Kamis, 29 Desember 2016

Memaknai Hidup Lewat Frasa "Wang Sinawang"


"cen urip iku yo wang sinawang, opo sing didelok penak durung mesti sing ngelakoni penak" 

Kalimat bahasa Jawa yang pernah dilontarkan seorang teman di warung makan selalu terngiang dalam ingatan. "Hidup itu saling melihat,  apa yang terlihat enak belum tentu yang menjalaninya merasa enak". Aku tak tahu arti pastinya tapi aku mencoba memahami maknanya. 

Sempat berpikir, tahun ini begitu banyak yang dilalui, mulai dari fase bekerja pasca wisuda, memulai bisnis yang tak tahu arahnya, patah hati bertubi-tubi, hingga badan dan pikiran rasanya letih sekali. Merasa ditekan oleh beberapa pihak, merasa semesta seolah tak mengamini mimpi-mimpi yang dimiliki. Ahh, rasanya tahun ini berat sekali.

Saat beban terasa begitu menyiksa, hasrat membandingkan hidup dengan hidup orang lain seolah memuncak. Namun tiba-tiba seorang teman (yang dianggap begitu sukses) datang menghampiri dan berkata;

"ih kamu enak banget ya, lulus langsung dapet kerja, mana di media kan cita-citamu banget, di Jogja lagi, jalan-jalan ke luar ngeri mulu ahh pingin banget. Aku kerja di Jakarta udah macet, kerja banyak tekanan, apa-apa mahal, stress lah pokoknya"

Mendengarnya aku hanya bisa tersenyum sambil bergumam "ahh, wang sinawang"

Melihat teman seangkatan begitu pesat berkembang, dari yang naik jabatan hingga melangkah ke pelaminan. Sedang kamu, masih pada titik perjuangan. 


Lah memang mereka udah nggak berjuang?


Mereka yang sudah berlabuh di ibu kota seakan menjadi patokan sebuah kemakmuran. Mereka yang sudah melangkah ke pelaminan seakan menjadi patokan kebahagiaan. Meraka yang passionate bekerja sesuai bidang seakan menjadi simbol kesuksesan. Mereka yang telah lama berpacaran dan sedang hangatnya menyusun rencana pernikahan seakan jadi gambaran indahnya kehidupan.

Padahal mereka yang terlihat makmur, sukses, bahagia, dan indah hidupnya juga masih berjuang, hanya beda fase perjuangannya saja. Mereka memang tak lagi berjuang mencari jodoh, pun pekerjaan, tapi mereka yang 'terlihat makmur' di ibu kota masih harus berjuang menghadapi kemacetan Jakarta, masih harus berjuang mengatur keuangan karena biaya hidup yang tak murah. Mereka yang sudah menikah, masih harus berjuang menghadapi keganasan ibu mertua (misalnya), menghadapi omongan tetangga, berjuang menyatukan dua kepala, dan perjuangan lain yang kita tak tahu apa. 

"Jangan merasa berjuang sendirian, karena setiap orang juga sedang berjuang hanya beda fase dan porsinya saja!"

Ahh, menilai hidup orang memang begitu mudahnya, rumput tetangga selalu lebih hijau, kesannya. Bahkan indomie pun terasa lebih nikmat jika orang lain yang memasak.


"Yah dia mah enak, udah cantik, kaya, gampang dapet kerja apalagi dapet jodoh"
"Ingin rasanya aku seperti dia, tampan dan rupawan, kaya raya, anak pewaris tunggal perusahaan, baik hati, pintar, sempurna"

Itu orang apa tokoh utama di drama Korea? Banyak orang (termasuk aku) yang seolah lupa bahwa sosok sempurna hanya ada dalam drama. Kenyataanya, ada-ada saja masalah hidupnya.


Di balik kilau hidupnya yang menyilaukan banyak mata, mungkin ada air mata yang dipendam sendiri dan tak sudi untuk dibagi. 


Jadi ingat kalimat "tak selalu yang berkilau itu indah".  Selalu tertawa pun bukan berarti tak pernah menangis, yang selalu ceria pun bukan berarti tak punya beban dalam hidupnya.

Jangan coba banding-bandingkan! Setiap orang dengan hidup dan kekurangannya, jelas beda problematika hidupnya dengan orang lainnya. Ya kali bandingin hidup dengan Raisa, jelas berbeda! Bukan berarti hidupnya begitu mudah atau kamu begitu sengsara, tapi kadar masalah dan gaya hidup saja sudah berbeda. Mungkin dia tak harus pusing cari uang dimana, atau terlihat cantik bagaimana caranya, tapi dia punya beban jadwal manggung yang padat (misalnya) yang mungkin kita pun tak terbayang bagaimana beratnya.

"Kita tak pernah benar-benar tahu apa yang orang lain lalui dan perjuangkan, jadi tak seharusnya kita terburu-buru menyimpulkan"

Jadi disyukuri aja, jangan terlalu sibuk membandingkan, hidup kan "wang sinawang"


Rabu, 28 Desember 2016

[Life Hacks] 6 Cara Bertahan Hidup di Akhir Bulan


Hidup di akhir bulan dengan teman mie instan
Hidup di akhir bulan aku harus bertahan (Akhir Bulan-Kunto Aji)


Sesulit-sulitnya hidup di akhir bulan akan lebih sulit hidup di akhir zaman akhir bulan+akhir tahun. Kenapa akhir tahun? Karena ada sale akhir tahun, Harbolnas, diskon natal, banyak long weekend dan di Jogja ada Sekaten. Hal-hal tersebut sadar nggak sadar membuat kita merogoh kocek lebih dalam dengan kedok "gapapa, mumpung ada kesempatan". Kalo bisa beli sabun mandi pun di Harbolnas, hadeuh. Alhasil akhir bulan di akhir tahun benar-benar jadi momok mengerikan yang tentu menghadapinya butuh perjuangan.

