang penting Tuhan sayang). Sebelum lulus aku dikasih kesempatan buat magang di salah satu media anak muda, yang akhirnya berlanjut sampe kerja beneran, sampe sekarang. Banyak banget yang bilang “ih enak banget sih kerja di media”, “ih enak banget sih lulus langsung dapet kerja”, atau “ih kerja apaan sih? ih Terus dapet duitnya dari mana?” dan segala ah-ih-ah-ih lainnya.


Tapi sebelum kalian ber-ah-ih-ah-ih lainnya, aku mau mengajak kalian membayangkan gimana rasanya.

1.  Karena kerja dengan orang seumuran, segala sesuatu bisa dikompromikan


Ini adalah bagian paling menyenangkannya, karena rekan kerja seumuran jadi gak segan kalo mau ngapain aja. Izin telat juga lebih enak, tinggal “Ges ges, telat dikit ya mau mampir bank dulu”. Bukannya dapet omelan karena datang telat, rekan kerjamu justru akan jawab “bank dulu mah di bawah kasur” (nb: ini jokes internal, jangan mencoba mencerna maksudnya, karena cuma mereka  yang paham).

2. Disaat pegawai kantoran sibuk cari setelan kemeja, jas dan celana bahan, kita sibuk memilah kaos mana yang paling nyaman


Karena sehari-hari cuma pake kaos oblong dan celana jeans, sekalinya kamu berpenampilan ‘agak’ modis, kata-kata ini yang akan kamu dapatkan “eh kok tumben e bajumu bagus” atau “ciee baju baru”. Pokoknya kalo berpakaian di luar kebiasaan pasti akan menimbulkan pertanyaan dan ledekan. 

3. Disaat pegawai kantoran mewajibkan karyawan untuk bisa dandan, kita yang kerja cuma pake alis dan lipstikan tetap terlihat berlebihan 


“Kok hari ini kamu beda e tir, pake alis ya?” ….. bahkan aku tiap hari pake alis pun ada aja orang yang komen begini, heran.

4. Lihat drama cinlok di tempat kerja semacam pemandangan yang biasa, alur ceritanya pun nggak kalah dari drama Korea



Semacam hal yang biasa kalo tiba-tiba ada gerak gerik yang berbeda dari sesama rekan kerja. Mencoba cuek pun nggak bisa, karena ujung-ujungnya salah satu dari mereka yang cerita. Karena sesama anak muda yang seumuran, jadi nggak heran kalo banyak yang naksir-naksiran sampe pacaran. Profesionalitas kerja? Yah semoga masih ada.

5. Weekend kerja udah biasa, dibilang buruh jahit sama teman sekosan juga terdengar biasa saja

bahkan buruh jahit pake dasi dan kemeja :( via http://philadelphia.cbslocal.com/

Karena kerja di industri kreatif jadi kadang nggak kenal waktu, terutama kalo kamu kerja di bagian ngurusin event. Pasti ada aja yang sampe malem atau di hari Sabtu Minggu, walaupun nantinya ada jatah libur pengganti  di hari kerja. Pulang malam dan kerja weekend identik dengan buruh, nggak heran kalo teman-teman satu kosan menamaimu “si buruh jahit”.

6. Ditanya “kamu kerja apa?”, “itu cara dapet duitnya dari mana?” sampe “udah deh cari kerja yang pasti-pasti aja, atau S2 sanah!” 

nanya mulu kaya pembantu baru via https://gaming.youtube.com

Setiap kali ditanya “kamu kerja dimana?”, butuh waktu jeda 3-5 detik untuk mikir jawaban apa yang bisa dikeluarkan. Kalau yang nanya sesama anak muda sih masih mudah ngejelasinnya, tapi kalo orang-orang tua kudu puter otak deh biar bisa dipahami.

“di media online, Om”
“oh online shop?”
“bukan om, itu kaya majalah tapi di internet”
“nah terus itu ngejualnya gimana?”
“yah langsung dibaca aja om, tinggal buka webnya”
“itu dapet duitnya dari mana?”

Kemudian adzan magrib berkumandang…..dan obrolan dihentikan. Tamat

7. Jauh dari kesan mapan, orang-orang justru beranggapan perkerjaan ini sekedar becandaan yang nggak ada masa depan.



Setiap ketemu orang, dia akan bilang “kamu nggak pingin cari kerja yang lain?”,  “itu lho PNS bukaan, atau kerja aja di bank kan gajinya lumayan”. Banyak yang beranggapan kalo kerja di media online itu semacam main game online, yah cuma permainan, bahkan orang-orang tertentu begitu sulit untuk melabelinya sebagai pekerjaan. Yah semoga setelah baca ini kalian jadi paham yaa (padahal yang nulis juga nggak paham). 

Intinya rasanya nano-nano, manis asam asin ramai rasanya. Namanya juga kerja ada plus minus nya, ada enak dan nggak enaknya juga, kalo mau enak mah cari suami kaya! Itupun belum tentu dianya mau. Apapun pekerjaanya yang penting dinikmatin aja, jangan resign seenaknya. Selama belum ada hal-hal principal yang dilanggar, mending bertahan sambil mempelajari apa saja yang bisa diperbaiki.

Sejatinya hidup kan belajar, belajar sabar kalo atasanmu cuti sebulan (semoga dia nggak baca), belajar sabar kalo proposal eventmu nggak di-approve, belajar sabar ngadepin pembaca yang suka komen semaunya, belajar sabar kalo menu catering kantor lagi nggak karuan (hahaha lebay), belajar sabar kalo ada temen kantor yang lagi singut-singutan, belajar memahami diri sendiri dan orang lain. Seseorang pernah berkata “ketika kamu kerja, It’s not about you anymore, it’s about team!” Serta, tembok kantor senantiasa bersabda “If you get tired, learn to rest, not to quit!”

Sure.

Minggu, 20 November 2016

5 Alasan Kenapa Harus Nulis Blog (Lagi) Selagi (Masih) Muda

Setelah sekian lama akhirnya aku membuat blog pribadi (lagi).

Sebenarnya ini bukan blog pertamaku, entah sudah berapa banyak blog yang aku buat (re: cuma buat, nulis mah jarang) dan semua berakhir begitu saja karena kekhilafan duniawi (re: lupa password). Sangking seringnya lupa password membuatku malas untuk nulis di blog lagi, alhasil kalau mau nulis yah di ms.word atau sekedar coret-coretan di buku-yang bahkan gak bisa disebut sebagai buku-harian. Tapi, setelah didesak banyak pihak (re: dua orang) akhirnya aku memutuskan untuk buat blog lagi. Selain karena didesak teman, ada beberapa alasan sih yang membuatku ingin nulis blog lagi, alasan yang tentunya oportunis sekali hahaha (dasar gak mau rugi). Penasaran? nggak? yaudah gpp emang pingin ngasih tau aja.

1. Blog bisa jadi media berpendapat......



Di blogku yang pertama dan kedua pada jaman SMA (jaman jahiliyah yang sesungguhnya), aku menuliskan kejadian-kejadian sial. A la- a la terinspirasi dari blog Raditya Dika, saat itu aku berpikir bahwa kejadian lucu itu bisa dijual bahkan disaat kejadian itu justru mempermalukanmu. Tapi memang kesialanku belum sesial Raditya Dika dan cukup lucu untuk ditertawakan, alhasil aku mentok dan gak nulis lagi (aku nggak berharap sial setiap hari juga sih). Di blogku yang entah ke-tiga atau empat pada jaman kuliah (jaman galau jadi menu utama kehidupan), aku menuliskan hal-hal yang membuatku galau sambil sok ngasih semangat biar temanku nggak galau lagi. Kalo ingat sih iyuuh sendiri. 

Terus sekarang aku nge-blog buat nulis apa? apa yaa hahaha. Aku akan menulis apapun yang aku temui, yang menurutku menarik untuk ditulis. Sesimpel itu. Aku mau menjadikan blog ini sebagai tempat berpendapat, tapi tenang aku nggak akan ngasih kultum di sini, karena blog media curhat bukan media jihad. Banyak hal yang ingin aku sampaikan tapi terlalu malu untuk diungkapkan (tsaades), nah aku percaya blog bisa jadi tempat untuk berpendapat tanpa ada yang tersakiti (kalo nggak baca ya nggak akan tersakiti).

2. .....dan berpendapat-an


Entahlah, tapi fenomena yang ada saat ini memungkinkan siapapun dengan mudahnya mendapat penghasilan dari online. Mulai dari jualan online, media online, game online, prostitusi online, dan semua semua yang pake embel-embel online. Eits, kalo blog dari mana? bisa pasang AdSense. Tapi jangan tanya itu apa dan caranya gimana karena aku juga nggak tau hahahah. Yah pokoknya gitu lah, cek di link yang aku tautkan yah!

3. Bisa kenal banyak orang, baik online maupun offline. Lumayan siapa tau dapet gebetan.




Menjadi seorang blogger bisa membuatmu berkesempatan untuk kenal banyak orang, sesama blogger maksudnya. Tanpa pernah bertemu kamu bisa merasa dekat dengan seseorang, karena merasa dekat dengan apa yang ia tuliskan. Merasa apa yang kita (kita? gue aja kali) rasakan terwakilkan melalui apa yang orang lain rasakan. Nggak heran kenapa sesama blogger kalo dipertemukan bisa ngobrol panjang kaya orang yang udah kenal lama. yah, mereka bahkan sudah punya bahan obrolan dari apa yang mereka tuliskan, jadi kalo mau PDKT lebih gampang. Terlebih sekarang banyak event offline yang mempertemukan sesama blogger. Contohnya Piknik Blogger: The Blogger Meet up a la Hipwee (promosi acara sendiri). Jadi makin banyak kenalan deh.

4. Berkesempatan untuk diundang banyak kalangan misalnya brand atau perusahaan.


Beberapa minggu yang lalu, aku menggantikan rekan kerjaku (blogger) untuk memenuhi undangan arisan salah satu brand kosmetik lokal yang lagi naik daun (ulet kali ah). Nah aku dengan pedenya dateng-dateng aja, ternyata semua undangan adalah blogger. Yaps, karena brand tersebut butuh review produk kosmetiknya, nah blogger sebagai orang yang mampu menulis dan tulisannya layak dibaca banyak orang merupakan sasaran empuk dari brand-brand tersebut. Bukan hanya kosmetik, tetapi juga resto baru, cafe atau bahkan hotel yang membutuhkan review. Pelaku usaha berbondong-bondong mendekati blogger untuk dibuatkan tulisan tentang tempat atau produk baru mereka.
Blogger jelas nggak dirugikan, yaiyalah mereka diundang gratis, difasilitasi makanan, diberi produk, diberikan kenyamanan, setelah nyaman lalu ditinggalkan (lho). Blogger dengan senang hati menuliskan pengalamannya serta review yang mereka berikan. win-win sih jadi sama-sama untung.

5. Blog bisa membuatmu terkenal, terdengar muluk tapi ini layak dicoba, siapa tahu kamu berkesempatan buat jadi the next Evita Nuh atau Raditya Dika.


Ini adalah alasan yang paling muluk-muluk untuk jadi seorang blogger. Tapi gapapa namanya juga usaha hahaha. Sebenarnya jadi apapun, asal kamu punya karya yang bagus kamu bisa kok jadi terkenal, termasuk jadi blogger. Contohnya, Evita Nuh, fashion blogger nyentrik ini bahkan dikenal sejak dia masih kecil (sekarang juga masih kecil sih). Karena gaya berbusananya yang unik, nyentrik dan lain dari anak-anak seusianya, Evita Nuh bahkan jadi salah satu dari 5 Prempuan Muda Berpengaruh di Media versi kompas.com.
Lain Evita Nuh, lain Raditya Dika. By the way aku bukan fans dia, cuma pingin bahas dia aja karena semua orang tau blognya. Berawal dari blognya "Kambing Jantan", Radit jadi banyak dikenal orang, blognya pun dibukukan dan jadi National Best Seller. Yah bahkan dia masih exist sampai sekarang.
Jadi kamu masih punya kesempatan untuk terkenal lewat blog kan? Yah semoga aja. Rejeki orang kan beda-beda hahaha, kalo mereka bisa terkenal siapa tau kamu nggak, yah kan siapa tau.

Nah, itu tadi 5 alasan kenapa kita (kita? gue aja kali) harus nulis blog selagi muda. Kenapa selagi muda? karena kalo udah tua yah ngurus anak, ngurus suami, ngurus cucian kotor, ngurusin badan, ngurusin rumah tangga orang dan rumah tangga artis pujaan.

Sekian.


Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages