Minggu, 11 Februari 2018

Launching Inisago; Bisnis Kreatif di Jogja yang Akan Mengajakmu Menjadi Sociopreneur Muda


Haloo...

Lama juga ya kita nggak bersua di blog, sebenarnya banyak banget yang mau ditulis tapi berhubung ketunda agenda yang lain jadilah agak mandek nulis blognya. Semoga setelah ini jadi lebih rajin nulis ya.

Akhir-akhir ini aku lagi seneng banget dateng ke berbagai seminar atau pelatihan. Selain karena tuntutan kerjaan yang harus ngurusin event-event komunitas, bulan ini aku mulai masuk kuliah semester baru, jadi aku merasa perlu meng-upgrade diri biar otaknya nggak buntu. 

Kebetulan banget weekend ini Mbak Raisa, rekan kerja sekaligus sesama blogger, ngajakin untuk datang ke acara yang dipenuhi orang-orang kreatif yaitu Soft Opening Inisago. Awalnya aku mikir itu semacam co-working space atau toko elektronik apa gitu karena letaknya di Yap Square. Tapi ternyata aku salah dong walaupun perempuan aku juga bisa salah

Jadi, Inisago adalah tempat kreatif untuk pengembangan diri yang diperuntukan kepada para pelaku UKM, mompreneur, pelaku start-up dan pelajar dengan memberikan workshop dan training. Singkatnya tempat yang tepat buatmu yang mau belajar jadi entrepreneur dan juga sociopreneur. Kewl banget kan!

CEO Inisago
Acara Soft Opening Inisago kemarin dibuka dengan penjelasan tentang awal mula terbentuknya Inisago oleh koko Hans Hadi Surya, CEO Inisago yang ternyata masih muda banget, lho. 

Inisago hadir untuk menjawab kegelisahan anak muda terkait adanya gap antara kuliah dengan realitas di dunia kerja. Kamu yang masih fresh graduate pasti ngerasain banget kan kalau teori yang didapat di bangku kuliah ternyata sulit diaplikasikan ke kehidupan masyarakat? Nah, Inisago hadir sebagai jembatan untuk orang-orang yang lulus kuliah dengan segudang teori di kepala, biar pada prakteknya ilmu itu bisa diterapkan di kehidupan dan bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat. 

Nggak main-main, visi Inisago yaitu mencetak 1 juta sociopreneur yakni orang-orang yang memiliki visi membantu orang lain dengan keahlian yang mereka miliki, baik dengan mendirikan komunitas maupun mendirikan start up yang bergerak di bidang sosial. Koko Hans juga menambahkan kalau visi ini lahir dengan bahan bakar kasih dan mau berbagi; berbagi skill, pengalaman, dan berbagi semangat untuk melahirkan sociopreneur-sociopreneur di Indonesia.

Well, sebagai start-up, semangat Inisago ini perlu diacungin jempol dong ya.


Setelah mendengar penjelasan dari koko Hans, gantian Mbak Rosalina CMO Inisago, yang cerita soal Marketing Plan dari Inisago. Nantinya ada 3 jenis pelatihan yang akan diadakan oleh Inisago, yaitu; 
  • Workshop regular; pelatihan ini diperuntukan untuk seluruh elemen masyarakat, jadi usia berapapun dengan background apapun bisa banget buat ikutan ini.
  • Company product; sesuai namanya, pelatihan ini untuk perusahaan atau pelaku bisnis. Bentuknya bisa training untuk karyawan, outbound, atau leadership training.
  • School product; kalau ini jelas dong ya sasarannya adalah anak-anak sekolah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meminimalisir anak-anak sekolah yang salah jurusan saat kuliah. Yah namanya masa depan kan harus dipersiapkan sedini mungkin. Bentuk kegiatannya yaitu school camp dan roadshow school to school.
Terus yang ngisi pelatihannya siapa aja? Kompeten nggak di bidangnya?

Pertanyaan ini yang sempat juga ada di benakku waktu denger marketing plan dan visi misinya Inisago. Tapi keraguanku langsung terjawab, jadi yang akan ngisi trainingnya memang orang-orang yang expert di bidangnya. Jadi nggak perlu khawatir.

Sejauh ini Inisago udah punya 3 vendor kece yaitu Hope Training Center, Wkwk Project, dan Chic Picture.

HOPE Indonesia Training Center
Sesuai namanya Hope yaitu harapan, Hope Indonesia Training Center ini tujuannya untuk memberikan training ke segala elemen masyarakat, karena semua orang harus punya mimpi dan semua orang butuh training. Aku sudah banget sama tagline dari Hope yaitu "Training for everyone, start from now on".


Wkwk Project
Walaupun namanya Wkwk Project, tapi ini bukan sekadar projek haha-hihi lho ya. Jadi Wkwk Project ini juga nggak kalah keren, mereka biasa membuat berbagai jenis pelatihan untuk meningkatkan kreatifitas anak muda, misalnya craft, fotografi, atau membuat terrarium

Chic Picture
Berhubung namanya ada kata picture di belakangnya, jadi udah paham kan ini apaan? Yap, bener banget ini berkaitan dengan design dan fotografi. Chic Picture ini akan banyak ngasih pelatihan tentang fotografi, karena sekarang bisnis apapun kan butuh foto yang kece sebagai bahan promosi.

Selain 3 vendor itu, Inisago juga membuka kesempatan untuk pelaku bisnis apapun yang juga care terhadap anak-anak muda untuk ikutan ngasih pelatihan. Biar anak-anak muda mindsetnya bukan lagi employee-minded melainkan entrepreneur-minded atau sampai ke level sociopreneur-minded




Kalau mau ikut pelatihan dari Inisago gimana caranya?

Untukmu yang memang lagi cari tempat pengembangan diri, Inisago bisa jadi pilihan tepat. Kamu bisa daftar jadi membernya Inisago. Ada berbagai pilihan member yakni Silver, Gold, Platinum, dan Diamond. Tentunya dengan harga, poin, dan kelebihan yang berbeda-beda. Kalau kamu masih ragu buat langsung jadi member, kamu bisa deh ikutan workshop terdekatnya Inisago, itung-itung cek ombak kan yes. 

Workshop terdekatnya ada di tanggal 15, 16, dan 17 Februari 2018, yaitu Learn to Make Terrarium, Stencil Printing, dan Embroidery Workshop. Ikutan kuy!



Buatmu yang ingin tahu lebih lanjut soal Inisago, boleh banget buat mampir ke link di bawah ini ya!

Website : www.inisago.com
Instagram : @inisago.id
Facebook : inisago


Minggu, 03 Desember 2017

Kenalan dengan Ozora, Skincare Lokal Berkualitas Internasional


Kalo kamu sempet baca blogku beberapa bulan lalu, pasti tau deh kalo sepulang dari Korea aku jadi suka banget sama yang namanya Kim Soo Hyun skincareNah, pas lagi seneng-senengnya sama skincare, dua Minggu lalu aku dan teman-teman Jogja Bloggirls diundang ke acara Grand Launching Ozora Skincare di Kunena Eatery. Ozora Skincare adalah skincare lokal yang berasal dari Jogja, lho. Walaupun skincare lokal, kualitasnya sudah internesyenel. Nggak lebay kok, karena sebelum dipasarkan di Jogja, produk ini sudah lebih dulu terkenal di Thailand dan Kamboja. Selain itu, bahan dasar produk ini 90% impor dari Italia dan diracik oleh ahlinya. Tentunya berbahan alami tanpa alcohol, hydroquinone dan mercury. Jadi nggak perlu khawatir soal kualitasnya deh.

Kenalan dengan beauty influencer dan teman-teman Jogja Bloggirls
Acara Grand Launching yang bertajuk Ozora Beauty by Nature Soiree ini dibuka oleh Mbak Putri owner dari Ozora Skincare. Sempet amazed juga karena Mbak Putri terlihat masih muda banget, entah memang masih muda atau terlihat awet muda karena terbiasa pake Ozora, hmm bisa jadi hahaha. 

Perkenalan singkat Ozora Skincare dari Mbak Putri
Setelah mendengarkan sambutan sekaligus cerita singkat soal sejarah Ozora Skincare dari empunya, kami diajak belajar make up natural bareng Mas Garing. Walaupun namanya Garing tapi masnya nggak garing kok, sesi ini justru seru banget. Sebelum demo make up, Mas Garing menjelaskan cara apply Ozora Skincare yang bisa jadi base make up. Produk Ozora Skin Freshener bisa juga jadi setting spray biar make up tahan lama.
Make up natural by Mas Garing
Selain acara yang seru dan syarat manfaat, kami juga disuguhkan makanan yang ena-ena dari Kunena Eatery dan dapat paket produk Ozora Brightening Series. Seneng banget karena bisa nyobain langsung produk-produk Ozora Skincare.


Selama dua minggu ini aku rutin pake Ozora Foaming Gel, kebetulan pas facial wash-ku lagi abis (jujur banget yak hahaha). Sejauh ini Aku suka banget karena nggak bikin breakout  dan berasa lebih bersih sampai ke pori-pori kulit. Produk Ozora Skin Freshener baru beberapa kali aku pakai dan aku juga suka, cocok banget kalo pas seharian di bawah AC jadi bisa menghidarasi kulit gitu. Untuk Day Cream dan Night Cream belum aku cobain sih karena pas banget baru nyobain krim produk yang lain. Tapi melihat peforma *halah kedua produk Ozora, aku jadi yakin Day & Night Cream Ozora ini juga nggak kalah keren. Can't wait to try these products, later.



Sebelum acara berakhir, aku dan temen-temen Jogja Bloggirls jelas nggak akan melewatkan sesi foto-foto bareng Tim Ozora Skincare. Btw, ini pertama kalinya aku dateng ke event bareng Jogja Bloggirls, seneng banget akhirnya bisa berkesempatan kenalan dan sharing dengan temen-temen blogger berkat acara ini. Thank you so much, Ozora!

Buat kamu yang mau ngepoin Ozora Skincare bisa mampir ke link di bawah ini yes!
www.ozoraskincare.com atau Instagram @ozoraskincare




Sabtu, 02 Desember 2017

Demi Kewarasan, Meminimalisir Stress Lewat Belajar Time Management #JejakarirHarda



Semenjak memilih untuk kuliah sambil kerja atau lebih cocok disebut kerja sambil kuliah, aku mulai kelabakan dalam hal membagi waktu. Beberapa orang mungkin menganggapku santai-santai saja, toh aku masih bisa main kemana-mana, jadwal karaoke mingguan juga tak pernah aku lewatkan. Ajakan makan malam atau sekedar ngobrol di tempat ngopi pun tetap aku ladeni. Dimana letak stressnya?

Bagi yang melihat dari luar (apalagi liatnya dari media sosial) mungkin akan beranggapan demikian, tapi percayalah aku-yang selalu terlihat happy ini- sempat merasa stress luar biasa. Terlebih aku harus memangkas waktu istrihatku, jadi hanya 3-4 jam per hari. Orang-orang dengan santainya akan bilang “udah tau capek masih aja mau diajak main, bukannya istirahat”.

Menurutku, ada bagian yang nggak boleh diabaikan dalam hidup, yakni social life. Untukku yang extrovert ini, berdiam diri justru membuat kehabisan energi, yang ada malah jadi males-malesan di kosan dan nyesel sendiri. Bertemu orang adalah hal yang sangat membahagiakan, apalagi orang-orang itu benar-benar satu frekuensi, mulai dari obrolan sampe gaya becandaan. Jadi, bagian “menerima ajakan main” adalah hal yang nggak bisa aku hindari.

Kalo udah begini aku kudu piye

Berhubung aku anaknya ‘Google’ banget (oposih) jadi aku sempet googling “How to Manage time” dan muncul beberapa artikel. Artikel yang paling aku suka dan bisa aku terima adalah “7 Tips for Effective TimeManagement”dan artikel “How to Manage Your Time Effectively”. Aku tautkan linkya biar kalau kamu mumet baca tulisan di blog ini, bisa langsung baca tips dari artikel aslinya. Nggak semua tips dari 2 artikel ini aku telan mentah-mentah, aku memilih beberapa yang paling relate dengan kondisiku sekarang. Tips dari 2 artikel ini aku coba rangkum dan mulai aku coba praktekan, hope these really work!

1. Know your goals-- kenali diri sendiri deh, karena goals kita dan orang lain jelas berbeda

Well, kalo ditanya cita-citaku apa, percayalah aku hanya ingin jadi ibu rumah tangga. Kalau kamu baca #JejakarirHarda yang pertama kamu pasti tau jawabannya. Aku sama sekali bukan prempuan yang ingin jadi wanita karir. Tapi, berhubung saat ini aku belum menikah jadi aku memang terlihat sangat mengejar karir #inibukanpembelaan. Mumpung masih muda dan belum ada tanggungan jadi aku coba semuanya, but trust me, I’ll stop when I get married. At least ketika nanti aku menikah aku nggak akan seambisius ini.
So, kalo ditanya goal-ku saat ini adalah aku ingin belajar banyak hal sebelum aku benar-benar undur diri dari dunia persilatan (re: perkerjaan). Kelak, aku ingin jadi mom blogger atau penulis atau bisnis yang punya waktu fleksibel untuk urus anak dan suami tapi tetap punya penghasilan. Berharap yang baca ini turut mengamini.

Intinya, kalau kamu tau goal-mu apa, kamu jadi tau akan melangkah kemana dan bagaimana mencapainya. Kemungkinan untuk buang-buang waktu bisa diminimalisir.

2. Create To Do List-- tentukan yang mana yang seharusnya diprioritaskan

Seseorang pernah berkata padaku “Hidup itu dibagi atas tiga hal; kerja/kuliah, kehidupan sosial, dan istirahat”. Ketiganya jelas nggak boleh dilewatkan begitu saja, dan agar ketiganya jadi balance kita perlu buat skala prioritas. Demi hidup yang lebih waras, sekarang aku mulai buat to do list dengan skala prioritas; Important and urgent, Important but not urgent, urgent but not important, dan not urgent and not important. Dari situ aku jadi tau mana yang harus aku dahulukan, mana yang bisa aku kerjakan nanti, dan mana yang mending aku skip. So far, it helps me a lot.

3. Share Task or Problems with others-- itulah pentingnya punya teman

Menurutku ada 3 tipe teman dalam hidup; Pertama, teman yang asik banget buat diajak main tapi susah buat diajak produktif. Kedua, teman yang membuat produktif tapi nggak bisa diajak main atau sekedar ngobrol santai. Ketiga, teman yang enak diajak diskusi, bikin produktif, dan bisa diajak main/ becandaannya asik. Di usia ini, aku mulai berusaha selektif dalam hal pertemanan. Bukan membatasi pergaulan, tapi memilih dengan siapa sebaiknya aku lebih banyak menghabiskan waktu. Aku prefer teman dengan tipe ketiga. Mereka jelas bisa meningkatkan waktu produktifku, karena aku nggak perlu buang waktu mikir ke-stress-an sendirian. Hal terpenting, mereka bisa mengajakku lebih semangat dan terhibur at the same time.

Nah kalau kamu sudah menemukan tipe temen seperti itu juga, kamu harus mulai coba membagi beban atau paling nggak cerita kalo kamu mulai stress.

4. Avoid Procrastination-- semakin banyak menunda pekerjaan, akan semakin banyak yang disesalkan

Kenali apa hal yang paling bikin kamu nunda pekerjaanmu atau yang paling bikin kamu nggak produktif. Kalo udah tahu, baru deh pelan-pelan dihindari, emang nggak akan bisa langsung ekstrem menghindar gitu aja, tapi bisa mulai sedikit-sedikit buat latihan.
Kalau aku, hal yang paling membuatku menunda pekerjaan adalah INSTAGRAM wkwkwk. Serius deh, sekali liat instastory orang, aku pasti nggak bisa berhenti, belum lagi kalo ada yang postingannya aneh-aneh, bawaanya pingin julid, screenshot terus kirim ke temen seperjulidan. Ampuni hamba ya Allah. Sungguh betapa banyak dosa yang kuperbuat pekerjaanku yang tertunda karena Instastory. Jadi aku sebisa mungkin kalau lagi ngerjain tugas menghindari HP, wabilkhusus menghindari Instagram. Semoga aku bisa istiqomah ya :"

5. Just say no-- Ini sesungguhnya bagian tersulit, but I have to

Sebagai orang yang Jawa banget (walaupun besar di Sumatera), aku orangnya sangat nggak enakan, Dikit-dikit “nggih”, dimintain tolong "nggih", ada yang ngajak main “nggih” ada yang ngajak nikah “nggih”, loh?. Well, seperti yang aku bilang di awal, aku jarang nolak ajakan main biar social life ku balance. Tapi aku sadar, memang nggak semua ajakan perlu aku iyakan. Relate sama poin terkait skala prioritas, aku juga harus buat skala prioritas dalam hal ‘menerima ajakan’. Kalau ada ajakan main saat besok libur atau besok nggak ada tugas kuliah yang harus dikumpul, biasanya aku iyakan. Tapi kalo ada tugas-sesimpel apapun tugasnya-aku akan tetap bilang ‘no’. Atau kalaupun aku iyakan, aku akan memilih pulang lebih dulu. Aku harus punya kontrol atas diriku, dan waktu yang aku habiskan. 

Dari 5 poin di atas aku ingin bilang ‘terima kasih Google’ karena telah memberikanku pencerahan. Sebenarnya belum semuanya efektif, yah masih pelan-pelan, namanya juga belajar. Tapi aku memilih untuk menulisnya di blog biar jadi self reminder. Karena aku cenderung suka lupa apa yang aku baca, tapi aku akan ingat terus apa yang aku tuliskan. Semoga tulisan ‘agak’ berfaedah untukku ini bermanfaat juga buatmu ya.


Btw, aku masih nggak tau cara bagi waktu antara kuliah-kerja-social life-istirahat dan cari jodoh hahaha, ada yang punya ide?


Minggu, 15 Oktober 2017

Ngapain sih Lanjut Kuliah S2? #JejakarirHarda

Ngapain sih lanjut S2?
Ini adalah pertanyaan yang begitu banyak dilontarkan orang-orang di sekitarku. Bukan tanpa alasan, mereka yang bertanya sangat tahu bagaimana aku mencintai pekerjaanku saat ini (oke ini lebay). Mereka paham betul aku bukan orang yang betah berlama-lama membaca buku dan duduk diam mendengarkan pelajaran di dalam kelas. Aku lebih suka menghabiskan waktu membaca komik Grey&Jingga karya Sweta Kartika atau berselancar ke blog-blog orang yang kadang hasil fotonya lebih membuatku amaze ketimbang kata-kata di dalamnya.  Saat kuliah S1, aku lebih suka ikut organisasi, membuat event, dan sesekali (oke 4 kali) ikutan demo di titik 0 km Yogyakarta ketimbang duduk-diam-mencatat-ketiduran-di kelas.

Setelah membaca paragraf di atas mungkin kamu juga akan berpikir "Lah, kalau gitu ngapain lanjut kuliah lagi, sih?"

Semua bermula di sini

via Pexels

Saat mendapat selempang Tira Hardaning, S.P (yang aku pesan sendiri) selepas sidang pendadaran bulan September, 2015 silam, aku berpikir panjang "aku ini sebenarnya mau jadi apa, 
sih?". Bunga-bunga dan teh pelangsing yang kudapat sebagai hadiah kelulusanpun rasanya tak ada artinya saat aku mulai berpikir serius akan melangkah kemana. Kalau aku berdiskusi dengan orang tua, sudah pasti lanjut S2 adalah jawabannya. Tapi aku bukan orang yang se-manut-itu untuk langsung meng-iyakan saran orang tua. Aku tetap butuh jawabanku sendiri, agar aku dengan yakin berkata "oke, aku akan kuliah lagi" seyakin saat aku berkata "oke, aku siap dinikahi Dion Wiyoko".

Seminggu setelah pendadaran, aku mendapat pesan singkat yang mengatakan aku diterima magang di Hipwee, aku bahkan lupa kalau pernah mendaftar. Herannya, aku merasa benar-benar berjodoh dengan Hipwee, karena ternyata kantornya terletak hanya selang dua rumah dari kos-kosanku saat itu (iya, kantornya memang seperti kosan jadi siapa sangka kalau bangunan itu kantor media online). Terlebih di sana aku dipertemukan dengan teman lama, jadi bukan hal sulit bagiku untuk bisa berbaur dengan orang-orang di dalamnya. 

Waktu magang di Hipwee 2 bulan aku gunakan untuk menunggu waktu wisuda, agar hari-hariku tak begitu sia-sia. Selama magang aku belajar banyak hal baru tentang kepenulisan, komunitas dan sosial media. Ditambah aku senang mengamati mas-mas ganteng orang-orang yang sangat passionate dengan pekerjaannya.

Selesai magang, aku wisuda, aku pulang ke rumah dan ibuku mengajakku jalan-jalan ke Tana Toraja sebagai hadiah aku lulus kuliah tepat waktu. Aku menduga ini adalah bagian dari rencana pembujukan agar aku mau lanjut S2. Jadi, aku memberanikan diri untuk bilang "Tira kerja aja ya sambil bisnis travel, sambil mikirin alasan kenapa harus S2. Tira akan S2 kalau kalau udah benar-benar yakin, biar kalau Tira gagal Tira nggak akan menyalahkan siapa-siapa, karena keputusan ini Tira yang buat sendiri".  Yah kira-kira begitu intisari dialognya, tapi kata-katanya nggak sedramatis itu sih.

Singkat cerita, akupun diizinkan bekerja di Jogja, biar tetap mempersiapkan S2

via Pexels

Setahun aku bekerja aku merasa ada di zona yang sangat nyaman, kantor deket kosan, temen kerja seumuran, tiap weekend karaokean, ambil cuti jalan-jalan, bebas bangun kesiangan. Sampai akhirnya aku sadar bahwa nggak ada lagi hal dalam hidupku yang aku perjuangkan. Tepatnya aku mulai mengalami demotivasi. Semua orang pasti pernah merasakan ini. Hari demi hari aku lalui dengan penuh kemalasan, isi kepalaku rasanya sudah habis -aku mulai merasa bodoh bin ngah-ngoh, aku hanya menjalani pekerjaan atas dasar pengalaman, bukan atas dasar keilmuan.

Aku pikir ini karena pekerjaanku yang membosankan, atau bisa jadi Jogja yang tak lagi semenarik dulu, atau mungkin aku butuh pacar seperti Dion Wiyoko. Atau ini pasti salah Jokowi, aku jomblo salah Jokowi, kerjaanku nggak asyique pokoknya salah Jokowi! Aku mulai mencari objek-objek tak penting untuk disalahkan. Aku kemudian sadar ini bukan soal aku bekerja di mana dan presidennya siapa, yaiyalah, karena setiap orang yang bekerja pasti pernah mengalami demotivasi, di manapun tempatnya. Menyalahkan tempat bekerja atas kegalauan-kegalauanku rasanya egois sekali. Satu-satunya yang perlu introspeksi atas hidupku adalah aku sendiri.
yang aku butuhkan adalah menambah ilmu baru biar kepalaku nggak buntu.

Baiklah, kali ini aku memang butuh lanjut kuliah


Aku mulai menyadari bahwa, dalam hidup kita akan selalu dituntut untuk belajar, belajar dari orang sekitar, belajar dari pengalaman, belajar dari buku atau belajar dari para expert. Saat aku mulai berhenti belajar maka saat itulah aku berhenti punya motivasi untuk hidup. Aku butuh belajar hal baru yang bisa membuat rasa ingintahuku meningkat dan membuatku lebih semangat.

Aku butuh tahu apakah yang aku kerjakan benar atau salah, bukan hanya atas dasar "kira-kira" dari pengalaman tetapi juga dari keilmuan. Aku butuh punya alasan untuk bangun lebih pagi dan membuka laptop untuk mengerjakan tugas. Aku butuh alasan untuk tidur lebih malam dan membaca literatur. Aku butuh alasan untuk menolak setiap ajakan main-yang-kadang-tak-penting dan memilih untuk menyelesaikan pekerjaan. Aku butuh lebih produktif, agar aku merasa diriku cukup berguna paling tidak untuk diriku sendiri. 

Aku butuh terus belajar agar kelak saat aku menikah dan menjadi ibu, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari buah hatiku dengan jawaban yang cerdas. Belajar memang bisa dimana saja tak melulu harus dengan lanjut kuliah, tapi aku merasa dulu saat kuliah S1 aku tidak memanfaatkan waktu untuk belajar dengan optimal, jadi aku ingin membayarnya sekarang. 

Kegalauan berbulan-bulan itu aku akhiri dengan menelpon orang tua untuk bilang "Tira mau lanjut S2, kali ini bukan karena diminta Bapak-Ibu, tapi karena yakin ini yang Tira butuhkan"
(Lagi-lagi dialog aslinya nggak sedramatis ini ya).


Baca Juga : Rasanya Kerja di Media, yang Isinya Anak Muda Semua

Kamis, 21 September 2017

Purbasari Zaitun Series; Solusi Untuk Kulit Kusam, Kering dan 'Keling' Selepas Traveling



Salah satu yang kadang bikin males traveling adalah after effect-nya ke kulit, kulitku jadi kering dan tampak 'keling'. Sebagai cewek aku kadang ngerasa risih juga kalau pulang jalan-jalan dan orang dengan spontan bilang "kok iteman?" atau yang lebih ekstrem "kok kusam banget sih? jadi kering gitu". Duh, sama kayak kalau kita nggak nikah-nikah yang ribut tetangga, kalau kulit kita kusam dan menghitam juga yang ribut orang-orang. Dulu sih aku cenderung nggak peduli, yang penting happy, tapi memasuki usia yang ehem 24 tahun, masalah kulit jadi salah satu yang mulai aku perhatikan. Karena paparan sinar matahari nggak hanya bikin kulit hitam, tapi lama kelamaan bisa bikin kulit keriput kalau tanpa perlindungan sama sekali.

Sepulang dari Korea beberapa bulan lalu, aku jadi tertarik untuk mencoba beberapa produk skincare biar kulitku nggak terlalu kusam. Tapi baru sebatas untuk perawatan wajah, karena kalo buat tubuh juga skincare Korea mahal cyin, aku mah apa. Mengingat kulit yang jadi kering dan kusam bukan hanya area wajah, jadi aku harus mulai memilah-milah produk untuk perawatan kulit tubuh. Pinginnya sih produk lokal dan harganya terjangkau tapi tetap berkualitas dan praktis dibawa kemana-mana, emang banyak maunya ya. 

Nah, baru-baru ini Purbasari launching serangkaian produk Purbasari Zaitun Series, dan aku jadi salah satu yang beruntung untuk nyobain produknya, wah pas banget. Produknya terdiri dari hand & body lotion zaitun, lulur mandi zaitun dan sabun zaitun. Well, setelah aku nyobain produknya, ini beberapa pengalaman yang bisa aku share, yuk disimak!

Lulur mandinya mampu mengangkat kotoran dan sel kulit mati, bikin kulit terasa halus dan tampak lebih cerah


Sebelum terkenal dengan lip matte nya, Purbasari memang lebih dulu dikenal karena produk lulur mandinya, jadi aku yakin kalau produk lulur mandi zaitun ini nggak akan mengecewakan. Benar saja, bulir halus dari lulur ini mampu mengangkat kotoran dan sel-sel kulit mati. Berbeda dari produk lulur kebanyakan, lulur ini justru nggak mengeluarkan daki yang terkesan terlalu banyak, karena yang terangkat itu benar-benar daki asli bukan sekedar tepung daki buatan. Dan senangnya, karena namanya lulur mandi jadi produk ini bisa dipakai tiap hari saat mandi dan hasilnya bisa terlihat lebih cepat. Aku pakai lulur mandi ini saat mandi sore, dan paginya aku pakai sabun zaitunnya.

Kebetulan, hari Minggu kemarin ibuku datang ke Jogja dan tentu saja ngajakin jalan-jalan. Perjalanan hari itu diakhiri ke Candi Ratu Boko. Sepulang dari jalan-jalan ke Candi-yang pastinya panas itu- aku langsung nyobain lulur mandi Purbasari zaitun. Hasilnya kerasa banget ngangkat kotoran di kulit tubuhku yang seharian terkena debu dan keringetan. Terlebih bikin kulitku lembab dan wanginya menenangkan. Karena produk ini mengandung minyak zaitun dan ektra squalane jadi bisa menyelamatkanku dari kulit kering.

Walaupun baru beberapa kali pakai produk ini, tapi menurutku lulur mandi Purbasari zaitun worth it banget dan bisa jadi solusi untuk aktivitas seharian seperti traveling. Tapi, karena kemasan produk ini berbentuk jar yang lumayan besar (235 gram dan 135 gram) dengan wadah yang cenderung ringkih, terlebih kalau tertimpa atau terjatuh, jadi menurutku produk ini nggak cocok kalau dibawa untuk perjalanan jauh, terutama kalau ke luar negeri. Kalau masuk cabin pesawat jelas nggak bisa karena berat maximal 100 gram, kalau ditaruh di bagasi takut malah pecah karena koper mungkin dibanting atau tertimpa barang lain. Jadi, produk ini cocoknya dipakai pasca traveling saat sudah pulang, sebagai produk yang membantu pemulihan kulit.

Harga produk
Lulur mandi Purbasari zaitun 235 gram : Rp. 18.000,-
Lulur mandi Purbasari zaitun 135 gram : Rp. 10.000,-

Sabun Purbasari Zaitun memiliki aroma yang nggak menyengat, dan surprisingly bisa mengangkat daki-daki ketika kulit digosok perlahan setelah sabun dibilas



Sejujurnya, awal aku lihat produk ini, aku nggak terlalu tertarik karena aku memang bukan penggemar sabun batang #TimSabunCair. Pas aku coba produk ini pun masih biasa saja karena wanginya yang nggak terlalu kentara, cenderung nggak wangi bahkan. Tapi setelah sabunan aku diamkan selama 2 menit, kemudian aku saat aku bilas dan kulitku aku gosok perlahan, surprisingly daki-dakiku banyak yang terangkat, kotoran di kulitku berasa keluar semua. Jadi selesai mandi aku beneran ngerasa bersih. Aku jarang-jarang suka sama sabun batang, tapi untuk yang satu ini aku akui bikin aku lumayan amaze.

Klaim produk ini adalah whitening and moisturizing. Kalau efek whitening-nya belum kerasa sih karena aku baru pakai beberapa kali, justru aneh kalau efeknya terlalu cepat. Tapi, untuk efek moisturizing-nya lumayan kerasa. Berbeda dari sabun-sabun batang kebanyakan yang bikin kulit terlalu 'keset' dan cenderung bikin kulitku kering, sabun Purbasari zaitun ini justru bikin kulit terasa kenyel dan lembab.

Menurutku produk ini cocok juga kalau dibawa saat traveling, karena di dalam kotaknya ada plastik pembungkus lagi, jadi bisa melindungi sabun di dalamnya. Dan karena bukan cairan melainkan sabun batang, produk ini bisa ditaruh di cabin pesawat saat perjalanan jauh tanpa perlu mengkhawatirkan berat yang lebih dari ketentuan.

Harga produk
Sabun Purbasari zaitun : Rp. 5.000,-

Hand & Body Lotion Purbasari Zaitun memiliki kemasan yang travel friendly, dan bermanfaat untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan


Seminimal-minimalnya pakai produk perawatan tubuh, tetap yang namanya hand & body lotion nggak boleh ketinggalan. Saat pertama kali nyobain hand & body lotion Purbasari zaitun ini, yang paling aku suka adalah aromanya yang pas, nggak berlebihan, dan menenangkan, kebetulan memang aku suka aroma minyak zaitun sih. Pas aku apply ke kulitku, lumayan cepat meresap dan nggak bikin lengket. Setelah aku pakai seharian, aroma lotion ini nggak hilang lho, wanginya tahan lama di kulitku dan kelembaban kulitku pun terjaga.

Hand & body lotion Purbasari Zaitun ini mengandung  minyak zaitun, vitamin E dan tabir surya yang mampu melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Jadi nggak akan khawatir kulit bakal jadi 'keling' saat traveling. Produk ini beneran bikin kulit lembab jadi cocok banget untuk aktivitas luar ataupun yang terkena AC seharian, karena nggak akan bikin kulit jadi kering.

Hal yang bikin aku tambah senang adalah produk ini tersedia 2 kemasan, yang berukuran 220 ml dan 100 ml. Untuk persedian di rumah, ukuran besar cocok banget karena bakal awet dan jatohnya lebih murah. Tapi kalau untuk traveling, ukuran yang 100 ml pas banget, beneran travel friendly. Produk ini juga aman dibawa kemana-mana karena flip top-nya kenceng jadi nggak gampang tumpah.

Harga produk
Hand & Body Lotion Purbasari Zaitun 220 ml : Rp. 15.000,-
Hand & Body Lotion Purbasari Zaitun 100 ml : Rp. 10.000,-

Jadi, Purbasari Zaitun Series untuk perawatan kulit saat traveling, yay or nay?



Hand & body lotion zaitun ukuran 100 ml dan sabun mandi zaitun cocok untuk dibawa saat traveling, jadi selama jalan-jalan kulitmu akan mendapatkan perlindungan. Untuk lulur mandi zaitun bisa dipakai setelah pulang traveling, untuk menyempurnakan perawatan kulit. So, nggak ada lagi alasan males traveling karena takut kulit kering, kusam dan keling. Semoga setelah rutin pakai serangkaian produk ini, nggak ada lagi yang bilang "kok iteman, kok jadi kusam, kok keling, kok kulitnya kering?" hahaha.

Bonusnya, dengan Purbasari Zaitun Series kamu bisa merawat kulit tubuh dengan total budget yang nggak sampe Rp. 50.000, bener-bener terjangkau kan? Kamu bisa beli serangkaian produk ini di Carrefour, Ramayana, Superindo, Giant, Lotte Supermarket, atau bisa juga dibeli secara online di Lazada, Shopee, Blibli, Elevenia, Tokopedia, dan masih banyak lagi. Info lengkapnya bisa cek di www.purbasari.com atau Instagram @purbasari_indonesia yaaaa!

Selamat mencoba :)




Baca Juga: Tips Berburu Skincare di Korea

Baca Juga: Wanita Paruh Baya Penjelajah Dunia, yang Kupanggil Bunda

Baca Juga: Berburu Tas Ransel Unik Harga Bersahabat di Yogyakarta

Baca Juga: Pelajaran Berharga Saat Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Negeri Orang



Minggu, 20 Agustus 2017

Pelajaran Berharga Saat Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Negeri Orang [Throwback 2013]



27 Oktober, 2012 adalah hari di mana paspor pertamaku jadi, senangnya luar biasa, aku merasa teramat gaul kala itu. Ingin rasanya aku jadi cover model tabloid Gaul. Yah walau fotonya kucel ditambah pipi tembem banget dan mata sayu, tapi nggak masalah yang penting punya deh. Selang sebulan aku mulai merencanakan liburan bersama kakak dan teman kakakku. Tiket promo Jogja-KL, KL-Palembang untuk Januari 2013 sudah ada di genggaman (500 RIBU PP). Saatnya membuat itinerary perjalanan.

Sebagai traveler pemula (sekarang juga masih pemula sih) atau lebih pantas disebut turis ala-ala, menyiapkan perjalanan dengan matang itu perlu banget. Mulai dari browsing tempat apa saja yang ingin dikunjungi, buat perkiraan budget, booking penginapan, mempelajari rute serta transportasi apa saja yang bisa digunakan hukumnya wajib ain. Bahkan udah persiapan matang pun kadang tetap saja nggak  terhindar dari kesalahan-kesalahan kecil. Lebih tepatnya bukan kesalahan sih tapi pembelajaran. Ini beberapa kesalahan pelajaran yang aku dapatkan di perjalanan cap paspor pertamaku di Malaysia.

Ketipu supir Taxi di Kuala Lumpur tengah malam, kejadian pertama saat tiba di tanah Malaysia

20 Januari 2013, Pkl.22:00 waktu Kuala Lumpur, kami naik bus dari bandara ke penginapan, perjalanan sekitar 1,5 jam. Sebelum naik bus kami sudah bilang ke supir untuk diturunkan di hotel Xx (aku lupa namanya, maaf ya). Saat supir bilang sudah sampai, kami dengan ngantuk-ngantuknya langsung turun gitu aja. Saat turun malah bingung sendiri karena hotelnya nggak keliatan, maklum itu memang hotel kecil. Karena bingung dan sudah tengah malam, kami memilih bertanya pada supir taxi, lebih tepatnya nggak ada pilihan lain. Supir-supir taxi menyambut kami dengan suka cita, ada yang menjawab masih jauh dan menawarkan mengantarkan kami, dengan tariff mahal tentunya. Setelah berkali-kali nawar, akhirnya ada taxi yang memberi harga 15 ringgit atau sekitar 50ribu rupiah.

Selama perjalanan sang supir mengalihkan perhatian kami dengan asik ngajak ngobrol. Tapi kami sadar kalau kami hanya diajak mengitari tempat yang sama, kemudian diturunkan di hotel Xx yang ternyata ada di belakang bangunan tinggi tempat kami turun sebelumnya. Sang supir taxi yang keturunan India menampakkan wajahnya yang sedang menahan tawa, sambil meminta bayaran 15 ringgit. Padahal kami harusnya tinggal nyebrang doang.
Lesson learned: Sebelum turun dari bus pastikan tanya sejelas-jelasnya ke supir busnya, jangan asal turun dan tanya ke supir taxi. Tapi kalau sekarang udah nggak susah sih karena ada GPS.

Jalan-jalan bukan sekedar gaya-gayaan, jadi nggak perlu dandan berlebihan yang penting nyaman!



Saat itu Blackberry Messenger sedang pada masa kejayaannya, bisa gonta-ganti DP BBM dengan foto yang epic nan syantieq jadi kebiasaan banyak orang, termasuk aku. Mulailah memilah-milah outfit lucu buat jalan hari pertama, pilihanku jatuh pada konsep monokrom yang anggun (suka-suka elu deh Har). Pakai rok (pinjem punya Mba Kiki), pakai pashmina motif Zebra lengkap dengan ciput ninja, kaos hitam ditambah ornamen kalung vintage, dan hand bag (lagi-lagi punya mba kiki). Bukan kayak mau traveling, aku malah lebih cocok untuk datang ke acara arisan. Kebayang nggak sih gerahnya kaya apa? Cantik nggak ribet iya.

Saat itu kami ke Batu Caves yang punya ratusan anak tangga, pakai rok yang agak sempit itu kebayang nggak sih ribetnya ngelangkah gimana? Mana tangan berat sebelah pakai tas begitu. Super nggak praktis, dan di hari pertama aku jadi ngerasa capek banget, karena ribet dan nggak nyaman.

Besoknya aku memilih pakai outfit yang biasa aja, pakai kaos, celana jeans, jilbab paris, sepatu crocs, dan tas ransel kecil. Aku benar-benar merasa jadi diri sendiri saat itu, aku nggak peduli hasil fotonya bagus atau nggak, yang penting nyaman dan menyenangkan.

NB: ini bukan berarti aku menentang pakaian syari’i atau pakai rok saat traveling ya, tapi ini soal niat dan kenyamanannya. Kalau niatmu jalan-jalan pakai rok dan jilbab syari’i semata-mata karena Allah dan kamu nyaman mengenakannya, ya itu jauh lebih bagus, asal niatnya jangan kayak aku dulu aja :(
Lesson learned: Traveling itu pemuas jiwa bukan pemuas feeds di sosial media, jadi dibawa enjoy aja. Pilih outfit yang paling membuatmu nyaman bukan sekedar buat gaya-gayaan di timeline. Kecuali kalau kamu selebgram ya, itu lain cerita.

Terpisah dari Mba Kiki dan Mba Nobi di KRL. Saat aku masuk pintu KRL tertutup, mereka panik, aku panik, koko-koko sebelahku ikutan panik. Lah?

Naik KRL pada jam pulang kerja tentu sedang padat-padatnya. Aku dituntut untuk gerak cepat dan siap berdesak-desakan. Saat itu di tengah keramaian dan keganasan orang yang berebut naik KRL, aku akhirnya bisa naik. Sayangnya saat aku balik badan ternyata pintuk KRL langsung tertutup padahal Mba Kiki dan Mba Nobi belum masuk. Sontak mereka kaget, aku pun ikutan kaget, tapi lebih kaget saat aku tengok ke sebelahku ternyata koko-koko ‘kwetiau’ sebelahku ikutan kaget-melihat-kekagetan-kami.

Karena terpisah dan aku nggak punya nomor di sana, sepanjang jalan aku langsung mempelajari rute KRL. Kami masih harus transit 2x. Turun di transit station yang pertama, aku memilih berdiri menunggu mereka. Untungnya nggak lama mereka keluar juga, dengan heboh tentunya.
Lesson learned: Jangan mengandalkan satu orang, setiap orang harus paham rute dan tahu tujuan, karena kamu nggak pernah tahu kapan akan terpisah dari rombongan. Jadi kamu juga nggak perlu panik kalau nyasar di negeri orang, kalau cuma kaget aja boleh sih hahaha. 

Nyasar, kemudian debat panjang, justru membawa kami ke tempat yang aku inginkan.

Bangunan Sultan Abdul Samad-Dataran Merdeka

Saat di pesawat aku melihat-lihat majalah Air Asia, mataku tertuju pada gambar bangunan kerajaan di salah satu halamannya. Di sana tertulis terletak di Kuala Lumpur. Sontak aku memberitahu Mba Kiki, aku ingin ke sana. Tapi dia bilang dia nggak tau itu di mana, nggak ada di itinerary, hmm baiklah. 2013 nyari info di internet nggak segampang sekarang, jadi aku memilih mengurungkan niat.

Hari ke-3 perjalanan kami di KL, kami ingin shalat di Masjid Jamek tapi kami malah salah turun di 1 station sebelumnya, dan kami menyadarinya setelah keluar dari station. Alhasil kami harus jalan kaki agak jauh menuju masjid Jamek. Dengan ke-sotoy-anku, kami bukannya mendekati masjid justru semakin jauh. Sempat berdebat juga kala itu, sampai kami menyadari bahwa kami sampai di depan bangunan ini, bangunan yang ada di gambar yang kulihat di pesawat. Aku senang luar biasa, siapa sangka tempat yang aku ingin banget tapi nggak ada di itinerary justru jadi destinasi kami.
Lesson learned: Terkadang kita memang perlu nyasar untuk mendapat pengalaman yang lebih berkesan, asal abis itu tahu jalan pulang.

Dimarahin kakek-kakek keturunan Tionghoa penjual pisau saat mencari penginapan di Malaka

Saat itu kami  mencari penginapan bernama guest house xx (aku lupa namanya) di Malaka. Review di Agoda bagus makanya kami ingin menginap di sana. Namun di Agoda informasi lokasinya hanya dijelaskan berada di dekat sungai. Lah ternyata saat kami tiba di Malaka ya memang guest house-guest house di sana letaknya ya di sepanjang tepian sungai semua. Karena bingung tempatnya yang mana, kami bertiga berpencar dan bertanya pada warga sekitar. Aku memilih bertanya pada kakek-kakek berwajah oriental di gang kecil yang tengah duduk sambil berjualan.

Well, walaupun ini 5 tahun lalu tapi aku nggak akan lupa detil percakapannya.
I : Excuse me, do you know xx Guest house?
SK (Sang Kakek) : what do you want to do? (tanya SK dengan wajah jutek)
I : I want to stay overthere (jawabku ragu)
SK : CAN YOU SEE THIS ONE??? (sambil menunjuk pisau jualannya)
I : …………. okay, thank you (buru-buru melipir)

Rupanya sang kakek adalah penjual pisau yang kayaknya sepi pengunjung, mungkin dia sempat khuznudzon kalau aku menghampirinya untuk beli pisau, tapi setelah tahu aku tanya alamat sang kakek jadi makin bĂȘte.
Lesson learned: memang sih malu bertanya sesat di jalan, tapi ada hal yang tak boleh dilupakan yakni bertanyalah pada orang tepat atau sekiranya siap menjawab. Jangan asal tanya!

Guest house hasil asal pilih justru jadi awal pertemuan aku dan Kevin, sahabat--tempat sampah--sekaligus partner jalan-jalan--sampai sekarang

Busan, 2015

Akhirnya kami nggak jadi menginap di guest house yang kami incar sebelumnya, untungnya belum booking. Karena menyerah kami memilih menginap di guest house yang lain. Tapi siapa sangka, guest house tersebut membawaku bertemu Kevin untuk pertama kalinya. Walau di sana kami nggak banyak bertegur sapa, saat kembali ke Indonesia ternyata kami tergabung di organisasi yang sama, BEM KM UGM. Dari sana kami kemudian bergabung ke Komunitas Muda Menginspirasi, yang akhirnya membawaku jadi ketua dan dia wakilnya. Kevin sampai sekarang jadi sahabat sekaligus tempat sampahku curhat galau-galauan, partner jalan-jalan dan partner bikin event-event seru di luar negeri. Ahh, memang ya selalu ada kejadian tak terlupakan dari sebuah perjalanan.


Jadi kapan kamu mulai jalan-jalan dan mengisi cap paspor pertamamu? Nggak perlu yang mahal kok, kamu bisa arrange liburan murah tapi tetap berfaedah.

Selasa, 01 Agustus 2017

Tips Berburu Skincare di Korea


Berburu skincare di Korea adalah salah satu kegiatan seru yang bisa kamu lakukan saat berlibur ke Korea, sekalipun kamu bukan pengguna skincare Korea.

Kalau kamu udah baca tulisan-tulisanku sebelumnya atau follow media sosialku, pasti tahu deh kalau beberapa bulan lalu aku traveling ke Korea. Sebelum berangkat, bukan hanya aku yang antusias, tapi cewek-cewek di sekitarku yang addict sama skincare Korea juga nggak kalah antusias. Skincare Korea memang lagi tren di Indonesia, sayangnya banyak produk-produk terkenal yang belum dijual di Indo, kalaupun ada harganya jauh lebih mahal. Berhubung aku orang yang peduli teman dan suka mengambil kesempatan, jadilah aku buka jasa titip skincare Korea.

Sebagai prempuan yang merasa kurang kekinian karena bukan pengguna skincare Korea, menerima titipan berbagai merek membuatku tertegun. Merek yang aku tau hanya sebatas Nature Republic, Etude, yah paling mentok Innisfree lah, dan ternyata ada yang titip COSRX, Klairs, The Faceshop, Tony Molly, Missha, Park & Son, dan Laneige. Mendengarnya ingin rasanya aku berkata 'wabillahi taufik wal hidayah, wassalammualaikum warohmatullahi wa barokatu' kemudian salim dan pamitan. Itu apaan??? Tapi berhubung lagi-lagi aku orang yang peduli teman dan suka mengambil kesempatan, jadi tetap aku iyakan.

Hampir semua titipan bisa aku temukan, dan akan aku bagikan melalui tulisan ini

Tony Molly, Missha, Nature Republic, Innisfree, Etude House and The Face Shop are everywhere. So, jangan kalap setiap lihat, mending beli di satu tempat!

Kalau kamu pecinta produk-produk ini, datang ke Korea bagai menemukan surga dunia, karena mereka ada di mana-mana. Kamu bisa menemukan Tony Molly dan Missha di hampir semua railway station di pusat kota Seoul, jadi belanja produk ini nggak butuh effort lebih, yah kalo di sini kaya beli permen di Indomaret deh (lebay).

Nature Republic, Etude, The Face Shop dan Innisfree memang nggak bisa kamu temukan di station, tapi cenderung gampang juga ditemukan karena termasuk street store. Jangan heran kalau kamu jalan-jalan ke berbagai tempat dan menemukan store-store tersebut. Tapi, kalau kamu bisa menahan diri untuk nggak beli dulu tiap liat store-nya akan lebih baik sih, saranku mending kamu fokus meluangkan 1 hari yah 2-3 jam boleh lah untuk beli di satu tempat, yaitu Myeong-dong.

Spend more time buat belanja skincare di daerah Myeong-dong, segala jenis produk ada di sana

Myeong-dong yang nggak pernah sepi

Myeong-dong adalah surga belanjanya orang-orang di Korea, segala brand ternama ada di sana, termasuk di antaranya produk skincare.  Mulai dari Etude yang ada dimana-mana sampai COSRX produk baru yang lagi banyak dipuja. Ditambah lagi, untuk merek-merek terkenal kayak Nature Republic dan Etude, store-nya bisa lebih dari satu, jadi kalau jenis produk yang kamu cari di satu store nggak ada kamu bisa cek di store lain yang masih area Myeong-dong.

5 produk ini bisa dibeli di Myeong-dong (store Innisfree, store The Faceshop, dan A Land) 

Untukmu pemuja COSRX dan Klairs kamu jelas nggak bakal nemu store dengan nama yang sama. Tapi tenang, kamu bisa menemukannya di store A Land, yang tentunya ada di Myeong-dong. Sebelumnya sempet nyari dua produk itu di Oliver O'Young di daerah Dongdaemun tapi ternyata nggak ada. Belanja di Myeong-dong emang paling bener dan lengkap deh.

Kesalahan saat berburu skincare yang nggak akan aku lupa adalah sempat nyicil beli titipan Orchid Eye Cream Innisfree di daerah Garosugil, harganya 35.000 won. Besoknya aku ke Myeong-dong dan mampir ke store Innisfree ternyata lagi diskon dan harga eye cream-nya 25.000 won. Sebagai wanita normal pada umumnya, menyaksikan perbedaan harga dengan mata kepala sendiri itu sakitnya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, semacam luka tapi nggak berdarah, semacam cinta tapi nggak berbalas, semacam follow tapi nggak difolbek. Oke ini lebay.

Bukan karena di Myeong-dong lebih murah, bukan, tapi saat itu memang semua store Innisfree lagi diskon hanya dalam satu hari. Sayangnya aku sudah terlanjur beli di hari sebelumnya. Jadi saranku demi menghindari penyesalan-penyesalan yang tidak diinginkan, mending beli semua produk di hari yang sama. At least kalau ada perbedaan harga kamu nggak tau, itu lebih aman, Girls.

Anyeong Bogummy Oppa 
Di Myeong-dong jangan heran kalau banyak oppa-oppa yang nawarin sheet mask gratis (sampe narik-narik tanganmu) biar kamu mampir ke store-nya. Biasanya itu berlaku buat store dengan merek-merek yang kurang dikenal dan sepi pengunjung. Saranku sih kalau ada yang nawarin gitu, masuk aja walaupun nggak beli kan lumayan bisa lihat oppa-oppa. Kapan lagi ada oppa ngejer-ngejer kamu buat ngasih sesuatu, berasa jadi pemeran drama Korea kan? Apalagi kalau di store-nya banyak foto Park Bo-Gum terpampang nyata, jadi nggak ada alasan buat nggak mampir. 

Coba deh buka jasa titip. Selain kamu bisa dapet untung 10-20% kamu bisa dapet banyak sampel produk


sampel produk, gratisan dari hasil titipan

Saat membuka jasa titip, hampir semua titipan mereka terbeli, dan aku lumayan dapat keuntungan 10-20%, padahal harga yang aku tawarkan itu jauh lebih murah dibanding beli di olshop ataupun store di Indo. Selain itu, setiap pembelian produk dalam jumlah besar aku selalu dapat sampel produk. Foto di atas adalah 1/3 sampel produk yang aku dapat, sebagian udah aku pake, sebagian bahkan udah aku kasihin orang saking banyaknya dan aku nggak tau itu buat apa.

Nah keuntungan kalau kamu beli di satu tempat adalah kamu bisa makin banyak dapet sampel produk ketimbang nyicil-nyicil padahal mereknya sama. 

Store Nature Republic di Myeong-dong banyak menyediakan Paket Hemat dengan potongan harga yang gila-gilaan.

diskon parah
Store Nature Republic di Myeong-dong banyak menyediakan golden box dengan potongan harga yang lumayan gila sih. Foto di atas salah satunya, harga normalnya adalah 89.500 won atau hampir 1 juta rupiah. Tapi karena ada diskon paket Golden Box jadi hanya sekitar 400 ribu rupiah. Padahal kalau beli Aqua super max aja itu udah hampir 200 ribu sendiri, gila nggak sih potongannya. Kalau aja saat itu aku udah mau nikah, bakal aku beli nih buat seserahan. Tapi yah, yaudah lah.... 

Don't forget to ask "Tax Free" then claim 'Tax Refund' in the Airport

tax refund, mayan bisa buat jajan
Ini adalah bagian terpenting. Alasan kenapa lebih baik beli di satu store yang sama adalah kamu bisa dapet tax free lebih besar. Untuk pembelian lebih dari 100.000 won which is 1,2 juta rupiah kamu bisa langsung klaim tax free. Kalau kurang dari 100.000 won kamu tetep bisa dapet tax free, tapi ya harus klaim tax refund di bandara. Dan mereka nggak akan semata-mata menawarkan, kamu harus tanya saat membayar ke kasir "can I get tax free?". Setelahnya kamu akan diminta menunjukan paspor. Hanya sekitar 5 menit kamu akan dikasih amplop buat klaim tax refund di bandara, di dalamnya tertera nominal yang kamu dapatkan. Semakin mahal barang belanjaanmu semakin besar tax refund yang kamu dapatkan. yaiyalah

Cara klaim di bandara juga gampang kok, setelah check in dan menuju boarding room kamu akan melewati petunjuk arah 'Tax refund'. Ikutin aja arahnya, saat sampai langsung serahkan amplopnya dan paspormu akan dicek sebentar. Tadaaa tanpa menunggu lama kamu bisa dapet cash back deh. Dapetnya nggak banyak sih tapi lumayan lah bisa buat makan di pesawat, dari klaim tax refund aku dapat 6000 won, itu karena aku belinya nyicil-nyicil nggak di satu tempat langsung beli banyak. Pembelian yang terlalu kecil biasanya nggak dapet tax free. Aku hanya minta tax free saat pembelian lebih dari 30.000 won di tiap store. Kalau belinya sekaligus pasti bisa dapet lebih gede.

Jadi itu aja pengalaman dan sedikit saran yang bisa aku bagikan, semoga bermanfaat ya buat kamu kaum hawa pemuja oppa skincare Korea. Next time kalau aku ke Korea aku siap kok buka jasa titip skincare lagi (tetep ya peduli teman dan mengambil kesempatan). 

Anyeong~
Jejak Kaki Harda. Diberdayakan oleh Blogger.

Jejak Kaki Harda

Catatan perjalanan anak muda (yang nggak muda-muda amat) bernama Harda. Tentang gaya hidup, pengalaman tak terlupakan, dan hal unik yang menarik untuk dikulik~

Send Quick Message

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Recent

Pages