Uang tinggal 150 ribu untuk 10 hari nggak boleh membuat kelaparan apalagi menghindari pergaulan, tapi juga jangan sampai membuatmu terlilit hutang. Sebenarnya masih ada uang tabungan, tapi jelas tabungan dan jatah bulanan itu lain urusan, jadi nggak boleh diotak-atik. Memang harus kejam soal saving demi masa depan. Selama beberapa hari aku seolah dipaksa memutar otak demi menghadapi akhir bulan dan ternyata cara-cara yang kutempuh cukup ampuh. 

1. Sebelum menghadapi peperangan, pastikan kamu punya persediaan.


Saat uang masih melimpah ruah, dan wajah masih sumringah, coba deh beli persediaan yang bisa bertahan sampai akhir bulan. Misalnya, isi air galon (penting banget nih), sabun cuci, sabun mandi, odol, stok cemilan, beras, dan beberapa makanan kering. Pastikan cukup sampai akhir bulan. Paling nggak pas akhir bulan masih bisa hidup dengan tenang walaupun penuh pengiritan. Kalo punya persediaan, PR-nya tinggal mengotak-atik cara makan.


2. Saat sarapan, cobalah berteman dengan angkingan atau pisang!

1 bungkus nasi angkringan = Rp.2000,-
2 gorengan = Rp.1000,-
Bisa kenyang dengan modal Rp.3000,- (nikmat Jogja mana yang kamu dustakan?). Kalo bosen dengan angkringan bisa ganti dengan pisang (pastikan nggak lebih dari 3.000) atau diselingi makan roti seharga 3.000-an. Ngirit boleh, tapi jangan sampai meninggalkan sarapan!

PS: Jika sakit hubungi dokter

3. Tingkatkan keterampilan dengan mengolah makanan sisa semalam


Sebagai sarjana pertanian (yang pas zaman kuliah sering demo kedaulatan pangan), aku paling pantang buang-buang makanan. Contohnya hari Sabtu kemarin, masih ada telur goreng dan nasi sisa semalam. Kalo dimakan gitu aja pasti bikin nggak nafsu makan. Dengan modal beberapa cabe rawit di kulkas, bawang bombai (nggak ada bawang merah dan putih, cuma ada 1/2 bawang bombai yang tersisa), bon cabe, garam dan kecap, jadilah nasi goreng. Bahkan nasi goreng hasil olah sisa semalampun bisa dimakan 5 orang, selain diri sendiri kamu bisa menyelematkan perut banyak orang.


4. Go-pay is a new hope


Pernah mengalami uang sisa di ATM Rp 50.125? Seperti punya uang tapi tak punya, karena tetep nggak bisa diambil. Untuk penarikan, minimal sisa uang di ATM Rp.20.000. Sedang 'si-30.000' juga nggak bisa diambil karena nominal terkecil penarikan di ATM kan 50.000 (ada yang 20.000 sih tapi udah jarang banget, nyarinya susah). Nah jangan putus asa! Go-pay adalah solusinya. Top up go-pay aja 'si-30.000', kelar urusan. Kalo mau makan bisa go-food, pastikan pesan makan di tempat go-food partner, karena dengan go-pay jadi free delivery order.
Go-pay seems like God-pay

5. Cari aktivitas menyenangkan yang bikin lupa kalo belum makan seharian


Punya hobi yang nggak perlu mengeluarkan biaya dan bisa bikin lupa makan seharian? boleh tuh dicoba. Bisa baca buku, nonton drama Korea, maraton nonton film, atau main game seharian. Contohnya hari Minggu kemarin, aku menyelesaikan drama Korea 15 episode dalam sehari. Dengan bermodal air mineral galon, stok camilan bulanan, dan go-food 1x pesan aku bertahan hidup seharian. Ngirit? jelas. Laper? nggak sama sekali. Sehat? nggak juga sih (besoknya pegel dan ngantuk hahaha).

PS: Jika sakit hubungi dokter

6. Kalo masih ada makanan kenapa harus jajan?


di kantor, setiap pegawainya dapat jatah makan siang, tapi nggak semua makan di kantor. Ada yang milih jajan, ada yang ketemu orang di luar saat jam makan siang, ada juga yang nggak doyan makan. Jadi setiap sore selalu ada aja sisa makanan, dan itu masih banyak. Salah satu penulis yang terampil dan berjiwa keibuan, Meliy, selalu mengolah makanan di sore hari. Jadinya bisa deh dimakan untuk malam. Lagipula sayang kan kalo kebuang, toh masih banyak dan masih enak. Lumayan bisa hemat makan malam. Meily memang panutan.

Dengan 6 cara di atas, uang 150 ribu pun bisa membuatku bertahan selama 10 hari, bahkan masih bisa nonton film di bioskop, nongkrong bareng teman-teman saat malam minggu dan jajan lekker saat break kerja. Sama sekali nggak ngutak-atik uang tabungan.

Perut kenyang, pergaulan jalan. Ngutang? pantang! Sehat? Wallahualam.

Selasa, 20 Desember 2016

Dikit-dikit Dikaitin Sama Cina. Kenapa Orang-Orang Semakin Rasis?

Akhir tahun Indonesia terasa begitu hingar bingar, terutama di sosial media. Semuanya terasa begitu sensitif, mulai dari politik, agama, uang, sampe style Presiden juga jadi bahan perdebatan. Segala sesuatu dikomentarin mulai dari yang wajar sampe yang nggak masuk akal.

Hal yang positifnya, mungkin ini sebagai langkah awal membentuk generasi muda yang lebih kritis dan “melek” politik. Tapi negatifnya, semua berita yang ada seolah tak disaring lagi dan diserap begitu saja. Padahal nggak semua pemberitaan saat ini netral lho, ada yang menyudutkan, ada yang melebih-lebihkan, yang provokasi juga banyak. Coba baca artikel Tirto.id di sini deh biar pada disadarkan

Aku nggak akan mengomentari soal Ahok, Al-Maidah, 212, ataupun boikot sari roti. Selain karena bahasan ini terlalu sensitif, aku juga nggak terlalu paham takutnya malah salah ngomong dan terkesan ‘sok tau”. Hal yang pasti aku paham, aku tau dan aku heran adalah kenapa sari roti tawar sandwich coklat yang harganya Rp 4.500 itu begitu kecil? Sebagai pecinta makanan aku merasa kurang kenyang.

Well, balik lagi ke topik, awalnya aku nggak mau komentar dan cenderung menghindari sosial media, tapi kini rasanya mulai jengah juga. Bukan, bukan mau menyalahkan, atau memihak mana yang benar mana yang salah. Aku hanya merasa sensitifitas orang sudah mulai berlebihan, terutama kalo berkaitan sama Cina, kesannya salah semua.

Bahasan yang paling hangat adalah soal peluncuran uang baru Indonesia. Sebagian menyambut gembira, sebagian biasa aja, dan sebagian berkata “mirip uang Cina ya?”

“Are you kidding me?" 

Kalo ditanya bilangnya karena tampilan dan warnanya. Terus mulai menduga-duga "jangan-jangan ini.... jangan-jangan itu....."

Udah pernah lihat uang Bath? Ringgit? Euro? Kalo belum ya mbok dicari di google, jangan cuma lihat Yuan lantas membandingkan. Kalo nggak coba mampir ke money changer terus tanya;
“Uang Bath ada?”
Ada
“Uang Ringgit ada?”
Ada
“Uang Euro ada?”
Ada
“Uang Yuan ada?”
Ada
“Kalo nomer HP ada juga dong?”

Kalo masih males juga, aku bandingkan di sini deh, diliat jangan pura-pura nggak liat.

Uang rupiah baru via www.hipwee.com

lebih mirip uang Euro sih 

Emang semua uang bentukannya begitu, warna warni juga, kenapa nggak ada yang complain uang NKRI mirip uang Euro? Nggak ada complain mirip uang Bath?

Kalau kalian mau benci Ahok ya monggo silahkan, tapi bukan berarti stereotype dan mendeskreditkan semua hal yang berkaitan dengan China. Kalo memang mau Indonesia bebas China yaudah stop dong pake mejikom Yongma, mulai balik pakai panci buat nanak nasi. Nggak usah lah nawar mati-matian buat beli Xiomi dengan harga murah, pake modem Huawei jangan pada bangga.

Bikin status marah-marah anti-China tapi posting via Xiaomi, serah lu dah! yang penting semua salah China, kalian semua sucih China penuh dosah!

Sabtu, 17 Desember 2016

Manggadaikan Produktivitas Demi Drama Korea? Ahh Aku Hampir Gila!

Beberapa pekan lalu entah mengapa rasanya begitu berat menjalani hidup, entah karena berat badan yang terus naik. Bisa jadi! Rasanya enggan untuk mengerjakan banyak hal. Merasa tidak pada peforma terbaik, merasa tidak di jalan yang baik, merasa pekerjaan begitu sulit, merasa lelaki tampan itu yang sipit. Galau antara harus melepaskan pekerjaan demi S2, galau pilih jurusan yang mana, atau sekedar galau karena mau makan apa. Entahlah segala hal yang biasa saja seoalah begitu rumit. Mungkin ini yang dinamakan demotivated.

Sebenarnya hal ini bukan pertama kali terjadi, dalam hidup pasti ada masanya kehilangan semangat. Biasanya selalu ada 3 cara yang aku lakukan untuk mengatasinya; traveling, makan es krim dan nonton film komedi. Selain harus hemat, aku belum bisa ambil cuti untuk traveling jadilah tersisa 2 pilihan; makan es krim atau nonton film komedi. Makan es krim rasanya terlalu sering, dan kali ini tidak cukup meningkatkan semangat justru berat badan yang terus meningkat. Jadilah pilihan jatuh ke “nonton film komedi”.

Andrall, Ojik dan Om Rez adalah 3 nama yang terlintas untuk dimintai film, selain karena mereka cukup ‘lucu’ aku merasa mereka punya banyak stok film. Tapi ternyata aku salah.

Ojik, list film yang dia berikan adalah Sex Tape dan The Other Woman, film yang bahkan adegan ranjang akan mucul di menit pertama. Aku gak tahu film dewasa itu lucunya dimana. Yah, sekarang aku paham, kenapa cowok-cowok selalu bilang cewek sexy di instagram “wih lucu banget”, ternyata itu lucu dari kacamata pria. Failed!

Andrall, si pria brewokan berwajah gahar itu memberikan aku rentetan film… kartun. Iya, kartun. Entahlah walaupun aku nggak suka film dewasa, bukan berarti film anak-anak juga, aku bahkan gak mau nonton kartun kalo bukan dengan adikku. Yah, harusnya aku mempertimbangkan stiker Winnie the Pooh di laptopnya sebelum minta rekomendasi film padanya. Failed!

Om Reza, si pria yang paling tua di kantor itu bukan memberikan film lucu, tapi…. Drama korea. Yah walaupun dia adalah yang paling bijak dan selalu bicara selayaknya orang dewasa, tapi dia begitu suka nonton drama korea. Nggak ada yang salah memang, tapi….

Sudah 8 bulan aku menghindari nonton drama, sekalipun saat semua orang membicarakan Descendent of The Sun pun aku tidak tergiur sama sekali. Karena aku tau sekali aku nonton drama aku nggak akan bisa berhenti. Selepas SMA, 4 Tahun aku berhenti nonton drama, tapi saat KKN aku kembali mencoba nonton dan kembali addicted. Selepas KKN aku mencoba berhenti lagi. Soal Drama Korea aku memang mudah goyah.

Aku teringat, saat semua orang main Let’s Get Rich, aku orang yang paling keras kepala untuk tidak sekalipun mencobanya. Aku bahkan memblokir orang-orang yang mengundangku main Let’s Get Rich di LINE. Saat sedang booming permainan Pokemon Go, aku jadi orang paling ngotot untuk tidak mencobanya. Sekalipun anak kantor pergi keluar bersama demi memainkannya, aku tetap tidak tergoda, yah hanya sesekali mencoba dari HP teman, itupun aku merasa tak ingin melepaskan hpnya dari genggamanku. Alasannya sederhana, aku terlalu mudah kecanduan dan ketergantungan pada hal-hal yang berpotensi membuatku suka (banget), makanya aku memilih menghindar. Jadi kalau aku menghindari sesorang, kemungkinan besar aku suka (banget).

Ahh, balik ke Drama Korea, Om Rez memberikan “Shopping King Louie”. Pemain cowoknya terlalu imut, nggak terkenal, ceweknya juga nggak terkenal (mungkin karena sudah lama nggak nonton drama jadi aku nggak kenal siapa-siapa), aku yakin aku tidak akan tergoda menontonnya. Episode pertama sukses membuatku ketiduran di tengah cerita, aku tidak akan kecanduan, pikirku. Besoknya, iseng liat episode ke-2 dan ternyata, lagi-lagi aku hampir gila. Dalam 3 hari aku menyelesaikan 16 episode, persis seperti pengangguran. Ottoke ottoke? Aku rasa aku mulai kecanduan.

Tidak cukup di sana, aku juga nonton The Legend of The Blue Sea yang sekarang masih tayang, aku bahkan rela menunggu Rabu-Kamis untuk download. Tidak puas menunggu Rabu-Kamis, aku juga nonton web drama 7 First Kisses, yang juga tayang seminggu sekali. Aku harus rela mengecek youtube untuk melihat apakah sudah ada episode terbarunya. Terparahnya lagi, aku nonton Drama Jealously Incarnate dan hampir tiap pagi aku datang dengan wajah gloomy dan mata bengkak karena menangis dan tertawa bersamaan saat menontonnya tiap malam. Ahhh, aku benar-benar mengila, ditambah lingkungan sekitar merekomendasikan Goblin dan Romantic Doctor Kim, rasanya aku tak mau dengar.

Sekarang, masalahku bukan lagi soal "demotivated" tapi berganti menjadi "Korean drama addicted". Aku sedang memikirkan cara agar kembali berhenti nonton drama Korea. Ada ide?

Jealously Incarnate via www.dramafever.com

Kamis, 24 November 2016

Melihat Fenomena yang Ada, 5 Cara Ini Bisa Bikin Kamu Terkenal dengan Mudahnya


Jaman dulu saat TV masih jadi primadona di kelurahan, sosok idola anak muda bisa dihitung pake jari. Tak jarang anak muda punya idola yang sama.
“Siapa artis pria idola kalian?”
Gadis-gadis dengan kompak akan menjawab “Rano Karnoooo”

Kalo sekarang? Jangankan ngitung pake jari, pake sempoa aja sulit sangking banyaknya. Begitu banyak seleb bertebaran, tingkat keterkenalan pun jadi makin sulit diukur. 
“Siapa artis pria idola kalian?”
Ukhti-ukhti dengan kompak menjawab “Fedi Nuriiiiil”
ABG labil akan teriak “Aliandoooo”
ABG labil lainnya nggak mau kalah teriak “Al-Ghazaliii”
ABG labil lainnya balas teriak “Gaga Muhammad”.

Wait, emang dia artis? 
Nggak perlu jadi artis sih buat terkenal, asal menerapkan 5 hal ini, kamu juga bisa kok dikenal banyak orang, kaya Gaga Muhammad misalnya.

1. Manfaatkan semua sosial media yang ada, Instagram sampe Ask fm semua layak dicoba



Pernah dengar quotes “works until you don’t need to introduce yourself”? Kalo sekarang udah berubah jadi “post with a lot of hash tag until you don’t need to introduce yourself!”

Sekarang orang terkenal bukan hanya dari film, majalah dan televisi, justru lebih banyak yang terkenal karena social media. Nggak heran kalo sekarang banyak seleb-tweet, seleb-gram, beauty-blogger, vlogger, youtuber, Mba Iber (catering kantor), dan ber-ber-ber lainnya. Kalau kita nggak kenal seseorang yang ‘katanya’ terkenal, bukan berarti kita ketinggalan jaman, cuma emang terlalu banyak aja.

“Tau nggak sih, Awkarin putus lho sama Gaga?”
“Eh serius? Si Rachel Venya sama Niko juga katanya putus”
“Kasian banget ya mereka, padahal Anya Geraldine baru aja jalan-jalan sama pacarnya ke Bali”
….. saat mendengar obrolan di atas, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Anya Geraldine itu siapanya Tamara Geraldine ya?” dari situ aku sadar bahwa aku udah mulai tua, saatnya aku menikah dengan pria kaya.

2. Apapun postingannya jangan lupa menambahkan kata “Goals” di belakangnya



Posting foto bareng pacar >> hashtag Relationship-Goals (kemudian bikin vlog nangis saat putus)
Posting foto bareng kakak >> hastag Sibling-Goals (padahal aslinya tiap ketemu jambak-jambakan karena rebutan gebetan)
Posting foto makanan >> hashtag Dinner-Goals (padahal pake lilin bukan biar fancy tapi buat ngusir lalet)
Posting foto badan dari kaca gym >> hashtag Body-Goals (padahal fotonya sambal tahan napas, sekali buang napas kelar tuh perut)

Dikit dikit goals, dikit dikit goals, entah ada apa dengan anak muda Indonesia saat ini, gimana Bangsa ini mau maju? #KritikusGoals #PeduliIndonesiaGoals #GenerasiAsikGoals  #IndonesiaCerdasGoals

3. Jadikan drama sebagai menu utama, tambahkan air mata sebagai penyedap rasa



Sebelum Awkarin mengeluarkan tembang fenomenal “kalian semua sucih aku penuh dosah”, dia dikenal karena video Confession nya saat putus dari Gaga, dengan drama dan air mata.  Entahlah, masyarakat Indonesia yang dulunya gak pernah tau dia siapa mendadak jadi terfokus padanya.  Selain Awkarin, baru-baru ini ada pula video yang viral karena air matanya, “Ibu-ibu berhanduk yang nangis sampe nggak bisa makan karena Pak Ahok jadi tersangka”.

Tuh kan, drama dan air mata itu bisa bikin kamu terkenal. Sekarang buruan deh siapin bawang bombai sama sapu tangan terus mulai ngomong apapun yang nggak penting, jangan lupa direkam dan disebarkan. Kalo belum terkenal, coba ulangi lagi! Mungkin kamu masih kurang lebay.

4.  Asal kamu polisi dan ikuti rumus di bawah ini, popularitas akan ada di depan mata

polisi ganteng + peci + 212 = minta dihalalin

Kamu polisi? Ganteng nggak? Kalo ganteng, coba deh muncul di kasus-kasus penting. Misalnya di bom Sarinah atau di sidang Jesika. Pasti deh kamu bakal terkenal.

Kamu polisi? Cantik nggak? Kalo cantik, muncul deh siaran di metro tv, jangan lupa senyum. Pasti deh kamu bakal terkenal

Kamu polisi? Nggak ganteng? Coba effort nya ditambah, jangan cuma foto selfi, coba dubbing video sambil joget India, atau mengamankan lalu lintas sambil joget. Kuncinya ‘joget’, pasti deh kamu bakal terkenal.

Kamu polisi? Nggak cantik? Coba deh ikuti poin no.3 (tambahkan drama + air mata), kasih kalimat yang unik kaya “di situ kadang saya merasa sedih” atau “saya tuh nggak bisa diginiin”. Pasti deh kamu bakal terkenal

Kamu bukan polisi terus nggak ganteng nggak cantik nggak kaya? kelar idup!

5. Lupakan poin 1-4, Kalo kamu punya karya, jadi terkenal atau nggak itu bukan hal yang utama.



Kalo kamu terkenal dengan modal poin 1-4 kamu memang bakal terkenal dengan instan. Tapi ya ibarat mie instan, masak 5 menit abis 5 detik, 1 jam kemudian udah laper lagi. Sama kalo kamu terkenal dengan cara instan, mudah dikenal, mudah menghilang, mudah dilupakan. Kalo kamu bener-bener mau dikenal like a legend ya harus punya karya. Punya karya emang nggak gampang, harus ada usahanya. Kalo mau gampang mah cari suami kaya! Itupun kalo dianya mau.

Well, tulisan ini adalah refleksi dari diri sendiri yang sebenarnya juga masih mencari suami karya apa ya yang bisa dihasilkan, kira-kira aku cocoknya jadi apa ya? Dan semua pertanyaan yang masih mengganjal. Semoga setelah ini aku menemukan cara untuk menghasilkan karya, kamu juga yaa! Kamu, iya kamu.

Sekian 

Rabu, 23 November 2016

Rasanya jadi guide 71 mahasiswa di Bangkok-Pattaya



Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya….."tukang pijet dimana ya?”


Aku bukan travel blogger, juga bukan traveller (yaiyalah ke Salatiga aja nyasar sampe Ungaran). Alasan kenapa aku suka jadi travel guide adalah karena aku suka bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, apalagi kalo orangnya ganteng, pake kaca mata, agak sipit. cocok! Sesederhana aku suka lihat anak-anak muda berinteraksi di KRL, becandaan gak penting, tertawa bersama seperti sudah kenal lama. So much fun. Aku lebih suka melabeli diri sendiri sebagai “your personal travel guide” ketimbang “traveler”.

Pengalaman ter-epic adalah saat jadi guide untuk kunjungan 71 mahasiswa  dari Universitas swasta ke Bangkok-Pattaya. Aku bersama sahabatku Kevin, cowok yang memang berpengalaman soal jalan-jalan (kisahku kenal dia juga gak kalah epic, akan aku ceritakan di blog berikutnya).  Selama 7 hari banyak kejadian gila, “Gila” di sini bukan majas hiperbola tapi literally aku hampir gilaaaaaa. Aku coba rangkum dalam beberapa poin.

1. Dari pesawat keberangkatan udah ada 1 orang ketinggalan, pas dia kasih alasan bukannya kasian malah pingin nangis di pojokan.



Rute kami saat itu Solo-Kuala Lumpur-Bangkok, ada 1 kali transit di KL. Dalam jumlah 71 orang (tambah 2 guide jadi 73 orang), nggak memungkinkan untuk penerbangan KL-Bangkok dalam 1 pesawat, maka kita bagi jadi 3 flight. 20 orang flight pertama (bersama aku), satu jam kemudian 20 orang flight ke-2, dan satu jam berikutnya 33 orang flight ke-3 bersama Kevin.

Rombonganku aman, hampir ketinggalan sih tapi masih aman. Rombongan ke-3 bersama Kevin jelas aman. Rombongan ke-2, yang lain sih aman, tapiii….

Kevin ketemu sesorang di depan toilet dekat boarding room, sebut saja si X
Kevin : X kok nggak masuk?
Si X : Iya kak, lagi nunggu temenku BAB nih
Kevin : oke, buruan yaa kan bentar lagi take off
Si X : siap kak

Kemudian sang teman yang BAB (sebut saja Y) sampai Bangkok dengan aman, sementara si X, sang sahabat setia yang menunggu di depan pintu toilet malah ketinggalan. Ternyata larinya si X tidak secepat temannya (si Y), alhasil sang teman (si Y) sampai tujuan, (si X) masih lari-larian.

Kuis : Berapa kecepatan lari X jika dikurangi lama waktu Y membuang hajat dibagi jarak tempuh dari toilet ke boarding room? (Essay, bobot soal 25)

Untungnya dia cukup inisiatif buat beli tiket baru penerbangan berikutnya, dan saat ditelpon dia bilang “kak, aku ketinggalan pesawat jangan tanya alasannya kenapa, yang penting aku udah beli tiket baru”.

Oke aku nggak tanya.

2. Sempat takut karena mayoritas peserta tour adalah orang-orang Timur, tapi justru mereka lah yang membuatku banyak bersyukur.

Wat Arun

Pertama lihat peserta-pesertanya takutnya luar biasa,  mengingat diriku yang manja kemana-mana di Bangkok bawa payung pink bunga-bunga. Tapi setelah kenal mereka sungguh istimewa. Alih-alih complain dengan fasilitas tour, mereka justru cerita pengalaman mereka hidup di wilayah Indonesia Timur. “Murah ya kakak di sini 6 juta sudah pesawat dan hidup, saya di Papua 6 juta baru tiket pulang saja dari Jogja”.

Tak jarang mereka menawarkan bantuan “Kakak sini saya bantu bagikan, biar saya seperti magang sekalian yah” kata salah satu peserta yang selalu menawarkan bantuan saat membagikan kotak makan.  Bukan itu saja, tak jarang mereka membatu kami mengkoordinir temannya sambil bilang “kasian ini kakak ini tolong didengarkan”

Hal yang paling berkesan dari pengalaman tour ini adalah aku akhirnya paham bahwa nggak semua orang-orang Timur seperti apa yang diberitakan. Mereka bisa jadi sangat baik dan menyenangkan, hanya terkadang kita aja yang terlalu takut dan melebih-lebihkan.

How I miss them

3. ……tapi itu tidak berlaku di Pattaya, kali ini mereka membuatku benar-benar gila

Pattaya Walking Street


Buatmu yang suka nonton drama Thailand pasti nggak asing dengan Pattaya Walking Street. Jalan sepanjang 1,5 km ini kamu akan menemukan bar dengan penari-penari striptis, harga minuman yang dijajakan pun jauh lebih murah dari kebanyakan (katanya). Nggak heran kalo Pattaya Walking Street jadi idaman wisatawan. Nah, mereka yang merupakan anak-anak muda dengan keingintahuan tingkat dewa ditambah memang nggak dilarang untuk minum-minuman beralkohol tentu saja dengan semangat 45 berbondong-bondong ke sana.

Aku? Boro-boro ikut, malah nyari Thai Massage karena badan pegel semua (itulah kenapa aku nggak bisa disebut sebagai traveller).

Jam 1 pagi sebagian peserta balik ke hotel, aman. Jam 2 pagi sisanya juga balik hotel, aman. Nah bagian yang nggak aman adalah ada anak yang inisiatif nyusulin temennya yang nggak balik-balik (sungguh mulia kamu nak). Jam 4 pagi sang teman yang disusulin akhirnya balik juga, nah yang nyusul? Jangan tanya dimana, dia malah nyangkut di sana. Dari mereka aku sadar bahwa konsep 'teman dan tunggu-tungguan' memang harus direvisi sejak dini.

“Kakak, lain kali kalau kita tour lagi 7 hari saja di Pattaya, biar puas”

“Iya kakak, 7 hari-7 harinya di Pattaya walking street saja, nggak usah kemana-mana”

“hahahhaa iyaa, semalem belum puas ya?” aku mencoba menanggapi, padahal dalam hati “ape lu kate, sehari aje aku begini, 7 hari bisa tipes kali AH”



4. Hari terakhir selalu jadi yang paling berkesan, pengalaman bersama mereka sungguh tak terlupakan.

Nongnooch Garden, Pattaya

Terlepas dari tragedi ketinggalan pesawat saat berangkat, tragedi mabuk di Pattaya, tragedi jatuhnya passport saat foto di Nong nooch Garden (akibat foto di atas), tragedi passport basah karena terkena sisa mabuk sampe tertahan di imigrasi KL, tapi mereka tetap menyisakan kesan mendalam. Kalo aku kembali ke Thailand pasti mereka yang akan muncul dalam ingatan.

Selalu teringat saat aku nungguin Kevin dan si-anak-yang-passportnya-basah di depan imigrasi KL jam 2 pagi dengan super ngantuknya, beberapa anak yang secara bergantian menemaniku.
“kakak ngantuk banget, tidur dulu aja, biar aku yang gantian nungguin”
“kak mau dibeliin makan apa?”
Anak lainnya datang membawakanku kopi.

Dari sana aku sadar bahwa ini bukan hanya pekerjaan tapi juga pembelajaran kehidupan. Dalam kondisi apapun, selalu ada orang-orang baik yang dikirimkan Tuhan. Yes, they are.

"Hai adek-adek semoga kita bisa ketemu lagi ya, hanya 1 pesan kakak please jangan tunggu-tungguan. hahahha see you when I see you ya (kalo kalian nggak kapok)"


Setiap perjalanan pasti meyisakan kesan mendalam dan kenangan yang begitu sayang untuk dilupakan.

Sekian

Senin, 21 November 2016

Rasanya Kerja di Media, yang Isinya Anak Muda Semua

Masa mahasiswa pastinya jadi masa yang paling istimewa, setelah lulus bangganya luar biasa, abis lulus baru deh kepikiran mau kerja apa. Cita-cita sih kuliah foya-foya, lulus dapet kerja, kerja kaya raya, tua banyak harta, mati masuk surga. Tapi apa daya, hidup nggak sesederhana rumah makan sederhana (yang ada rendangnya). Namanya juga lyfe, nggak gampang, harus ada usahanya, kalo mau gampang mah cari suami kaya! Itupun kalo dianya mau.

Terus kalo aku gimana? Untungnya Tuhan masih sayang padaku (walaupun kamu nggak sayang yang penting Tuhan sayang). Sebelum lulus aku dikasih kesempatan buat magang di salah satu media anak muda, yang akhirnya berlanjut sampe kerja beneran, sampe sekarang. Banyak banget yang bilang “ih enak banget sih kerja di media”, “ih enak banget sih lulus langsung dapet kerja”, atau “ih kerja apaan sih? ih Terus dapet duitnya dari mana?” dan segala ah-ih-ah-ih lainnya.


Tapi sebelum kalian ber-ah-ih-ah-ih lainnya, aku mau mengajak kalian membayangkan gimana rasanya.

1.  Karena kerja dengan orang seumuran, segala sesuatu bisa dikompromikan


Ini adalah bagian paling menyenangkannya, karena rekan kerja seumuran jadi gak segan kalo mau ngapain aja. Izin telat juga lebih enak, tinggal “Ges ges, telat dikit ya mau mampir bank dulu”. Bukannya dapet omelan karena datang telat, rekan kerjamu justru akan jawab “bank dulu mah di bawah kasur” (nb: ini jokes internal, jangan mencoba mencerna maksudnya, karena cuma mereka  yang paham).

2. Disaat pegawai kantoran sibuk cari setelan kemeja, jas dan celana bahan, kita sibuk memilah kaos mana yang paling nyaman


Karena sehari-hari cuma pake kaos oblong dan celana jeans, sekalinya kamu berpenampilan ‘agak’ modis, kata-kata ini yang akan kamu dapatkan “eh kok tumben e bajumu bagus” atau “ciee baju baru”. Pokoknya kalo berpakaian di luar kebiasaan pasti akan menimbulkan pertanyaan dan ledekan. 

3. Disaat pegawai kantoran mewajibkan karyawan untuk bisa dandan, kita yang kerja cuma pake alis dan lipstikan tetap terlihat berlebihan 


“Kok hari ini kamu beda e tir, pake alis ya?” ….. bahkan aku tiap hari pake alis pun ada aja orang yang komen begini, heran.

4. Lihat drama cinlok di tempat kerja semacam pemandangan yang biasa, alur ceritanya pun nggak kalah dari drama Korea



Semacam hal yang biasa kalo tiba-tiba ada gerak gerik yang berbeda dari sesama rekan kerja. Mencoba cuek pun nggak bisa, karena ujung-ujungnya salah satu dari mereka yang cerita. Karena sesama anak muda yang seumuran, jadi nggak heran kalo banyak yang naksir-naksiran sampe pacaran. Profesionalitas kerja? Yah semoga masih ada.

5. Weekend kerja udah biasa, dibilang buruh jahit sama teman sekosan juga terdengar biasa saja

bahkan buruh jahit pake dasi dan kemeja :( via http://philadelphia.cbslocal.com/

Karena kerja di industri kreatif jadi kadang nggak kenal waktu, terutama kalo kamu kerja di bagian ngurusin event. Pasti ada aja yang sampe malem atau di hari Sabtu Minggu, walaupun nantinya ada jatah libur pengganti  di hari kerja. Pulang malam dan kerja weekend identik dengan buruh, nggak heran kalo teman-teman satu kosan menamaimu “si buruh jahit”.

6. Ditanya “kamu kerja apa?”, “itu cara dapet duitnya dari mana?” sampe “udah deh cari kerja yang pasti-pasti aja, atau S2 sanah!” 

nanya mulu kaya pembantu baru via https://gaming.youtube.com

Setiap kali ditanya “kamu kerja dimana?”, butuh waktu jeda 3-5 detik untuk mikir jawaban apa yang bisa dikeluarkan. Kalau yang nanya sesama anak muda sih masih mudah ngejelasinnya, tapi kalo orang-orang tua kudu puter otak deh biar bisa dipahami.

“di media online, Om”
“oh online shop?”
“bukan om, itu kaya majalah tapi di internet”
“nah terus itu ngejualnya gimana?”
“yah langsung dibaca aja om, tinggal buka webnya”
“itu dapet duitnya dari mana?”

Kemudian adzan magrib berkumandang…..dan obrolan dihentikan. Tamat

7. Jauh dari kesan mapan, orang-orang justru beranggapan perkerjaan ini sekedar becandaan yang nggak ada masa depan.



Setiap ketemu orang, dia akan bilang “kamu nggak pingin cari kerja yang lain?”,  “itu lho PNS bukaan, atau kerja aja di bank kan gajinya lumayan”. Banyak yang beranggapan kalo kerja di media online itu semacam main game online, yah cuma permainan, bahkan orang-orang tertentu begitu sulit untuk melabelinya sebagai pekerjaan. Yah semoga setelah baca ini kalian jadi paham yaa (padahal yang nulis juga nggak paham). 

Intinya rasanya nano-nano, manis asam asin ramai rasanya. Namanya juga kerja ada plus minus nya, ada enak dan nggak enaknya juga, kalo mau enak mah cari suami kaya! Itupun belum tentu dianya mau. Apapun pekerjaanya yang penting dinikmatin aja, jangan resign seenaknya. Selama belum ada hal-hal principal yang dilanggar, mending bertahan sambil mempelajari apa saja yang bisa diperbaiki.

Sejatinya hidup kan belajar, belajar sabar kalo atasanmu cuti sebulan (semoga dia nggak baca), belajar sabar kalo proposal eventmu nggak di-approve, belajar sabar ngadepin pembaca yang suka komen semaunya, belajar sabar kalo menu catering kantor lagi nggak karuan (hahaha lebay), belajar sabar kalo ada temen kantor yang lagi singut-singutan, belajar memahami diri sendiri dan orang lain. Seseorang pernah berkata “ketika kamu kerja, It’s not about you anymore, it’s about team!” Serta, tembok kantor senantiasa bersabda “If you get tired, learn to rest, not to quit!”

Sure.

Minggu, 20 November 2016

5 Alasan Kenapa Harus Nulis Blog (Lagi) Selagi (Masih) Muda

Setelah sekian lama akhirnya aku membuat blog pribadi (lagi).

Sebenarnya ini bukan blog pertamaku, entah sudah berapa banyak blog yang aku buat (re: cuma buat, nulis mah jarang) dan semua berakhir begitu saja karena kekhilafan duniawi (re: lupa password). Sangking seringnya lupa password membuatku malas untuk nulis di blog lagi, alhasil kalau mau nulis yah di ms.word atau sekedar coret-coretan di buku-yang bahkan gak bisa disebut sebagai buku-harian. Tapi, setelah didesak banyak pihak (re: dua orang) akhirnya aku memutuskan untuk buat blog lagi. Selain karena didesak teman, ada beberapa alasan sih yang membuatku ingin nulis blog lagi, alasan yang tentunya oportunis sekali hahaha (dasar gak mau rugi). Penasaran? nggak? yaudah gpp emang pingin ngasih tau aja.

1. Blog bisa jadi media berpendapat......



Di blogku yang pertama dan kedua pada jaman SMA (jaman jahiliyah yang sesungguhnya), aku menuliskan kejadian-kejadian sial. A la- a la terinspirasi dari blog Raditya Dika, saat itu aku berpikir bahwa kejadian lucu itu bisa dijual bahkan disaat kejadian itu justru mempermalukanmu. Tapi memang kesialanku belum sesial Raditya Dika dan cukup lucu untuk ditertawakan, alhasil aku mentok dan gak nulis lagi (aku nggak berharap sial setiap hari juga sih). Di blogku yang entah ke-tiga atau empat pada jaman kuliah (jaman galau jadi menu utama kehidupan), aku menuliskan hal-hal yang membuatku galau sambil sok ngasih semangat biar temanku nggak galau lagi. Kalo ingat sih iyuuh sendiri. 

Terus sekarang aku nge-blog buat nulis apa? apa yaa hahaha. Aku akan menulis apapun yang aku temui, yang menurutku menarik untuk ditulis. Sesimpel itu. Aku mau menjadikan blog ini sebagai tempat berpendapat, tapi tenang aku nggak akan ngasih kultum di sini, karena blog media curhat bukan media jihad. Banyak hal yang ingin aku sampaikan tapi terlalu malu untuk diungkapkan (tsaades), nah aku percaya blog bisa jadi tempat untuk berpendapat tanpa ada yang tersakiti (kalo nggak baca ya nggak akan tersakiti).

2. .....dan berpendapat-an


Entahlah, tapi fenomena yang ada saat ini memungkinkan siapapun dengan mudahnya mendapat penghasilan dari online. Mulai dari jualan online, media online, game online, prostitusi online, dan semua semua yang pake embel-embel online. Eits, kalo blog dari mana? bisa pasang AdSense. Tapi jangan tanya itu apa dan caranya gimana karena aku juga nggak tau hahahah. Yah pokoknya gitu lah, cek di link yang aku tautkan yah!

3. Bisa kenal banyak orang, baik online maupun offline. Lumayan siapa tau dapet gebetan.




Menjadi seorang blogger bisa membuatmu berkesempatan untuk kenal banyak orang, sesama blogger maksudnya. Tanpa pernah bertemu kamu bisa merasa dekat dengan seseorang, karena merasa dekat dengan apa yang ia tuliskan. Merasa apa yang kita (kita? gue aja kali) rasakan terwakilkan melalui apa yang orang lain rasakan. Nggak heran kenapa sesama blogger kalo dipertemukan bisa ngobrol panjang kaya orang yang udah kenal lama. yah, mereka bahkan sudah punya bahan obrolan dari apa yang mereka tuliskan, jadi kalo mau PDKT lebih gampang. Terlebih sekarang banyak event offline yang mempertemukan sesama blogger. Contohnya Piknik Blogger: The Blogger Meet up a la Hipwee (promosi acara sendiri). Jadi makin banyak kenalan deh.

4. Berkesempatan untuk diundang banyak kalangan misalnya brand atau perusahaan.


Beberapa minggu yang lalu, aku menggantikan rekan kerjaku (blogger) untuk memenuhi undangan arisan salah satu brand kosmetik lokal yang lagi naik daun (ulet kali ah). Nah aku dengan pedenya dateng-dateng aja, ternyata semua undangan adalah blogger. Yaps, karena brand tersebut butuh review produk kosmetiknya, nah blogger sebagai orang yang mampu menulis dan tulisannya layak dibaca banyak orang merupakan sasaran empuk dari brand-brand tersebut. Bukan hanya kosmetik, tetapi juga resto baru, cafe atau bahkan hotel yang membutuhkan review. Pelaku usaha berbondong-bondong mendekati blogger untuk dibuatkan tulisan tentang tempat atau produk baru mereka.
Blogger jelas nggak dirugikan, yaiyalah mereka diundang gratis, difasilitasi makanan, diberi produk, diberikan kenyamanan, setelah nyaman lalu ditinggalkan (lho). Blogger dengan senang hati menuliskan pengalamannya serta review yang mereka berikan. win-win sih jadi sama-sama untung.

5. Blog bisa membuatmu terkenal, terdengar muluk tapi ini layak dicoba, siapa tahu kamu berkesempatan buat jadi the next Evita Nuh atau Raditya Dika.


Ini adalah alasan yang paling muluk-muluk untuk jadi seorang blogger. Tapi gapapa namanya juga usaha hahaha. Sebenarnya jadi apapun, asal kamu punya karya yang bagus kamu bisa kok jadi terkenal, termasuk jadi blogger. Contohnya, Evita Nuh, fashion blogger nyentrik ini bahkan dikenal sejak dia masih kecil (sekarang juga masih kecil sih). Karena gaya berbusananya yang unik, nyentrik dan lain dari anak-anak seusianya, Evita Nuh bahkan jadi salah satu dari 5 Prempuan Muda Berpengaruh di Media versi kompas.com.
Lain Evita Nuh, lain Raditya Dika. By the way aku bukan fans dia, cuma pingin bahas dia aja karena semua orang tau blognya. Berawal dari blognya "Kambing Jantan", Radit jadi banyak dikenal orang, blognya pun dibukukan dan jadi National Best Seller. Yah bahkan dia masih exist sampai sekarang.
Jadi kamu masih punya kesempatan untuk terkenal lewat blog kan? Yah semoga aja. Rejeki orang kan beda-beda hahaha, kalo mereka bisa terkenal siapa tau kamu nggak, yah kan siapa tau.

Nah, itu tadi 5 alasan kenapa kita (kita? gue aja kali) harus nulis blog selagi muda. Kenapa selagi muda? karena kalo udah tua yah ngurus anak, ngurus suami, ngurus cucian kotor, ngurusin badan, ngurusin rumah tangga orang dan rumah tangga artis pujaan.

Sekian.


Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages